- Rocky Gerung menyoroti kegagalan reformasi dan transisi demokrasi dalam acara diskusi kampus di UII Yogyakarta pada 22 Mei 2026.
- Ia mengkritik gejala pelibatan militer dalam ranah sipil yang dinilai dapat menciptakan rasa aman semu bagi masyarakat Indonesia.
- Rocky menegaskan perlunya memperkuat argumen dan nilai sipil melalui forum diskusi untuk mengembalikan semangat demokrasi yang mulai melemah.
Suara.com - Cita-cita reformasi lahir dari kepercayaan masyarakat pada nilai-nilai demokrasi. Karena itu, kepercayaan masyarakat terhadap cita-cita reformasi sepantasnya juga menjadi ruh bagi setiap periode pemerintahan.
Namun, pandangan berbeda disampaikan akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung. Ia menilai ada ketidakpercayaan terhadap masyarakat, serta perlunya adanya pihak yang didiskualifikasi dalam situasi politik saat ini.
“Kondisi ini mengingatkan kita pada situasi pada 1998, ketika kegelisahan yang sama dihadapi Soeharto. Lalu diambil keputusan step down (pengunduran diri), lalu kita tepuk tangan. Padahal tepuk tangan kita itulah yang merusak arah gerakan mahasiswa pada waktu itu,” ucapnya.
Ia menjelaskan, sebelum reformasi, ideologi mahasiswa saat itu adalah “revolusi”. Kemudian istilah “reformasi” — yang menurutnya memiliki makna lebih lembek — menggantikan “revolusi”.
Rocky menjelaskan, revolusi berarti perubahan kimia dan kualitatif yang bersifat total. Sedangkan reformasi adalah perubahan fisika yang berfokus pada perubahan ciri-ciri.
“Jadi kita gagal mempertahankan genealogi (asal-usul) dari gerakan ini,” katanya dalam acara “Terus Terang Goes to Campus UII Yogyakarta #1”, dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Jumat (22/5/2026).
Keluar dari Orde Baru?
Ia mengungkapkan adanya transisi demokrasi yang terhambat karena situasi saat ini sudah keluar dari Orde Baru, tetapi belum berani masuk ke “rumah demokrasi”.
“Karena di depan kita lalu lalang tentara, lalu lalang parcok,” katanya, sebagai penjelasan atas ketidakberanian tersebut.
Baca Juga: 28 Tahun Reformasi: Demokrasi Surut, Ekonomi Dihantui Krisis Kepercayaan
Bagi Rocky, saat ini terdapat gejala creeping militarism. Ia menyinggung pengiriman batalion teritorial pembangunan TNI yang berhasil menurunkan tingkat kejahatan begal.
Ia menilai hal tersebut masih berada dalam koridor keamanan dan ketertiban masyarakat yang menjadi kewenangan Polri, bukan TNI. Menurutnya, adanya ketakutan di masyarakat membuat kehadiran tentara semakin dekat dengan lingkungan sipil.
Ia menambahkan, kehadiran tentara memang dapat memberi rasa aman, namun rasa aman tersebut bisa saja bersifat semu. Ada kekhawatiran mengapa penjagaan dilakukan secara ketat oleh militer.
Ia menegaskan bahwa rasa aman sejati lahir dari persahabatan sosial yang mampu menghidupkan demokrasi deliberatif atau musyawarah sebagai inti pengambilan keputusan politik.
Kehadiran militer, menurutnya, hanya bisa dihentikan oleh masyarakat sipil. “Yang supreme (paling utama) dalam demokrasi bukan orang sipil, tapi nilai sipil,” tegasnya.
Legitimasi tentara dalam menggunakan senjata, bagi Rocky, harus tetap tunduk pada nilai sipil, kecuali dalam situasi perang. Tentara adalah alat pertahanan negara.
Untuk mengembalikan semangat reformasi, Rocky menilai ada pelemahan masyarakat sipil. Karena itu, forum diskusi dan seminar kebangsaan diperlukan untuk memperkuat demokrasi.
“Kita semua ini hidup di dalam kondisi tanpa argumen. Akibatnya apa? Kita jualan sentimen,” pungkasnya.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Aktivis Pati Kembali ke Jakarta, Siapkan Massa untuk Aksi 27 Agustus di DPR RI
-
Presiden Prabowo Subianto Bakal Sikat Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan
-
Tenxi hingga NDX AKA Meriahkan Primaria Fest 2026, Momen Titip Doa buat Korban Gempa Bikin Haru
-
PB PII soal Rencana Aksi AMPB 27 Agustus: Silakan Tapi Jangan Sebar Politik Kebencian
-
Perluas Jaringan ke Sumut, iCAR Medan City Store Hadir di Centre Point
-
PB PII Wanti-wanti Demo AMPB Pati: Jangan Sampai Ditunggangi dan Picu Kekacauan Lagi
-
PB PI Jaksel Bangun Ekosistem Padel Lewat Unity Cup 2026
-
Viral Karpet Biru dan Baliho Sambut Kedatangan Prabowo di Kalteng, Berapa Biayanya?
-
Dari Prompt hingga Strategi Bisnis, Buku Baru Dr. Dini Fronitasari Sasar Pelaku UMKM
-
Harga Tiket Masuk Goa Safarwadi Tasikmalaya yang Mitosnya Bisa Tembus Mekkah