- Militer Israel mencegat kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla milik Indonesia di perairan internasional dekat Siprus pada Senin, 18 Mei.
- Global Peace Convoy Indonesia melakukan koordinasi dengan tiga kantor perwakilan RI untuk memantau kondisi dan evakuasi sembilan WNI.
- GPCI memberikan pendampingan kepada pihak keluarga sambil memastikan status keamanan sembilan relawan dan jurnalis yang berada di kapal.
Suara.com - Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bergerak cepat merespons insiden pencegatan (intersepsi) yang dilakukan militer Israel terhadap sejumlah armada kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dari Indonesia di perairan internasional dekat Siprus, Senin (18/5).
Pengarah GPCI, Ahmad Juwani, menyatakan pihaknya belum bisa memastikan jumlah WNI yang dinyatakan diculik oleh militer Israel dalam tindakan intersep tersebut.
"Kita sekarang ini akan memantau dulu secara lebih clear, secara lebih tegas, siapa saja yang benar-benar akhirnya diculik dan siapa yang tidak diculik dari tim GPCI, tim Indonesia. Ini untuk memastikan apa yang perlu kita lakukan," kata Ahmad dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (18/5/2026).
GPCI mengonfirmasi telah melakukan koordinasi intensif dengan tiga Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di wilayah terdekat sebagai langkah antisipasi evakuasi apabila sembilan WNI yang berada di kapal tersebut berhasil diselamatkan.
"Secara umum kita sudah berkontak dengan KJRI di Istanbul, kemudian kedutaan kita di Yordania, dan kedutaan besar kita di Mesir. Kenapa tiga negara ini kita prioritaskan, karena patut diduga nanti kalau dibebaskan akan dibebaskan melalui tiga negara ini," imbuhnya.
Ahmad menjelaskan, koordinasi dengan tiga titik diplomasi ini sangat krusial mengingat situasi di laut internasional yang dinamis dan rute evakuasi medis atau pemulangan yang bisa beralih ke beberapa wilayah aman di Timur Tengah maupun Turki.
Dia menuturkan bahwa pihaknya telah bersiap melakukan pendampingan apabila para WNI itu berhasil dibebaskan.
"Kita akan menyiapkan semacam sambutan atau pendampingan saat teman-teman kita nanti dibebaskan. Dan kita juga di Indonesia, khusus kepada keluarga-keluarga tim Indonesia ini, kita melakukan pendampingan. Karena beberapa di antaranya sudah mulai gelisah dan terus bertanya-tanya. Terutama keluarga dekat mereka, misalnya ibunya, itu sudah mulai gelisah, termasuk istrinya juga," pungkasnya.
Sebagai informasi, sembilan WNI yang berada di armada kapal kemanusiaan tersebut terdiri dari relawan lembaga filantropi domestik seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, dan SMART 171, serta sejumlah jurnalis dari media nasional Indonesia yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
Baca Juga: DPR Dukung Pemerintah Desak PBB dan AS Segera Bebaskan Jurnalis RI yang Ditahan Israel
Berita Terkait
-
DPR Dukung Pemerintah Desak PBB dan AS Segera Bebaskan Jurnalis RI yang Ditahan Israel
-
Kapal Global Sumud Flotilla Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak Tentara Israel!
-
Isu Transfer Data WNI ke AS di Kesepakatan Prabowo Trump, Menkomdigi Buka Suara
-
Dari Nakba 1948 hingga Reruntuhan Gaza: Kisah Pilu Pria Palestina yang Terusir dari Tanah Airnya
-
AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Gelombang Panas Ekstrem Serang New York, Samai Rekor Suhu Terpanas 60 Tahun Silam
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen