- WALHI mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah target 8 persen karena berisiko memperluas eksploitasi sumber daya alam secara masif.
- Aktivitas industri ekstraktif telah merusak ekosistem serta mengganggu ruang hidup masyarakat adat, nelayan, dan kelompok rentan.
- Pemerintah didesak mengevaluasi kebijakan pembangunan agar tidak hanya menguntungkan korporasi tetapi juga melindungi lingkungan dan masyarakat luas.
Suara.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengkritik arah kebijakan ekonomi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen.
WALHI menilai target tersebut berpotensi memperluas eksploitasi sumber daya alam dan mengorbankan ruang hidup masyarakat.
Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI Nasional, Patria Rizky Ananda, mengatakan pemerintah saat ini lebih fokus mendorong investasi dan ekspansi usaha untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.
"Menkeu Purbaya menyampaikan bahwa sektor swasta itu menyumbang 90 persen aktivitas ekonomi nasional. Untuk menuju ke 8 persen, pemerintah itu akan mendorong kebijakan yang mendukung investasi dan ekspansi usaha," kata Patria dalam konferensi pers Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 bertajuk “Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis Pulihkan Indonesia” di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi memperluas industri ekstraktif, mulai dari perkebunan sawit hingga hilirisasi tambang mineral kritis.
"Jadi kalau Bang Eky tadi jalan dari Jawa ke Sumatera liatnya sawit, ke depan tuh ke Papua Bang, mungkin naik bus dari sini bisa juga Bang, sawit semua nanti Bang," ujarnya.
Patria menyoroti dampak yang sudah dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri dan tambang. Salah satunya terjadi di Pulau Obi, Maluku Utara, di mana nelayan harus melaut lebih jauh akibat aktivitas industri nikel.
"Nelayan itu sudah harus melaut lebih jauh dari tempat mereka biasanya melaut. Padahal perahu mereka itu mesinnya kecil, jadi mereka nggak bisa melaut lebih jauh," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi selama ini berjalan beriringan dengan kenaikan emisi karbon nasional.
Baca Juga: Rencana 750 Batalyon Teritorial Tuai Penolakan, Peneliti Soroti Ancaman Militerisasi Sipil
Berdasarkan data yang ia sampaikan, emisi Indonesia pada 2024 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sektor energi, industri, transportasi, dan eksploitasi bahan bakar.
Karena itu, WALHI meminta pemerintah memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan masyarakat luas, bukan hanya korporasi besar.
"Masyarakat, kelompok rentan, petani, nelayan, masyarakat adat, perempuan, mereka yang tinggal di pesisir-pesisir dan pulau-pulau kecil itu mereka harus merasakan juga manfaatnya. Jangan sampai ruang hidup mereka direnggut atas nama pertumbuhan ekonomi itu," tegasnya.
Senada, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Riau, Ahlul Fadli, menilai eksploitasi sumber daya alam selama puluhan tahun telah menyebabkan kerusakan lingkungan serius di Sumatra, khususnya di Riau.
Ia mengungkapkan luas hutan alam Riau yang sekitar 30 tahun lalu mencapai 5 juta hektare kini tersisa sekitar 1,3 juta hektare.
"Hutannya dari hutan alam di hampir 30 tahun yang lalu itu 5 juta dan sekarang itu 1,3 juta hektar yang tersisa," kata Ahlul.
Menurutnya, berbagai rezim pembangunan telah mendorong eksploitasi melalui industri kayu, hutan tanaman industri, perkebunan sawit hingga pertambangan yang berdampak pada rusaknya daerah aliran sungai dan ekosistem gambut.
WALHI menegaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum evaluasi kebijakan pembangunan yang selama ini dinilai lebih berpihak pada investasi ketimbang perlindungan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat.
“Jangan sampai ruang hidup mereka nih direnggut atas nama pertumbuhan ekonomi itu… Kebijakan itu harus berpihak kepada masyarakat luas gitu bukan 1% terkaya,” pungkas Patria. (Reporter: Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
Dari Pesisir Sorong, Ibu Ragaia Wujudkan Rumah Layak dan Pendidikan Anak Bersama PNM Mekaar
-
Rencana 750 Batalyon Teritorial Tuai Penolakan, Peneliti Soroti Ancaman Militerisasi Sipil
-
Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian
-
Ancaman Belum Usai! Mortir dan Amunisi Aktif PD II Ditemukan di Lokasi Ledakan Maut Biak
-
Korban Meninggal Ledakan Bom Biak Jadi 6 Orang, Sempat Luka Ringan Sebelum Tiada
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Kasus Pindah ke Kejagung, Status Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tetap Dicekal Imigrasi
-
Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026
-
JPMorgan Upgrade Saham BBRI ke Overweight, Nilai Valuasi Murah dan Dividen Tetap Menarik
-
Dirjen Imigrasi Pastikan Status Cekal Febrie Adriansyah Masih Berlaku
-
Piala Dunia 2026 Ubah Ranking FIFA, Spanyol 'Tendang' Prancis dari Puncak
-
4 Cushion Tahan Lama yang Lagi Diskon Capai 50 Persen di Shopee, Harga Jadi di Bawah Rp100 Ribu
-
4 Rekomendasi Parfum Aroma Nanas Harga Terjangkau, Mulai Rp40 Ribuan Saja
-
Megawati Berpesan Agar Anak Muda Jangan Jadi 'Bangbong'
-
Optimistis terhadap BBRI, JPMorgan Tingkatkan Rekomendasi Saham Jadi Overweight