- Eskalasi konflik Timur Tengah dan kebijakan luar negeri Indonesia berpotensi memicu ketegangan diplomatik dengan China di kawasan strategis.
- Purnomo menilai rencana kerja sama militer Indonesia dengan Amerika Serikat dapat menggeser posisi netral menjadi keberpihakan geopolitik global.
- Indonesia harus menjaga prinsip bebas aktif agar tidak terjebak dalam perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus meningkat dinilai berpotensi memengaruhi arah politik luar negeri Indonesia, terutama dalam posisi di tengah persaingan Amerika Serikat dan China.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menolak kesepakatan gencatan senjata dengan Iran di tengah situasi kawasan yang belum stabil.
Di sisi lain, laporan Al Jazeera menyebut Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel serta sejumlah tokoh Hamas, yang memperpanjang kompleksitas konflik di kawasan tersebut.
Menanggapi situasi itu, mantan Direktur Intelijen BAIS TNI Brigjen (Purn) Purnomo menilai dinamika Timur Tengah tidak lagi sekadar konflik regional, tetapi telah masuk ke ranah geopolitik global yang berdampak pada Indonesia.
Ia menyoroti sejumlah kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk rencana keterlibatan dalam Board of Peace dan persetujuan Agreement on Reciprocal Trade (ART), yang menurutnya dapat dipersepsikan sebagai kedekatan dengan kebijakan Amerika Serikat di bawah Donald Trump.
Bagi Purnomo, kondisi tersebut berpotensi memicu ketegangan baru dalam relasi Indonesia dengan China, terutama di kawasan strategis seperti Laut China Selatan yang berdekatan dengan Selat Malaka.
Salah satu yang ia soroti adalah wacana atau izin lintas wilayah udara yang sebelumnya mengemuka pada April 2026.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono kala itu menyebut perlunya kajian lebih lanjut sebelum keputusan diambil.
Menurut Purnomo, kebijakan semacam itu memiliki implikasi geopolitik yang tidak sederhana.
Baca Juga: Pakar Sebut Parpol Pamer Kesetiaan ke Prabowo Cuma Kedok: Haus Kekuasaan Demi Modal Finansial
"Bukan negara netral. Ada keberpihakan, kan," ujarnya dalam podcast Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (12/5/2026).
Ia menggambarkan Indonesia berpotensi menjadi “medan silang kepentingan” kekuatan besar dunia, jika tidak menjaga posisi secara hati-hati.
Dengan menggunakan analogi Padang Kurusetra, Purnomo menyebut Indonesia bisa saja menjadi arena perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China.
Ia juga menyinggung pengalaman konflik di kawasan lain sebagai peringatan, seperti Ukraina, Palestina, hingga Iran, yang menurutnya menunjukkan pola keterlibatan kekuatan besar dalam berbagai konflik regional.
"Negara besar itu tidak akan pernah mau negaranya menjadi tempat perang," ujarnya.
Lebih jauh, Purnomo menilai bahwa kepentingan strategis Amerika Serikat di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah dan Amerika Latin, kerap berkaitan dengan penguasaan sumber daya alam, terutama energi seperti minyak.
Ia menyebut keberadaan pangkalan militer AS di kawasan tertentu juga tidak lepas dari upaya menjaga kepentingan geopolitik dan ekonomi global.
Dengan dinamika yang terus berkembang, ia menilai Indonesia perlu berhati-hati menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif agar tidak terseret dalam polarisasi kekuatan besar dunia.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL
-
Gus Ipul Apresiasi Jawa Timur, Provinsi Dengan Sekolah Rakyat Terbanyak
-
Kaesang Pangarep Hadiri Pelantikan Pengurus DPD PSI Mesuji, Targetkan Satu Kursi di Setiap Dapil
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang