Suara.com - Jalur produksi pangan global saat ini sedang mengalami perubahan drastis karena Bumi menyerap lebih banyak energi daripada yang dilepaskannya. Setiap tahun, World Meteorological Organization (WMO) melacak serangakaian indikator iklim utama dan suhu Bumi, termasuk jumlah karbon dioksida di atmosfer.
Laporan terbaru turut memperkenalkan parameter baru dalam memantau pemanasan global, yakni Ketidakseimbangan Energi Bumi (The Earth’s energy imbalance, atau EEI). Indikator baru ini digunakan untuk mengklarifikasi dinamika mendasar dari pemanasan global dan menyajikannya secara sederhana.
Dikutip dari Grist.org, EEI merupakan selisih antara jumlah energi matahari yang diserap oleh Bumi dengan jumlah energi yang dipancarkan kembali ke luar angkasa. Lebih sederhananya adalah perubahan iklim.
Penulis utama laporan ini, John Kennedy, menjelaskan bahwa indikator ini sangat krusial karena variasi suhu udara tahunan yang dipicu oleh pola cuaca El Niño dan La Niña sering kali mengaburkan tren pemanasan global jangka panjang.
“Selama ketidakseimbangan energi itu masih ada, Bumi akan terus menghangat, es akan terus mencair, dan permukaan laut akan terus naik,” tambahnya.
Lautan sebagai Penampung Utama Energi
Data WMO menunjukkan bahwa penumpukan energi di Bumi bukanlah fenomena baru. Planet ini telah menyimpan lebih banyak panas yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca sejak tahun 1960-an. Namun, intensitas penyerapan ini mencapai rekor baru setiap tahun dalam sembilan tahun terakhir.
Salah satu temuan paling signifikan adalah distribusi panas tersebut, yakni ke mana sebagian besar panas mengalir di Bumi. Menurut WMO, samudra diketahui menyerap 91 persen dari kelebihan energi dalam sistem iklim Bumi.
Profesor environmental science and policy di University of Miami, Jennifer Jacquet, menganalogikan lautan sebagai "spons karbon" untuk menekankan bahwa ekosistem ini memiliki titik jenuh. Ia khawatir bahwa penyerapan panas yang masif oleh laut telah menutupi skala sebenarnya dari perubahan iklim yang terjadi selama abad ini, yaitu banyaknya panas yang diserap daripada yang dipantulkan kembali ke luar angkasa.
Baca Juga: Godzilla El Nino 2026: Alarm Keras dari Bumi yang Mulai Hilang Keseimbangan
Dampak Bagi Ekosistem dan Rantai Pangan
Peningkatan suhu laut yang terus berlanjut membawa konsekuensi signifikan bagi jalur rantai makanan global. Beberapa dampak yang teridentifikasi meliputi lebih banyak pemutihan karang, degradasi habitat, dan penurunan hasil tangkapan ikan.
Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan erosi pantai, di mana secara tidak langsung hal ini dapat menghancurkan mata pencaharian nelayan yang bekerja di sektor perikanan sekaligus bagi manusia dan hewan lain yang sumber makanannya bergantung di ekosistem ini.
Ketika gletser mencair, banjir yang terjadi juga dapat mengganggu pertanian di darat. Dalam hal spesies, seiring dengan menghangatnya lautan, populasi ikan liar cenderung bergerak menuju kutub untuk mencari perairan yang lebih dingin dan kaya oksigen. Fenomena ini dapat merugikan sektor perikanan di wilayah khatulistiwa dan meningkatkan risiko kerawanan pangan di daerah tersebut.
Tantangan Sektor Perikanan Budidaya
Selain perikanan tangkap, gelombang panas laut juga sangat memengaruhi ikan budidaya. Berbeda dengan ikan liar, ikan dalam penangkaran atau keramba tidak memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dan bergerak bebas saat terjadi perubahan kondisi lingkungan secara mendadak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN