- Sumartiwi, seorang perempuan berusia 76 tahun, telah berjualan nasi rames di Jalan Kolonel Sugiyono, Yogyakarta, sejak tahun 2001.
- Mbah Tiwi mengelola warung sederhananya secara mandiri dengan memasak menggunakan tiga tungku arang tradisional setiap harinya.
- Meski hidup sebatang kara, ia tetap gigih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung kepada orang lain.
Jarak rumahnya di Kotagede ke lapaknya mencapai sekitar 4 kilometer. Tidak dengan diantar atau menggunakan kendaraan bermotor, ia mengayuh sepeda tuanya setiap hari melintasi jalanan Kota Jogja.
Sekira pukul 08.00 WIB, Mbah Tiwi sudah tiba di lapak sederhananya untuk mempersiapkan semuanya. Proses memasak yang memakan waktu cukup lama karena dilakukan semua sendiri.
Namun sebelum jam makan siang, semua masakannya dipastikan sudah siap untuk dihidangkan.
Saat hujan turun deras, lapak sederhana Mbah Tiwi menjadi titik kebersamaan yang hangat. Biasanya, toko sepatu dan toko lain di sekitar lokasi sudah seperti keluarga.
Mereka kerap membantu memasang terpal saat hujan, bahkan tak jarang ikut melayani diri sendiri saat membeli makanan.
"Sudah sering pada membuat minum kopi, ambil makan sendiri," ucapnya.
Hubungan itu terjalin bukan sekadar antara penjual dan pembeli, melainkan kedekatan yang tumbuh dari waktu ke waktu. Mereka membantu, sekaligus melarisi dagangan Mbah Tiwi.
Pada pukul 04.00 sore, Mbah Tiwi sudah bersiap pulang kembali ke Kotagede.
Semangat Nyata di Usia Senja
Baca Juga: Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'
Di balik segala kesederhanaannya, Mbah Tiwi mencerminkan semangat Kartini masa kini. Tidak dalam ruang besar atau panggung megah, melainkan dalam keseharian yang penuh perjuangan.
Ia bekerja, bertahan, dan mandiri di usia senja, tanpa bergantung pada siapa pun.
Sebelum menekuni usaha kuliner ini bersama suami keduanya, Mbah Tiwi sempat memiliki latar belakang sebagai seorang penjahit. Namun, nasib membawanya ke pinggir jalan untuk menjajakan nasi rames.
Meskipun hasil dagangannya tidak berlimpah, ia merasa cukup.
Sebab hasil tersebut mampu menutup biaya kebutuhan dasar seperti membayar listrik, air, hingga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk rumah yang ia tempati.
"Ya (keuntungan) cukup untuk bayar listrik dan PAM dan PBB, rumah tinggalan simbok (orang tua). Sebulan menyisihkan 300an untuk bayar itu," ungkapnya.
Prinsip kemandirian Mbah Tiwi ini sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini. Ia tidak meminta-minta, melainkan menjemput rezeki dengan tangan sendiri.
Lapak Mbah Tiwi bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang sosial yang penuh kekeluargaan. Para pelanggan di sana sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Meskipun sesekali, ia harus menahan posisi tubuhnya yang semakin condong ke depan, bertumpu pada kekuatan yang tersisa. Namun tak ada tanda ingin berhenti.
Di balik fisik yang renta, ada keteguhan yang tak goyah bahwa selama tangan masih bisa bergerak dan tungku masih bisa menyala, hidup harus tetap berjalan.
Berita Terkait
-
Tanpa Disadari, 10 Hal di Rumah Ini Bisa Menutup Pintu Rezeki Menurut Feng Shui
-
5 Shio Paling Hoki 22 April 2026, Panen Rezeki Tak Terduga
-
Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'
-
4 Shio Paling Beruntung pada 8 April 2026: Siap-Siap Banjir Rezeki dan Kemakmuran
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
- 4 Sepatu Lari Lokal Harga Rp100 Ribuan dengan Ulasan Terbaik, Pas Buat Jogging
- Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Bankir Perempuan Berpengaruh di Jajaran Top Level BUMN
Pilihan
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
Terkini
-
BGN Diguncang Korupsi: Cukupkah Pergantian Pimpinan Selamatkan Program MBG?
-
Bulog Pastikan Beras Bantuan di Bangkalan Diganti Sebelum Disalurkan, Komitmen Jaga Kualitas Bantuan
-
Bulog Gelontorkan Beras SPHP & Percepat Penyaluran Bantuan Pangan untuk Jaga Stabilitas Harga Beras
-
KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim
-
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta
-
Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
-
Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran
-
Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah
-
Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026
-
ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.