- Widarta menilai masyarakat desa tetap terdampak fluktuasi dolar karena ketergantungan impor pada kebutuhan pokok seperti kedelai untuk tempe.
- Kenaikan nilai tukar dolar berisiko memicu inflasi harga barang atau pengurangan kuantitas produk yang memberatkan ekonomi masyarakat luas.
- Pemerintah perlu memperkuat APBN serta menunda program besar yang tidak mendesak guna menjaga stabilitas ekonomi nasional saat ini.
Suara.com - Pengamat ekonomi dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Widarta, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat desa yang tidak menggunakan dolar dan keyakinan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap kuat di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.
Menurut Widarta, masyarakat desa memang tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar. Namun, banyak kebutuhan pokok yang dikonsumsi tetap bergantung pada rantai pasok impor sehingga ikut terdampak fluktuasi kurs.
"Benar bahwa masyarakat di desa tidak terlalu berpengaruh untuk menggunakan transaksi rupiah tapi satu yang ingat bahwa beberapa komponen yang ada di desa itu juga terpengaruh oleh impor dan ekspor, impor dan ekspor berarti terpengaruh oleh dolar," kata Widarta saat dihubungi Suara.com, Minggu (17/5/2026).
Ia mencontohkan tempe sebagai makanan tradisional yang sangat lekat dengan masyarakat desa. Meski dianggap produk lokal, bahan baku utama seperti kedelai masih banyak bergantung pada impor.
Widarta menjelaskan dampak kenaikan dolar pada akhirnya akan terlihat pada harga barang. Jika harga tidak dinaikkan, produsen kemungkinan akan mengurangi ukuran atau kuantitas produk agar tetap bisa bertahan.
"Efeknya nanti tempe itu akan harga naik, kalau enggak harga naik berarti nanti pasti produsen akan memperkecil barangnya atau kuantitasnya," ujarnya.
Tak hanya tempe, Widarta menilai sektor lain seperti obat-obatan dan kebutuhan pokok lain juga menghadapi persoalan serupa.
"Nah, yang penting bukan itu (memberikan pernyataan seolah menenangkan), yang penting adalah bagaimana pemerintah tetap harus menjaga barang tetap ada, harga tetap normal pada khususnya pada barang-barang kebutuhan pokok," tegasnya.
Jika masyarakat mulai merasa khawatir terhadap kenaikan harga dan kelangkaan barang, kata Widarta, kondisi itu bisa memicu panic buying yang justru memperburuk situasi ekonomi di lapangan.
Baca Juga: Pastikan MBG Lanjut Terus, Prabowo: Ini Program Strategis untuk Rakyat
Ia turut menyoroti posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang harus menjadi bantalan menghadapi lonjakan kurs dolar dan kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi geopolitik global seperti konflik di Timur Tengah yang belum mereda juga dinilai ikut memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
"Oke, sementara ini baik-baik saja, tetapi itu membutuhkan bantalan APBN yang tinggi. Kalau kita ingat ya, kurs Dolar itu di APBN dianggaran kisaran Rp16.500-an, sekarang udah di posisi Rp17.500 lebih," jelasnya.
Widarta menyebut pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih konkret, termasuk mengevaluasi sejumlah program besar seperti MBG maupun Koperasi Merah Putih agar tidak membebani fiskal bila belum benar-benar siap dijalankan.
"Saya kira pemerintah harus memperhatikan pendapat dari masyarakat. Misalnya MBG sebaiknya ya ditunda dulu atau dimoratorium dulu. Kemudian juga Koperasi Merah Putih ya kalau memang strukturnya belum lengkap, belum siap, ya sebaiknya tidak usah tergesa-gesa," tandasnya.
Berita Terkait
-
Pastikan MBG Lanjut Terus, Prabowo: Ini Program Strategis untuk Rakyat
-
Tinggalkan Pupuk Impor, Prabowo Instruksikan Implementasi Inovasi Batu Bara dan Briket Jagung
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Tak Kuat Berdiri Lama, Prabowo Request Mobil Khusus Sapa Rakyat
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Ada Pihak Bantu Bupati Kuansing Saat OTT, KPK Sempat Kehilangan Jejak
-
Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
-
Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan
-
Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Bertambah, 3 Taruna Meninggal Dunia
-
Diduga Didiskriminasi Sekolah, Pendidikan Siswa Disabilitas Psikososial Ini Terancam
-
Terdakwa TPPU Sebut Ada Permintaan Dana Pilpres Rp21,5 M, Nama Eks Pangdam Terseret
-
Label A-D Dinilai Membingungkan, BPOM Diminta Revisi Peraturan Nilai Gizi
-
Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!
-
Parkir Ditutup Tenda Didirikan, PN Jaktim Antisipasi Massa Pendukung Sidang Perdana dr Tifa
-
Dari Pajero ke Land Cruiser, Bupati Kuansing Disebut 'Main' Jual Beli Jabatan Sejak 2021