News / Internasional
Minggu, 29 Maret 2026 | 09:49 WIB
Iran membatasi akses Selat Hormuz pasca serangan AS-Israel, hanya mengizinkan kapal negara sahabat melintas.
Baca 10 detik
  • Serangan AS-Israel menewaskan Pemimpin Iran memicu pembalasan berupa blokade strategis di Selat Hormuz.

  • Ribuan kapal komersial tertahan di Teluk Persia sementara harga energi dunia melonjak drastis.

  • Iran mengizinkan kapal Indonesia, Malaysia, dan negara sahabat melintas melalui jalur koordinasi diplomatik.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara aktif melakukan komunikasi tingkat tinggi guna membebaskan armada tanker milik negaranya.

Anwar Ibrahim menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas kebijakan yang mengizinkan kapal Malaysia melanjutkan pelayaran.

"Sekarang kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang," kata Anwar dalam pidato di televisi, Kamis (26/3).

Namun, Anwar mengakui bahwa proses diplomasi di tengah situasi perang ini sangat kompleks dan penuh dengan kecurigaan.

"Namun, ini tidak mudah karena Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan," katanya menambahkan.

Langkah serupa diambil oleh Pemerintah Thailand yang berhasil mengamankan jalur pulang bagi kapal tanker Bangchak Corporation.

Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyebutkan bahwa koordinasi teknis telah dilakukan dengan otoritas keamanan di Iran.

Keberhasilan diplomasi ini terlihat saat kapal Bangchak dilaporkan telah keluar dari zona berbahaya Selat Hormuz pada 23 Maret.

Kini, pihak Thailand sedang berupaya mendapatkan izin serupa untuk kapal yang dioperasikan oleh perusahaan SCG Chemicals.

Baca Juga: Perang Klaim AS-Iran: Teheran Tepis Kabar Damai yang Digagas Trump

Bangkok terus menyerahkan rincian manifest kapal secara transparan guna memastikan keselamatan kru dan kargo selama melintasi area konflik.

Negara Bangladesh juga masuk dalam daftar negara yang mendapatkan kelonggaran akses meskipun komunikasi resmi masih terus disempurnakan.

Otoritas terkait di Bangladesh menyatakan bahwa kapal mereka tidak terkena restriksi karena dianggap sebagai negara yang tidak memiliki sentimen permusuhan.

Di sisi lain, Iran juga membuka peluang besar bagi kapal-kapal asal Jepang untuk bisa berlayar melewati Selat Hormuz secara aman.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa koordinasi keamanan menjadi syarat mutlak bagi armada Jepang jika ingin melintas.

"Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka," kata Araghchi dalam wawancara telepon dengan Kyodo News, Jumat (20/3).

Load More