- Pemadaman listrik massal di delapan provinsi Sumatra pada 22-24 Mei 2026 disebabkan kegagalan sistem interkoneksi mengisolasi gangguan transmisi.
- Ketidakstabilan frekuensi dan tegangan menyebabkan pembangkit listrik di Sumatra berhenti beroperasi secara berantai meski pasokan daya surplus.
- Pakar merekomendasikan audit sistem proteksi, evaluasi respons generator, serta peningkatan teknologi pemantauan jaringan demi ketahanan kelistrikan nasional.
Suara.com - Pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan delapan provinsi di Sumatra pada 22-24 Mei 2026 dinilai mengungkap persoalan mendasar dalam sistem kelistrikan nasional.
Pakar Sistem Tenaga Listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, menilai insiden tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan putusnya satu jalur transmisi di wilayah Jambi.
Menurut Rahmat, gangguan pada saluran transmisi 275 kV di Jambi hanya menjadi pemicu awal. Persoalan yang lebih serius adalah ketidakmampuan sistem interkoneksi Sumatra mengisolasi gangguan sejak awal sehingga berkembang menjadi gangguan berskala besar yang menjalar ke berbagai wilayah.
"Gangguan ini berkembang menjadi masalah sistemik. Ketika ada saluran transmisi yang putus, aliran daya harus berpindah secara mendadak. Akibatnya, sistem interkoneksi yang tadinya menyatu langsung terpecah menjadi pulau-pulau kecil (subsistem) yang terpisah," kata Rahmat, dikutip Senin (1/6/2026).
Dipaparkan Rahmat, terpecahnya sistem interkoneksi menyebabkan frekuensi dan tegangan listrik menjadi tidak stabil. Kondisi tersebut memicu pembangkit listrik keluar dari jaringan secara otomatis (trip) untuk melindungi peralatan, sehingga memperluas dampak pemadaman.
Ia menyoroti kapasitas pembangkit listrik di Sumatra yang secara keseluruhan berada dalam kondisi surplus. Namun sistem tetap kolaps dalam waktu singkat setelah jaringan transmisi utama terganggu.
Menurutnya, fokus perencanaan selama ini terlalu menitikberatkan pada kecukupan pasokan total, bukan pada kemampuan masing-masing wilayah untuk bertahan ketika terpisah dari sistem utama.
"Secara keseluruhan, kapasitas pembangkit di Sumatra sebenarnya surplus. Namun, ketika sistem terpecah akibat gangguan transmisi, tidak semua wilayah memiliki cadangan listrik yang memadai untuk bertahan secara mandiri," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa saat sistem terpecah, sebagian wilayah mengalami kelebihan pasokan listrik. Sementara wilayah lain justru kehilangan sumber pasokan utama.
Baca Juga: Sumatra Gelap Gulita, Harta Rp 110 Miliar Dirut PLN Jadi Sorotan Netizen
Kedua kondisi tersebut sama-sama berbahaya karena dapat memicu perubahan frekuensi yang ekstrem dan menyebabkan pembangkit keluar dari sistem secara berantai.
Selain itu, Rahmat mempertanyakan efektivitas jalur redundansi atau cadangan yang selama ini dimiliki jaringan transmisi Sumatra. Menurut dia, keberadaan dua hingga empat rangkaian transmisi tidak otomatis menjamin keandalan.
"Kalau dua atau empat rangkaian itu berada di satu koridor fisik yang sama, satu gangguan tunggal tetap berpotensi melumpuhkan seluruh rangkaian sekaligus," tuturnya.
Rahmat mendesak PT PLN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem proteksi dan evaluasi respons frekuensi pada generator yang terhubung ke jaringan Sumatra.
Ia mengingatkan bahwa pernyataan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang tidak cukup tanpa evaluasi teknis yang terstruktur.
"Yang perlu dilakukan pertama dan paling mendesak adalah audit terhadap pengaturan sistem proteksi yang ada saat ini. Kemudian, evaluasi skema respons frekuensi pada setiap generator di jaringan Sumatra," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam