Uni Eropa mengalami kerugian biaya impor energi sebesar 25 miliar euro akibat konflik.
Kenaikan harga bahan bakar tidak dibarengi dengan penambahan volume pasokan energi ke kawasan.
Gangguan distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak global.
Suara.com - Perang konflik bersenjata Amerika Serikat vs Iran memaksa Uni Eropa merogoh kocek lebih dalam hingga 25 miliar euro untuk biaya energi.
Anggaran setara Rp505 triliun tersebut terbuang hanya untuk menutupi kenaikan harga tanpa ada tambahan volume energi sedikit pun.
Dikutip dari Sputnik, kondisi ini menempatkan stabilitas ekonomi kawasan dalam tekanan besar akibat ketergantungan pada pasokan bahan bakar fosil luar negeri.
Para pemimpin Benua Biru kini mulai menyusun strategi ketahanan untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika krisis meluas.
Pertemuan di Siprus menjadi momentum penting bagi negara anggota untuk mengevaluasi kerangka keuangan jangka panjang mereka.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa beban finansial ini adalah konsekuensi langsung dari instabilitas geopolitik.
"Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan kita untuk impor bahan bakar fosil telah melonjak lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan energi sedikit pun," kata von der Leyen.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa rapuhnya rantai pasok energi global saat jalur perdagangan utama terganggu.
Selain masalah biaya, Uni Eropa saat ini sedang menggodok langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya kelangkaan listrik massal.
Baca Juga: Ukraina Terancam Krisis Senjata Akibat Amerika Serikat Terlalu Fokus Urus Perang Iran
Otoritas terkait berusaha tetap tenang dengan menyatakan bahwa situasi saat ini belum masuk kategori bencana besar.
Krisis ini semakin memanas setelah adanya aksi militer gabungan yang menargetkan infrastruktur di wilayah Iran.
Serangan yang terjadi pada akhir Februari lalu memicu gelombang balasan terhadap fasilitas militer di kawasan strategis tersebut.
Meskipun sempat ada pengumuman gencatan senjata singkat, kecemasan pasar terhadap keamanan distribusi energi tetap tinggi.
Fokus utama kekhawatiran terletak pada kelancaran lalu lintas kapal tanker yang melewati wilayah Selat Hormuz.
Hambatan di jalur vital ini secara otomatis mendongkrak harga komoditas minyak dan gas bumi di pasar internasional.
Kenaikan biaya ini berakar dari konflik yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah serta serangan udara yang merusak infrastruktur energi.
Penutupan akses atau gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor penentu utama meroketnya harga pasar karena jalur ini merupakan urat nadi pengiriman gas cair dan minyak global ke Eropa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Ulasan Novel Testimony of N: Ketika Kebohongan Menjadi Bentuk Perlindungan
-
Putusan MK soal Anggaran MBG Dinilai Masih Sisakan Celah hingga 2027
-
Bocah SD Diduga Jadi Korban Penganiayaan, Kini Jalani Operasi, Polisi Selidiki Kasusnya
-
Berapa Banyak Warga Sulsel Nikmati Program MBG? Ini Data Kementerian Keuangan
-
Usai Perry Warjiyo Mundur, Prabowo: Kita Harus Jadi Satu Tim yang Mendukung!
-
PN Jaksel Tolak Praperadilan Lodewyk Pusung, Status Tersangka Korupsi MBG Tetap Sah
-
Jatim Media Summit 2026: Ancaman Siber Mengintai Media dan Kreator, Keamanan Digital Jadi Keharusan
-
Mentan Luruskan Klaim Presiden Prabowo soal Penggilingan Padi Untung Rp2 Triliun per Bulan
-
Sudah 26 Tahun Tak Berubah, Mendagri Beri Lampu Hijau Revisi Aturan Gaji Kepala Daerah
-
Bukan Gagal, Penurunan Kepuasan Publik ke Prabowo Disebut Bukti Agenda Bersih-bersih Berjalan