- Presiden Trump mengklaim pembicaraan produktif dengan Iran, namun Teheran membantah, menyatakan itu upaya AS menekan harga minyak dunia.
- Mesir, Turki, dan Pakistan menjadi perantara komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran setelah eskalasi perang sejak 28 Februari 2026.
- Iran menuntut jaminan keamanan, ganti rugi AS, dan aturan baru Selat Hormuz sebagai syarat pascaperang, menolak gencatan senjata saja.
Sebagai langkah antisipasi, Iran pada Selasa menunjuk mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Bagher Zolghadr, sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang baru.
Analis politik Babak Vahdad menilai penunjukan figur berlatar belakang militer ini merupakan sinyal keras dari Teheran.
“Terus terang saja, ini lebih mirip sistem yang bersiap untuk mengelola konfrontasi berkepanjangan daripada sistem yang sedang mempersiapkan kompromi,” kata Vahdad.
Sementara itu, penundaan serangan lanjutan AS memunculkan spekulasi. Sejumlah pakar menduga Trump sengaja mengulur waktu untuk meredam harga minyak yang telah melonjak 50 persen, sembari menunggu kedatangan ribuan Marinir AS.
Pekan lalu, 2.500 Marinir tiba di Timur Tengah, dan armada USS Tripoli dari Jepang diyakini tengah membawa ribuan pasukan tambahan. Trump bahkan dikabarkan tengah menimbang opsi darat untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor 90 persen minyak Iran.
Seorang profesor ilmu politik dari Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, memberikan pandangan pesimistis terhadap jalur diplomasi.
“Pembicaraan diplomatik adalah satu hal, apa yang saya lihat di lapangan adalah hal lain,” ujar Abdulla.
Ia menegaskan bahwa negara-negara Teluk tidak akan pernah menerima kendali Iran atas Selat Hormuz, karena hal itu akan membuat ekspor energi kawasan tersebut tersandera selamanya.
“Adalah tugas komunitas internasional untuk merebutnya kembali, dan hanya ada satu cara untuk melakukannya, yaitu cara militer,” tambah Abdulla.
Baca Juga: AS, Meksiko, Kanada Rilis Jersey Anyar Piala Dunia 2026: Adu Keren Nike vs Adidas
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
AS, Meksiko, Kanada Rilis Jersey Anyar Piala Dunia 2026: Adu Keren Nike vs Adidas
-
Pemain Selandia Baru Tegaskan Dukungan untuk Iran: Mereka Layak di Piala Dunia 2026
-
Arab Saudi dan UEA Diam-diam Bantu Israel dan AS Perangi Iran
-
Rupiah Belum Bangkit Hari Ini, Nyaris Rp 17.000/USD
-
Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT