- Setara Institute mencatat Jawa Barat sebagai wilayah dengan tingkat pelanggaran kebebasan beragama tertinggi di Indonesia sejak tahun 2007.
- Kurangnya kepemimpinan dari tokoh agama yang menjadi patron kuat masyarakat menyebabkan potensi intoleransi terus meningkat di berbagai daerah.
- Pengabaian terhadap kearifan lokal dan budaya menjadi faktor krusial yang memperburuk kerentanan serta kegagalan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Suara.com - Setara Institute mencatat Jawa Barat masih menjadi lokus terbesar terjadinya peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.
“Kalau kita melihat data longitudinal dari tahun 2007 ya, memang Jawa Barat masih menjadi lokus terbesar bagi terjadinya peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama berkeyakinan di Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, di Komnas Perempuan, Senin (1/6/2026).
Namun, lanjut Halili, pelanggaran kebebasan beragama bukan semata persoalan tempat. Menurutnya, hal itu merupakan cerminan kegagalan toleransi dan kebinekaan sebagai platform bersama untuk hidup berdampingan secara damai dalam berbagai perbedaan.
“Maka di mana pun sangat potensial untuk terjadi pelanggaran kebebasan beragama berkeyakinan. Dalam konteks Indonesia secara faktual memang Jawa Barat yang paling besar sampai titik ini,” jelasnya.
Halili mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Salah satu yang paling penting adalah belum adanya figur sosial yang kuat dari kalangan tokoh agama.
“Kita ini masyarakat yang feodal secara umum. Feodal itu artinya kita membutuhkan satu patron ya, untuk masyarakat kita ini akhirnya menentukan preferensi mereka,” ucapnya.
“Patron yang terbesar itu ada dua: satu pemerintah, yang kedua figur sosial. Figur sosial itu bisa tokoh agama,” imbuhnya.
Halili mengatakan, selama tokoh masyarakat tidak memiliki kepemimpinan sosial yang kuat, peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan akan terus terjadi di tengah masyarakat.
“Patron yang ada di tengah-tengah masyarakat itu sudah semacam menjadi acuan mempengaruhi pilihan-pilihan dari secara umum masyarakat kita mengenai bagaimana mereka harus memberikan respons atas kelompok-kelompok yang sedikit,” ucapnya.
Baca Juga: Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Jabar, Binokasih Mulang Salaka Tandai Pembukaan di Sumedang
Faktor lainnya, kata Halili, adalah aspek kultural. Menurutnya, penolakan terhadap kearifan lokal dan local genius yang hidup di tengah masyarakat berbanding lurus dengan meningkatnya intoleransi.
“Jadi kultur itu salah satu yang sangat mempengaruhi bagaimana pelanggaran kebebasan beragama berkeyakinan itu terjadi. Kalau tidak ada penguatan kultural, maka saya kira kerentanan kita akan semakin meningkat,” tandasnya.
Berita Terkait
-
Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Jabar, Binokasih Mulang Salaka Tandai Pembukaan di Sumedang
-
Mafia Proyek Dapur MBG Gentayangan di Jabar, Duit Rp1,9 Miliar Melayang
-
Persib Bandung Diharapkan Wagub Mampu Mendulang Prestasi di Level Internasional
-
Bandung Membiru, Persib Rayakan Pancatakhta dan Hattrick Juara Bersama Bobotoh
-
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam