-
Negosiasi damai AS-Iran menemui jalan buntu akibat sengketa penyerahan uranium yang diperkaya Teheran.
-
Marco Rubio mengklaim operasi militer AS sukses besar meski Iran baru saja menyerang Kuwait.
-
Iran menuntut pencairan aset sebesar US$12 miliar sebagai syarat pelepasan dokumen nuklir mereka.
Suara.com - Kebuntuan diplomatik melanda perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran akibat perselisihan sengit mengenai kepemilikan uranium yang diperkaya. Teheran secara tegas menolak tuntutan Washington untuk menyerahkan material sensitif tersebut sebelum sanksi ekonomi mereka dicabut.
Pemerintah AS mengajukan tiga proposal krusial, termasuk pembatasan total aktivitas nuklir dan pengakhiran blokade Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional tersebut menjadi kartu AS bagi Iran untuk menekan sekutu Barat di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Al Arabiya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan meski persetujuan akhir belum tercapai. Titik paling krusial yang mengganjal kesepakatan berada pada status kepemilikan bahan baku pembuat bom nuklir tersebut.
"Saya pikir sekarang, dalam beberapa dokumen yang telah dipertukarkan bolak-balik, hal itu telah dibahas dengan jelas, tetapi kami masih belum mendapatkan persetujuan akhir dari sistem mereka hingga pagi ini," kata Rubio kepada Komite Urusan Luar Negeri DPR AS.
Di sisi lain, Teheran bersikap keras tidak akan melimpahkan kendali nuklir mereka sebelum hak ekonominya dipulihkan. Blokade Selat Hormuz juga tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan terakhir melawan tekanan asing.
Ketegangan makin rumit setelah militer Iran meluncurkan serangan balasan yang menghantam infrastruktur penerbangan sipil di negara tetangga. Rudal Teheran menyasar bandara Kuwait hingga menimbulkan korban jiwa dan puluhan warga terluka.
Kendati situasi di lapangan masih membara, Washington secara sepihak menyatakan fase operasi militer skala besar mereka telah selesai. AS menilai kapabilitas tempur musuhnya sudah lumpuh total akibat serangan udara yang masif.
"Kami tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan di dalam Iran untuk melemahkan militer mereka, karena Epic Fury telah berakhir," kata Rubio kepada panel tersebut, menegaskan bahwa AS telah meraih kemenangan.
Pihak Pentagon merasa target strategis mereka untuk melucuti kekuatan ofensif pertahanan Iran telah terpenuhi secara masif. Operasi tersebut diklaim berhasil mereduksi secara signifikan persenjataan jarak jauh lawan.
Baca Juga: Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran
"Kami mendefinisikan kemenangan (AS) sebagai penghancuran basis industri pertahanan mereka, pengurangan signifikan jumlah peluncur rudal yang mereka miliki, pengurangan signifikan persediaan drone mereka," kata Rubio.
"Dan kami mencapai semua itu, selain menghancurkan apa yang tersisa dari angkatan udara mereka dan melenyapkan seluruh angkatan laut konvensional mereka."
Pihak Teheran menolak tunduk pada tekanan psikologis dan klaim sepihak yang dilontarkan oleh pemerintahan Donald Trump. Mereka menuntut kompensasi finansial berupa pencairan dana belasan miliar dolar yang dibekukan di bank luar negeri.
Negara Timur Tengah ini juga membantah narasi bahwa fasilitas pemrosesan uranium mereka akan dihancurkan secara total. Bagi Iran, kedaulatan teknologi nuklir merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar dalam meja diplomasi.
Krisis geopolitik ini berakar dari serangan mendadak yang dilancarkan koalisi AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Agresi militer tersebut memicu efek domino yang merusak stabilitas keamanan serta ekonomi di seluruh kawasan Teluk.
Dampak paling nyata dirasakan global melalui penutupan Selat Hormuz yang menghambat distribusi pasokan minyak mentah dunia. Blokade ini menjadi senjata ekonomi Iran untuk membalas blokade finansial yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Pasang Target Tinggi: Yakin Nasdem Bakal Naik di Pemilu 2029
-
Tahan Tangis, Sarwendah Ungkap Perjuangan Nafkahi Anak di Tengah Gugatan Ruben Onsu
-
Putri Pahlawan Nasional Pimpin WPP PPP, Dewi Arimbi Siap Tempur di Pemilu 2029
-
Berkebun di Kota Kini Lebih Hemat, Panel Surya Jadi Solusi untuk Urban Farming
-
Kala Anak Nasabah PNM Mekaar Berkata 'Orang Tua Saya Berjuang di Sawah, Saya Berjuang di Sekolah'
-
Dunia Peanuts Jadi Nyata! Snoopy Siapkan Pengalaman Seru untuk Keluarga dan Penggemar Animasi
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Bawa Modal Rp800 Juta Demi 1 Kg Sabu, Pengedar Asal Gunung Batu Diringkus Polres Cimahi
-
Kejagung Rotasi Pejabat, Rinaldi Umar Ditunjuk Jadi Direktur Penyidikan Jampidsus
-
Dibatalkan Sepihak Usai Daftar Ulang, Orang Tua Siswa SMAN 1 Cileungsi Lapor Dedi Mulyadi