- Perum Bulog menyalurkan SPHP jagung untuk membantu peternak ayam menekan biaya produksi pakan.
- Harga jagung yang tinggi memicu kenaikan biaya produksi telur yang berdampak pada keterjangkauan sumber protein bagi masyarakat luas.
- Program SPHP jagung bertujuan menstabilkan harga telur agar kebutuhan gizi masyarakat tetap terjaga dan mencegah risiko malnutrisi anak.
Suara.com - Beberapa butir telur ayam tersisa di rak dapur Erni. Ia menghitungnya ulang sebelum berangkat belanja ke pasar dekat rumahnya di Bantul, memastikan persediaan sumber protein untuk kedua anak balitanya hari itu cukup.
Sebulan lalu, Erni sempat mengurangi jumlah telur yang dibeli karena harganya melonjak saat lebaran. Dari biasanya sekitar Rp25 ribu per kilogram, harga telur naik menjadi Rp32 ribu dan membuat pengeluaran dapurnya ikut berubah.
Padahal, telur menjadi sumber protein utama yang selalu hadir di meja makannya. Selain mudah diolah, harganya dianggap paling mungkin dijangkau dibanding sumber protein hewani lain yang ikut merangkak naik.
"Pusing kalau harga telur naik," kata Erni saat berbincang dengan Suara.com, Senin (11/5/2026).
Kondisi serupa dirasakan Nia, ibu rumah tangga lain di Yogyakarta. Anak semata wayangnya sempat didiagnosa gizi kurang karena berat badannya yang sulit bertambah.
Setelah mendapat pemantauan dari tenaga kesehatan di Puskesmas, ia mulai memperbaiki isi piring makan anaknya dengan menambah jumlah protein hewani. Telur ayam tak pernah absen dari menu makan harian anaknya.
"Pas harga telur naik terasa banget, tapi mau nggak mau dibeli, yang paling terjangkau cuma itu," kata Nia.
Dietisien Sentra Medika Hospital Minahasa Utara, Adelwais Febriati Yurni, S.Gz, Dietisien mengatakan, stabilitas harga telur ikut memengaruhi kualitas konsumsi protein harian masyarakat, terutama anak-anak. Berbeda dengan daging sapi yang masih dianggap sebagai bahan pangan premium karena harganya relatif mahal, telur lebih mudah diakses dan dikonsumsi setiap hari.
"Kalau harga telur naik, kemungkinan masyarakat akan menilainya sebagai barang mewah seperti daging sapi. Dampaknya masyarakat nggak bisa beli, asupan protein jadi rendah," ujar Adel kepada Suara.com.
Merujuk Angka Kecukupan Gizi Kementerian Kesehatan, anak usia 1–3 tahun membutuhkan sekitar 20 gram protein per hari, sedangkan anak usia 4–6 tahun membutuhkan sekitar 25 gram protein per hari. Sementara satu butir telur mengandung sekitar 6,3-7 gram protein.
Kekurangan asupan protein dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan anak, menurunkan imunitas, gangguan kognitif hingga berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat secara umum.
"Menjaga harga telur bukan cuma masalah ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas sumber daya manusia dan generasi mendatang," kata Adel.
Di balik fluktuasi harga telur, ada komoditas yang ikut menentukan biaya produksinya, yakni jagung pakan. Ketika harga jagung naik, biaya produksi peternak ikut naik dan berdampak pada stabilitas harga telur di pasaran.
Sejak akhir 2025, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai menyalurkan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung untuk peternak ayam petelur mandiri. Program ini ditujukan untuk membantu peternak menekan biaya pakan di tengah tingginya harga jagung.
Data Bapanas per 12 Mei 2026 menunjukkan harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.848 per kilogram atau 18,07 persen di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp5.800. Di saat bersamaan, harga telur justru turun hingga di bawah Rp25 ribu per kilogram, lebih rendah dari HAP telur sebesar Rp26.500.
Berita Terkait
-
Peternak Kecil Terjepit di Tengah Monopoli dan Kebijakan
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan
-
Harga Pangan Hari : Cabai hingga Daging Ayam Turun Tajam, Bawang Merah dan Gula Premium Justru Naik
-
Setelah BBM Naik, Harga Cabai dan Telur Turun Tajam, Beras Justru Bikin Khawatir
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen
-
Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi