- Sofyan Djalil menyoroti maraknya kriminalisasi kebijakan yang mematikan kreativitas serta keberanian direksi BUMN dalam mengambil keputusan strategis di Jakarta.
- Ketergantungan direksi BUMN terhadap dukungan politik menyebabkan hilangnya independensi profesional dalam menjalankan tugas serta pengambilan keputusan perusahaan negara.
- Sofyan mendorong penegak hukum membedakan risiko bisnis dan niat jahat guna mencegah dampak buruk bagi kemajuan ekonomi nasional.
Suara.com - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2007–2009, Sofyan A. Djalil, mengungkapkan keprihatinannya atas maraknya kriminalisasi kebijakan saat ini.
Menurutnya, fenomena ini berdampak sistemik terhadap nyali para pejabat publik dan direksi BUMN dalam mengambil keputusan strategis demi kemajuan bangsa.
Hal tersebut disampaikan dalam acara "Urun Rembug dan Soft Launching Buku: Kriminalisasi Kebijakan, Menakar Batas Kriminalisasi Kebijakan" yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).
Dalam paparannya, Sofyan menekankan bahwa ketakutan akan jeratan hukum akibat keputusan bisnis atau diskresi birokrasi telah mematikan kreativitas. Ia menilai, aturan yang ada sering kali tertinggal dibandingkan dengan dinamika kebutuhan di lapangan.
"Yang sangat mengkhawatirkan dengan cara penegak hukum kita sekarang hilangnya kreativitas, hilang keberanian membuat keputusan," ujar Sofyan, Selasa (28/4/2026).
Sofyan juga menyoroti akar masalah di tubuh BUMN, yakni kurangnya independensi para petinggi perusahaan. Ia menyebut adanya fenomena "tawaf" atau mencari dukungan politik demi mendapatkan jabatan, yang pada akhirnya menyandera direksi saat harus mengambil keputusan profesional.
"Banyak orang BUMN itu tawaf kiri kanan dulu untuk mengharapkan jadi direksi BUMN. Datang ke partai politik, datang ke mana-mana, minta telepon menteri supaya dipromosikan menjadi direksi BUMN. Itu penyakit yang paling parah," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa direksi yang terpilih karena dukungan politik cenderung tidak independen.
"Karena saya mengatakan kalau misalnya Anda sudah tawaf kiri kanan jadi direksi BUMN, maka Anda tidak pernah independen. Utang Anda telah terlalu banyak," tambahnya.
Baca Juga: Fenomena Kriminalisasi Kebijakan, Aparat Diingatkan Jangan Komersialisasi Kasus
Diskresi vs Pelanggaran Aturan
Menariknya, Sofyan membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai menteri. Ia mengaku pernah mengambil langkah yang secara teknis melanggar undang-undang demi mencapai tujuan yang lebih besar dan efisien bagi negara, seperti saat proses tender frekuensi 3G dan pembebasan lahan. Namun, ia menekankan pentingnya transparansi dan dokumentasi hukum yang kuat.
"Saya sebagai menteri berkali-kali saya langgar undang-undang, tapi saya tulis. Waktu saya tender frekuensi, Itu melanggar undang-undang. Caranya gimana? Bikinlah minute of meeting semua rapat kabinet. Bikin minute of meeting dan rapat kabinet menyetujui," jelasnya.
Ia mencontohkan, dalam kasus tender frekuensi, keberanian mengambil keputusan tersebut justru berhasil menyelamatkan kepentingan negara.
"Itu cara yang paling efisien, di samping menyelesaikan masalah Telkom, Indosat, dan XL juga kita mendapatkan uang waktu itu 16 triliun dari hasil tender semua itu," ungkapnya.
Pesan untuk Penegak Hukum
Terkait maraknya kasus hukum yang menjerat pejabat, Sofyan mendorong adanya perbaikan kualitas pendidikan bagi aparat penegak hukum agar mampu membedakan antara risiko bisnis (Business Judgment Rule) dengan niat jahat (mens rea).
"Saya merasakan ya, dengan namanya pendidikan yang proper, pelatihan yang proper, itu orang yang nakal, yang mindset-nya itu sudah rusak dari awal, tapi pada umumnya kalau tercerahkan, manusia tercerahkan itu akan bisa membedakan antara yang benar dan yang salah," tuturnya.
Sofyan memperingatkan jika iklim ketakutan ini terus dibiarkan, maka biaya yang harus dibayar oleh negara akan sangat mahal karena mandeknya pengambilan keputusan.
"Kalau masalah ini tidak kita atasi, negeri ini akan jadi para pejabat itu akan manut aturan, kalau ada undang-undang lakukan kalau nggak ndak lakukan. Cara yang paling bagus akhirnya nggak bikin keputusan, padahal cost-nya menjadi sangat mahal bagi bangsa kalau kita tidak bikin keputusan," pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Fenomena Kriminalisasi Kebijakan, Aparat Diingatkan Jangan Komersialisasi Kasus
-
Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?
-
Setelah Ada Kecelakaan KRL, BP BUMN Baru Evaluasi KAI Secara Menyeluruh
-
Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Prabowo Intruksikan Ini
-
Krakatau Steel Bukukan Laba Bersih 4,6 Juta Dolar AS di Kuartal I-2026
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim
-
Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih