- Presiden Trump mengklaim pembicaraan produktif dengan Iran, namun Teheran membantah, menyatakan itu upaya AS menekan harga minyak dunia.
- Mesir, Turki, dan Pakistan menjadi perantara komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran setelah eskalasi perang sejak 28 Februari 2026.
- Iran menuntut jaminan keamanan, ganti rugi AS, dan aturan baru Selat Hormuz sebagai syarat pascaperang, menolak gencatan senjata saja.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara terbuka mengklaim bahwa Washington tengah melangsungkan pembicaraan "produktif" dengan Iran. Namun, di Teheran, para pejabat Iran dengan tegas menepis klaim tersebut, menyebutnya sebagai berita bohong yang sengaja diembuskan AS sekadar untuk menekan lonjakan harga minyak dunia.
Seperti dilansir dari Al Jazeera, dua sumber diplomatik senior di kawasan tersebut mengungkapkan bahwa komunikasi antara AS dan Iran sejatinya memang terjadi, meski tidak secara langsung. Dalam beberapa hari terakhir, Mesir, Turki, dan Pakistan telah membuka saluran komunikasi sebagai perantara.
Kendati demikian, para ahli memandang skeptis peluang terjadinya gencatan senjata dalam waktu dekat, mengingat jurang pemisah yang teramat lebar antara tuntutan kedua belah pihak.
Sikap para pemimpin Iran justru semakin keras terkait konsesi yang harus mereka dapatkan dari AS. Eskalasi ini memuncak sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu, ditandai dengan serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Aksi Balasan dan Garis Merah Baru Iran
Di medan tempur, AS dan Israel mengklaim operasi militer mereka sukses besar. Pentagon bahkan sesumbar telah menghancurkan 90 persen kapasitas rudal Iran. Namun, Teheran membuktikan sebaliknya. Mereka tetap mampu melancarkan serangan presisi kapan pun mereka mau.
Iran kini mengadopsi taktik "mata ganti mata" untuk memulihkan daya getar militernya. Setelah Israel menyerang ladang gas South Pars di Iran, pasukan Teheran langsung membalas dengan menghantam fasilitas gas utama Qatar pekan lalu, yang melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor Doha.
Demikian pula saat fasilitas nuklir Natanz diserang, Iran menembakkan dua rudal balistik yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam kota Arad serta Dimona, melukai lebih dari 180 orang.
Lebih jauh, Iran tak lagi sekadar menuntut gencatan senjata. Mereka menginginkan tatanan pascaperang yang menjamin keamanan dan pemulihan ekonomi secara jangka panjang. Para pejabat politik dan militer Iran mematok "garis merah" baru: AS harus membayar ganti rugi, memberikan jaminan pasti bahwa Iran tidak akan diserang lagi, dan menyepakati kerangka aturan baru di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima ekspor minyak global yang kini lumpuh akibat ratusan kapal tertahan.
Peneliti senior di Center for International Policy di Washington, DC, Negar Mortazavi, menilai Iran akan memanfaatkan pengaruh ekonominya.
Baca Juga: AS, Meksiko, Kanada Rilis Jersey Anyar Piala Dunia 2026: Adu Keren Nike vs Adidas
“Pengendalian pergerakan di Selat Hormuz ini sekarang memberi mereka ide, ‘mungkin kita bisa mengenakan biaya pelayaran seperti beberapa tempat lain di dunia’, ada diskusi-diskusi semacam itu di Iran,” kata Mortazavi, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/3/2026).
Para analis meyakini Teheran tidak akan melepaskan pengaruh di Selat Hormuz tanpa konsesi yang sepadan, terutama setelah pemerintahan Trump pada Jumat lalu terpaksa mencabut sementara sanksi atas 140 juta barel minyak Iran di laut demi menurunkan harga energi.
Apa yang Diinginkan AS?
Di sisi lain, AS terus berusaha mencegah Iran merakit bom nuklir. Pada Senin lalu, Trump menuntut Iran untuk menyerahkan lebih dari 400 kilogram uranium yang nyaris mencapai tingkat senjata nuklir. Namun, Iran mengklaim persediaan tersebut telah terkubur di bawah reruntuhan fasilitas nuklirnya yang dibom oleh AS sendiri.
Menariknya, tuntutan AS terkait program rudal Iran dilaporkan mulai melunak. Jika sebelumnya Washington menuntut pembongkaran total, sumber diplomatik menyebut AS kini menawarkan agar Iran diizinkan menyimpan 1.000 rudal jarak menengah.
Meski begitu, krisis kepercayaan yang akut membuat diplomasi berjalan di tempat. Iran mengingat rekam jejak Trump yang pernah dua kali mengebom Iran tepat saat utusannya sedang bernegosiasi (pada Juni 2025 dan Februari 2026), ditambah retorika Trump yang kerap menyuarakan pergantian rezim.
Pertanyaan Seputar Para Negosiator Iran
Pertanyaan besar lainnya adalah siapa yang akan memimpin negosiasi dari pihak Iran. Serangan koalisi AS-Israel telah menewaskan banyak petinggi, termasuk Ali Larijani yang selama ini menjadi perantara utama diplomasi.
Berita Terkait
-
AS, Meksiko, Kanada Rilis Jersey Anyar Piala Dunia 2026: Adu Keren Nike vs Adidas
-
Pemain Selandia Baru Tegaskan Dukungan untuk Iran: Mereka Layak di Piala Dunia 2026
-
Arab Saudi dan UEA Diam-diam Bantu Israel dan AS Perangi Iran
-
Rupiah Belum Bangkit Hari Ini, Nyaris Rp 17.000/USD
-
Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!
-
Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan