- Ridho Al-Hamdi, Guru Besar UMY, menilai loyalitas partai politik Indonesia cenderung cair dan pragmatis demi kepentingan kekuasaan.
- Partai politik enggan menjadi oposisi sejati karena ketergantungan terhadap sumber daya finansial dan kebutuhan menjaga pengaruh politik praktis.
- Kondisi politik nasional diprediksi tidak akan berubah signifikan dalam satu dekade ke depan akibat dominasi aktor lama.
Suara.com - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menanggapi fenomena klaim kesetiaan partai politik dalam koalisi pemerintahan.
Belum lama ini, pernyataan itu dikeluarkan oleh Ketua Umum PAN yang memamerkan kesetiaannya mendukung Prabowo Subianto selama 15 tahun terakhir.
Meski PAN konsisten mendukung Prabowo dalam tiga edisi Pilpres, catatan sejarah menunjukkan partai tersebut tetap bergabung ke dalam gerbong pemerintahan Jokowi pasca-kekalahan Prabowo di periode sebelumnya.
Ridho menilai hal ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam politik Indonesia bersifat sangat cair dan pragmatis.
"Ya partai politik di Indonesia itu kan gitu ya nggak murni benar-benar menjadi petarung ya semuanya tetap merapat ke kekuasaan," ujar Ridho kepada Suara.com, Senin (11/5/2026).
Disampaikan Ridho, bahwa sistem kepartaian di Indonesia saat ini tidak memiliki figur atau institusi yang benar-benar berani mengambil peran sebagai oposisi sejati.
Bahkan, partai besar yang sebelumnya identik dengan posisi berseberangan pun dinilai mulai melunak terhadap kekuasaan.
Ia menyoroti bagaimana mentalitas para aktor politik lebih condong untuk mencari aman di dalam lingkaran pemerintahan. Tujuannya demi menjaga keberlangsungan logistik dan pengaruh politik praktis.
"Jadi partai politik di Indonesia ini nggak ada yang main punya mental menjadi oposisi sejati," tegasnya.
Lebih lanjut, Ridho mengungkapkan penyebab utama di balik fenomena haus kekuasaan ini.
Baca Juga: Sodorkan Konsep MLPR, Pakar UMY Ridho Al-Hamdi Usulkan 'Omnibus Law Politik' yang Terbuka
Menurutnya, ketiadaan modal yang kuat di luar lingkar kekuasaan membuat partai-partai politik merasa perlu untuk selalu berada di posisi strategis dalam pemerintahan.
Ketergantungan terhadap sumber daya finansial menjadi alasan mendasar mengapa partai politik di Indonesia enggan berada di luar pemerintahan dalam waktu yang lama.
"Menurut saya partai-partai politik di Indonesia ini nggak punya modal kuat untuk menjadi oposisi, semuanya haus dengan kekuasaan yang melahirkan modal finansial, semuanya pengen posisi, semuanya pengen uang, semuanya pengen modal gitu," tegas Dekan Fisipol UMY tersebut.
Melihat kondisi tersebut, Ridho memprediksi bahwa lanskap politik nasional tidak akan banyak berubah dalam satu dekade ke depan.
Selama susunan aktor dan sistem yang berjalan masih diisi oleh wajah-wajah lama, budaya politik pragmatis akan terus mendominasi.
"Iya betul kalau melihat situasinya begini akan sampai 10 tahun ke depan bahkan nggak akan ada perubahan yang signifikan kalau orang-orangnya itu-itu aja," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Sodorkan Konsep MLPR, Pakar UMY Ridho Al-Hamdi Usulkan 'Omnibus Law Politik' yang Terbuka
-
Garudayaksa FC Jadi Sorotan Usai Naik Kasta, DPR: Juara Karena Kualitas, Bukan Perintah Presiden!
-
Garuda Yaksa FC Lolos ke Liga 1, DPR Sebut Prestasi Diraih Murni dari Lapangan
-
Ada Apa dengan Danantara? Lembaga Raksasa Prabowo Sembunyikan Laporan Penting
-
Keponakan Prabowo Sebut Ekonomi Global Masuk Zona Bahaya
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Misteri 'Kamar Khusus' dan Keterlibatan Pendukung Ashari dalam Kasus Kekerasan Seksual Santri Pati
-
Cuaca Buruk Hantui Piala Dunia 2026: Panas Terik, Badai Petir Hingga Kualitas Udara Buruk
-
Skakmat Rocky Gerung, Jaksa Ungkap Nadiem Sengaja 'Tutup Telinga' ke Dirjen demi Gol-kan ChromeOS
-
Balas Rocky Gerung Soal Grup WhatsApp Nadiem, Jaksa: Apa Tak Ada Orang Pintar di Kemendikbudristek?
-
Modus Adonan Tepung, WNA India Sembunyikan Emas Rp700 Juta di Celana Dalam
-
Sodorkan Konsep MLPR, Pakar UMY Ridho Al-Hamdi Usulkan 'Omnibus Law Politik' yang Terbuka
-
Sebut White Collar Crime, Jaksa Heran Harta Nadiem Naik Rp4,8 T Saat GoTo Rugi
-
Soroti Kematian Anak dan Warga Sipil di Dogiyai, Mahasiswa Papua Ajukan 19 Tuntutan ke Pemerintah
-
Polda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Jumbo, 20 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi Disita
-
Selly Gantina Soroti Temuan 11 Bayi di Sleman, Minta Negara Utamakan Perlindungan Anak