-
Sebanyak 266 juta orang di 47 negara mengalami kelaparan akut sepanjang tahun 2025.
-
Gaza dan Sudan mencatatkan status kelaparan tertinggi yang pernah dilaporkan secara bersamaan.
-
Konflik bersenjata menjadi penyebab utama krisis pangan yang menghantam 147 juta penduduk dunia.
Suara.com - Laporan Global Report on Food Crises (GRFC) 2026 mengungkap lonjakan drastis angka kelaparan akut yang kini menjerat sekitar 266 juta jiwa di berbagai negara.
Kondisi memprihatinkan ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam meredam dampak konflik bersenjata dan guncangan iklim ekstrem sepanjang tahun lalu.
Dikutip dari Al Jazeera, fenomena ini menandai sejarah kelam karena untuk pertama kalinya status kelaparan ekstrem atau famine dikonfirmasi secara bersamaan di wilayah Gaza dan Sudan.
Penyebaran krisis pangan kini mencapai level yang jauh lebih berbahaya dibandingkan satu dekade lalu dengan tren peningkatan populasi terdampak yang konsisten.
Meskipun cakupan wilayah pemantauan menyusut, intensitas kebutuhan bantuan kemanusiaan di titik-titik krisis justru mengalami penebalan yang signifikan.
Data terbaru menunjukkan sebanyak 1,4 juta jiwa saat ini terperangkap dalam kondisi katastrofe yang merupakan level tertinggi kerawanan pangan.
Gaza menjadi wilayah dengan situasi paling tragis di mana sekitar 32 persen populasinya atau 640.700 orang berada di ambang kematian akibat lapar.
Sudan mengekor di posisi kedua dengan jumlah warga terdampak mencapai 637.200 jiwa seiring eskalasi kekerasan yang memutus akses logistik pangan.
Negara lain seperti Sudan Selatan, Yaman, Haiti, hingga Mali juga mencatatkan ribuan warga yang hidup dalam kondisi kekurangan gizi yang mematikan.
Baca Juga: Mark Ruffalo Geram: Pemimpin Dunia Diam Soal Gaza, Korban Sipil Terus Berjatuhan!
Kematian akibat kelaparan kini menjadi ancaman nyata dengan rata-rata dua jiwa melayang per 10.000 penduduk setiap harinya di zona merah.
Dominasi Konflik Sebagai Pemicu Utama Kelaparan
Kekerasan dan peperangan tetap menjadi faktor tunggal terbesar yang memicu kerawanan pangan akut bagi hampir 150 juta penduduk dunia.
Selain faktor senjata, anomali cuaca yang ekstrem merusak tatanan produksi pangan di 16 negara dan menyengsarakan puluhan juta warga lainnya.
Guncangan ekonomi global turut memperparah keadaan dengan membatasi daya beli masyarakat di wilayah-wilayah yang sudah rentan secara finansial.
Ironisnya di tengah kebutuhan yang melonjak, pendanaan untuk bantuan kemanusiaan internasional justru merosot ke level terendah sejak tahun 2017.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Erick Thohir Ungkap Alasan Kuat di Balik Dukungan ke Infantino Komersialkan Piala Dunia
-
4 Micellar Water Green Tea Solusi Lawan Pemicu Jerawat pada Kulit Berminyak
-
Dari Fashion hingga Kuliner, Begini Wajah Baru Brand Lokal Indonesia
-
Pramono Bakal Minta Pakuwon Lepas Pagar di Kota Kasablanka dan Blok M Plaza
-
BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
-
Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?
-
Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci
-
Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih
-
Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah
-
Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge