- Wamen PPPA Veronica Tan menyoroti fenomena keluarga miskin dengan banyak anak di Jakarta pada Rabu, 8 April 2026.
- Kondisi ekonomi terbatas memicu risiko kemiskinan struktural, terhambatnya tumbuh kembang anak, hingga praktik perkawinan anak di bawah umur.
- Kementerian PPPA meluncurkan program Kebun Pangan Lokal untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga serta memberikan edukasi pola asuh komunitas.
Suara.com - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyoroti fenomena keluarga di Indonesia yang masih memiliki banyak anak di tengah keterbatasan ekonomi.
Veronica menyampaikan hal tersebut usai menghadiri diskusi mengenai pemberdayaan masyarakat dan resiliensi nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menilai pola pikir tradisional yang meyakini banyak anak mendatangkan banyak rezeki justru berpotensi memicu kemiskinan struktural hingga perkawinan anak.
Veronica memaparkan fakta di lapangan mengenai keterkaitan erat antara rendahnya kondisi finansial dengan tingginya jumlah anggota keluarga tanpa dukungan ekonomi yang memadai.
"Kalau kita lihat, fakta yang kita alami terus-menerus itu adalah kejadian yang berulang, sistem yang berulang. Jadi ekonomi nggak ada, si ibu yang kadang masih muda sudah menikah dan banyak anak. Ini masih banyak sekali terjadi," tuturnya.
Veronica juga menceritakan temuannya tentang seorang ibu yang memiliki belasan anak di salah satu wilayah di Jawa Barat.
"Di Tegalwaru aja, saya temukan ada yang ibu punya anak 13," ungkap Veronica.
Menurut dia, banyaknya jumlah anak tanpa sokongan ekonomi yang cukup berdampak langsung pada tidak terpenuhinya kebutuhan dasar serta tumbuh kembang anak.
Kondisi tersebut sering kali mendorong orang tua mengambil jalan pintas untuk mengurangi beban keluarga melalui praktik perkawinan anak.
Baca Juga: Buku Saku 0%, Cara Pemerintah Jelaskan Transformasi Kebijakan Pengentasan Kemiskinan
"Kalau kita lihat jenjang ekonominya nggak cukup, pasti anak 15 tahun belum cukup umur dia akan nikahkan. Nanti anak 15 tahun punya anak lagi, dia juga nggak tahu merawat anaknya seperti apa karena tertekan dengan ekonomi itu. Inilah sebenarnya bubbling yang kita lihat," jelas Veronica.
Tekanan ekonomi di dalam keluarga juga memperbesar risiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Namun di sisi lain, ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah sosial yang berakar dari kemiskinan tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan sinergi lintas sektor.
"Harus nanti itu melibatkan semua. Kemenko Polkam, kepolisian, jaksa, hakim. Tapi balik lagi, ujung-ujungnya karena ekonomi yang nggak ada ini, ekonomi yang kurang, kemiskinan, sehingga stunting terjadi. Itu menyelesaikannya tak semudah membalikkan telapak tangan," ucap Veronica.
Sebagai upaya intervensi, Kementerian PPPA kini meluncurkan program Kebun Pangan Lokal Perempuan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus ekonomi keluarga.
Program ini dirancang sebagai wadah pemberdayaan sekaligus sarana edukasi pola asuh (parenting) bagi para ibu di tingkat komunitas.
"Kami coba menjadikan sebuah komunitas penguatan psikolog secara komunal, menjadi tempat parenting. Tapi di samping itu, kami juga membuat sebuah entry point program pemberdayaan perempuannya. Jadi asupan makanan tidak akan di luar lagi, tapi dari dalam, untuk dalam," pungkas Veronica.
Berita Terkait
-
Buku Saku 0%, Cara Pemerintah Jelaskan Transformasi Kebijakan Pengentasan Kemiskinan
-
Pemerintah Luncurkan Buku Saku 0%, Targetkan Kemiskinan Nol Persen
-
Nyamar Tanpa Lencana dan Pelat RI 1, Blusukan Prabowo di Bantaran Rel Kasih Solusi atau Pencitraan?
-
Apa Untungnya Perang? Analisis Kerugian Tak Terhingga dari Konflik Global Saat Ini
-
Ulasan Film Sun Children: Cahaya Harapan di Tengah Kegelapan Kemiskinan
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Darurat Korupsi! Golkar Desak Evaluasi Total Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Beruntun
-
Mulut Dimasukkan Sepatu! Viral Pengakuan Manajer Bank Ngaku Disiksa Atasan
-
Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul
-
Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD
-
Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!
-
Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing
-
Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU
-
Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal
-
Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!