- ChildFund International menggelar pertemuan nasional di Jakarta pada April 2026 guna membahas tingginya angka kekerasan terhadap anak.
- Data menunjukkan 42 persen anak mengalami kekerasan domestik dan 28,9 persen menghadapi risiko serius di dunia digital.
- Pemerintah dan organisasi terkait didorong memperkuat sistem perlindungan terintegrasi serta meningkatkan literasi keamanan digital bagi semua anak.
Suara.com - Rasa aman yang dirasakan anak-anak di Indonesia ternyata menyimpan ironi. Di satu sisi, mayoritas anak mengaku merasa aman dalam lingkungannya. Namun di sisi lain, angka kekerasan terhadap anak masih tinggi dan terus berkembang, termasuk di ruang digital yang kian sulit dikendalikan.
Temuan ini mengemuka dalam Pertemuan Nasional Perlindungan Anak yang digelar ChildFund International di Indonesia pada 20–24 April 2026 di Jakarta. Forum lintas sektor ini mempertemukan pemerintah, praktisi, organisasi masyarakat sipil, hingga anak dan orang muda untuk membahas tantangan perlindungan anak yang semakin kompleks.
Data dari program perlindungan anak ChildFund, PRIME (2023–2025), menunjukkan bahwa 89 persen anak merasa aman. Namun, angka tersebut berbanding terbalik dengan fakta bahwa 42 persen anak justru pernah mengalami kekerasan di rumah, dan 28,9 persen menghadapi risiko di dunia digital—mulai dari perundungan siber hingga eksploitasi berbasis teknologi.
“Kita sudah berhasil membangun rumahnya, tapi pintunya belum terbuka bagi mereka yang paling membutuhkan,” ujar Country Director ChildFund International di Indonesia, Husnul Maad.
Secara struktural, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan. Lebih dari 595 komite perlindungan anak berbasis komunitas telah terbentuk, 106 desa memiliki mekanisme perlindungan, dan puluhan sekolah serta institusi telah mengadopsi kebijakan anti-kekerasan. Namun, efektivitasnya masih menjadi persoalan. Hanya 6,8 persen anak yang merasa sistem tersebut benar-benar bekerja untuk mereka.
Dalam sesi wawancara khusus, Reny Haning, Child Protection & Advocacy Specialist ChildFund International di Indonesia, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah kaburnya batasan antara dunia nyata (luring) dan dunia maya (daring).
Reny menilai kesenjangan ini terjadi karena sistem yang belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan anak, baik di dunia nyata maupun digital.
“Anak yang rentan di dunia nyata adalah anak yang paling rentan di dunia maya. Kita tidak bisa mengatasi keduanya secara terpisah, sistem respons harus terintegrasi,” ujarnya.
Menurut Reny, tantangan perlindungan anak kini tidak lagi bisa dilihat secara konvensional. Dunia digital menghadirkan risiko baru yang bergerak cepat, sementara kapasitas perlindungan belum sepenuhnya beradaptasi.
Baca Juga: Waspada Child Grooming, Pengamat Sebut PP Tunas Jadi Senjata Baru Lindungi Anak di Dunia Digital
Berdasarkan temuan di lapangan, risiko digital bahkan sudah menyasar anak usia sekolah dasar. Anak-anak tidak hanya terpapar konten tidak pantas, tetapi juga terlibat dalam interaksi daring yang berpotensi mengarah pada eksploitasi.
“Di beberapa wilayah, anak kelas 4 SD sudah menghadapi risiko online, mulai dari paparan konten pornografi sampai grooming. Ini bukan lagi isu remaja, tapi sudah masuk ke usia yang sangat dini,” jelas Reny.
Ia menambahkan, salah satu pintu masuk kekerasan digital adalah normalisasi perilaku di ruang online, termasuk dalam grup percakapan yang sering digunakan anak untuk kebutuhan sekolah.
“Sering kali anak ikut-ikutan karena takut dikucilkan. Mereka tahu itu tidak nyaman, tapi tetap bereaksi karena tekanan sosial. Dari situ, risiko bisa berkembang,” katanya.
Untuk itu, ChildFund mendorong pendekatan yang lebih komprehensif melalui program PRIDE (Protective and Friendly Environment for Children and Youth) yang dijalankan di delapan provinsi. Program ini mencakup empat pilar utama: perlindungan berbasis komunitas, perlindungan berbasis sekolah, partisipasi anak dalam kebijakan, serta keamanan digital, ditambah penguatan identitas hukum anak.
Pendekatan ini tidak hanya menyasar anak, tetapi juga orang tua dan guru. Literasi digital menjadi kunci penting agar anak mampu melindungi diri, sementara lingkungan sekitarnya dapat berperan sebagai sistem pendukung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL