- Dosen UMY Ahmad Sahide menyatakan Indonesia dan negara ASEAN belum memiliki kapasitas ekonomi dan militer untuk menengahi konflik global.
- Kawasan Asia Tenggara saat ini hanya berperan sebagai penyerap dampak negatif, terutama terkait gangguan rantai pasok energi dunia.
- Indonesia perlu memperkuat diplomasi multilateral di PBB karena posisi tawar saat ini belum cukup memengaruhi dinamika politik internasional.
Suara.com - Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide menyoroti kekuatan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Menurutnya Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara belum memiliki kapasitas memadai untuk memainkan peran substantif dalam penyelesaian konflik bersenjata tersebut.
Alih-alih menjadi mediator atau kekuatan penyeimbang, kawasan ini cenderung hanya menjadi penyerap dampak dari konflik yang berimbas secara global tersebut.
"Kita tidak punya kekuatan ekonomi dan militer untuk memaksa mereka mendengarkan kita. Kita hanya bisa menjadi pain absorber atau penyerap dampak dari konflik ini," kata Sahide, dikutip, Minggu (3/5/2026).
Status Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia tidak lantas memposisikan Indonesia lebih berpengaruh dalam konflik di Timur Tengah itu.
Sahide mengakui bahwa secara solidaritas keagamaan, Indonesia memiliki kedekatan emosional dengan Iran. Namun, kedekatan tersebut tidak serta-merta dapat diterjemahkan menjadi pengaruh politik di tingkat global.
"Dalam hubungan internasional, yang didengar adalah kekuatan, baik ekonomi maupun militer, bukan semata legitimasi moral," tegasnya.
Ia menilai posisi Indonesia dalam geopolitik global saat ini belum cukup kuat untuk memengaruhi dinamika konflik. Terlepas dari Indonesia yang merupakan anggota G20 dan memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Kekuatan tersebut, disebut Sahide, masih belum sebanding dengan negara-negara besar yang terlibat langsung dalam konflik.
Baca Juga: Pengamat Ingatkan Risiko Selat Malaka Jadi Arena Konflik, ASEAN Diminta Bertindak Cepat
"Negara-negara besar tidak akan mendengarkan kita jika kita tidak memiliki kekuatan yang sebanding," tambahnya.
Melihat lebih luas yakni dalam konteks regional, Sahide bilang bahwa ASEAN menghadapi keterbatasan serupa. Prinsip nonintervensi dan pengambilan keputusan berbasis konsensus yang dianut ASEAN justru membatasi kemampuan organisasi tersebut untuk mengambil sikap tegas dalam krisis internasional.
Meskipun di sisi lain hal itu dapat menjaga stabilitas internal. Alhasil, suara ASEAN kerap tenggelam di tengah dominasi kekuatan besar dalam percaturan global.
Lebih lanjut, disampaikan Sahide bahwa dampak paling nyata bagi kawasan Asia Tenggara adalah gangguan pada rantai pasok energi global.
"Tekanan moral dari dalam negeri tanpa didukung daya tawar riil di panggung internasional tidak akan mengubah jalannya konflik secara signifikan," ujarnya.
Sahide menilai Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara masih memiliki ruang untuk berkontribusi, terutama melalui jalur diplomasi multilateral di PBB.
Namun, langkah diplomasi ini memerlukan dukungan nyata agar memberikan dampak yang signifikan. Efektivitasnya tetap sangat bergantung pada kesediaan negara-negara besar untuk menghormati mekanisme internasional tersebut.
Berita Terkait
-
Bareng Ed Sheeran, Elkan Baggott Rayakan Ipswich Town Promosi ke Premier League
-
BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional
-
Sharp Indonesia Pamer Teknologi Ramah Lingkungan di Hari Bumi 2026
-
BPJS Kesehatan - Persi Perkuat Kolaborasi Strategis Keberlanjutan Program JKN untuk 5 Tahun ke Depan
-
Arah Angin Berubah! Posisi Tawar Mees Hilgers Kini Pahit, FC Twente Semringah
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Diperiksa KPK 7 Jam! Bos Maktour Fuad Hasan Cuma Ketawa Ditanya Soal Illegal Gain Rp27,8 M
-
Bos Maktour Bantah Ada Transaksi untuk Dapat Kuota Haji Tambahan
-
Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG
-
Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi
-
MBG Jangan 'Makan' Hak Guru dan Beasiswa dari Anggaran Pendidikan!
-
Presiden Setujui Anggaran Rp 100,1 Triliun untuk Rehabilitasi Pascabencana di Tiga Provinsi Sumatra
-
Bukan Sekadar Pertemuan Biasa, Ini Agenda Utama Prabowo Panggil Bos Himbara hingga Rosan ke Istana
-
Kabar Baik! 97 Persen Huntara Rampung, Pengungsi di Aceh-Sumbar Tak Lagi Tinggal di Tenda
-
PDIP Sindir Balik Jazilul PKB: Apa Anda Galau Ingin Adu Domba Kami dengan Pemerintah?
-
Kasus Hanania Travel: Awkarin Tunda Pemeriksaan Saksi dan Davina Karamoy Diperiksa Polisi