- Rupiah ditutup melemah 0,08 persen terhadap dolar AS menjadi Rp 16.911 pada Rabu, 25 November 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen global negatif, seperti konflik Timur Tengah yang terus berlanjut.
- Beberapa mata uang Asia turut melemah, sementara dolar Hong Kong menjadi penguat terbesar di kawasan tersebut.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah masih tunduk terhadap dolar AS pada penutupan pada Rabu, 25 November 2026. Kondisi ini terus bertahan sejak pekan lalu.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 16.911 per dolar AS.
Mata uang Garuda itu pun melemah 0,08 persen dibanding penutupan pada Selasa (17/3/2026) yang berada di level Rp 16.998 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.905 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah tertekan akibat sentimen global, salah satunya konflik Timur Tengah yang terus berkepanjangan.
"Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia masih tertekan terhadap dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Menurut dia, sentimen investor mata uang umumnya masih negatif, bertolak belakang dengan sentimen risiko yang tinggi di pasar ekuitas oleh harapan de-eskalasi di Timur Tengah.
Hal ini merespon laporan bahwa AS telah memberikan Iran sebuah rencana yang dapat mengakhiri konflik tersebut.
"Rupiah diperkirakan masih range-bound dengan potensi melemah dan menguat terbatas, investor masih terus mencermati perkembangan seputar perang timteng dan harga minyak dunia. Range Rp 16.850 - Rp 16.950," tegasnya.
Baca Juga: Rupiah Konsisten Melemah usai Liburan Panjang ke Level Rp16.919 per Dolar AS
Sementara itu, beberapa mata uang Asia juga mengalami pelemahan. Salah satunya, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,45 persen. Disusul, yen Jepang yang ambles 0,29 persen.
Selanjutnya ada won Korea Selatan dan peso Filipina yang sama-sama tertekan 0,27 persen. Diikuti, ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,2 persen.
Berikutnya dolar Singapura tergelincir 0,16 persen dan yuan China terdepresiasi 0,1 persen. Lalu, dolar Taiwan yang ditutup melemah tipis 0,02 persen.
Sedangkan, dolar Hong Kong menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,11 persen. Kemudian ada rupee India yang menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback di sore ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
Terkini
-
Purbaya Pastikan Ada Efisiensi MBG, Negara Hemat Rp 40 Triliun per Tahun
-
Siap-siap! Harga BBM di RI Bakal Melakukan Penyesuaian 1 April 2026
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Selat Hormuz Membara, Emiten BABY Buka-bukaan Nasib Bisnis Pakaian Anak
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
-
Incar Dana Global, Merdeka Gold Resources (EMAS) Mau Listing di Bursa Hong Kong
-
Bos BlackRock Wanti-wanti Harga Minyak US$ 150, Dunia Diambang Resesi Hebat?
-
PT KAI: Arus Balik Belum Capai Puncaknya
-
Tiket KA Lebaran Nyaris Ludes, Penjualan Tembus 96,5 Persen Saat Arus Balik Menguat