News / Nasional
Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:50 WIB
Presiden Prabowo Subianto (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang (kiri) usai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hma/YU]
Baca 10 detik
  • Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, menyatakan kesedihan atas penyalahgunaan program Makan Bergizi Gratis oleh oknum tertentu.
  • Nanik mengaku tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis dan pengadaan barang yang kini sedang diusut penegak hukum.
  • Nanik berupaya melakukan inspeksi lapangan secara langsung agar Presiden Prabowo Subianto mengetahui kondisi nyata pelaksanaan program tersebut.

Suara.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengaku sedih melihat polemik yang menerpa Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Bahkan, Nanik mengaku sampai menangis karena menilai niat baik Presiden untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia justru diduga disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.

Dalam podcast di kanal YouTube Total Politik, Nanik menegaskan bahwa Prabowo memiliki ketulusan besar dalam menjalankan program MBG dan tidak memiliki motif lain selain meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia.

"Gua enggak tega deh sama Presiden. Dia enggak pernah punya maksud jahat. Dia enggak pernah punya motivasi dia menang 2029. Gua tahu, gua ikut beliau 14 tahun. Dia pingin anak-anak Indonesia ini terpenuhi gizinya. Dia pingin anak-anak Indonesia ini tidak ada yang kelaparan," kata Nanikk, dikutip Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, yang membuat dirinya terpukul adalah ketika niat baik tersebut justru berujung pada persoalan hukum yang kini sedang diusut aparat penegak hukum.

"Aduh, saya dilukai kayak gitu, gua jadi nangis nih. Kenapa orang sebaik dia gitu mesti dikhianati? Saya pun bukan melihat dia sebagai Presiden, tapi sebagai manusia yang sangat punya ketulusan, punya perhatian besar terhadap anak-anak Indonesia, terus dikhianati," ujarnya.

Pernyataan itu muncul ketika host menyinggung kemungkinan adanya oknum di lingkungan BGN yang memanfaatkan program MBG untuk kepentingan tertentu.

Nanik S Deyang bawa kabar gembira ke Istana, lapor efisiensi anggaran BGN ke Prabowo. (Suara.com/Novian)

Saat ditanya apakah Presiden selama ini banyak ditipu oleh oknum di BGN, Nanik memberikan jawaban yang memancing perhatian.

"Gua enggak tahu ya, kalau enggak ditipu kan enggak di Kejaksaan, Bro," katanya.

Baca Juga: Peringatan Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Nanik juga mengungkapkan bahwa selama menjabat di BGN dirinya tidak banyak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan strategis, termasuk soal pengadaan barang maupun kebijakan operasional.

"Gua tuh enggak pernah diajakin rapat. Kalau mau RDP aja saya tanya bahan, dikasihnya besok pagi mau RDP ini bahan. Jadi gua enggak tahu yang disusun ini apa, gua kagak ngerti," ujarnya.

Ia bahkan mengaku tidak mengetahui berbagai pengadaan yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

"Ini rapat keputusan mau kaos kaki kek, mau apa kek, mau apa, itu pengadaannya ramai-ramai tuh, seupit kucing pun gua kagak ngerti," kata Nanik.

Nanik menyebut sejak awal dirinya lebih banyak bergerak melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan untuk melihat kondisi pelaksanaan program MBG secara langsung. Langkah tersebut dilakukan agar Presiden mengetahui situasi sebenarnya di lapangan.

"Gua mikir gini, gua harus cari perhatian Presiden nih biar melihat kenyataan yang sebenarnya. Jadi bukan gua mengadu. Gua cuma sidak menunjukkan kepada Presiden atau semua, 'ini lho ada yang seperti ini'," ungkapnya.

Menurut Nanik, kondisi yang diwariskan kepemimpinan sebelumnya membuat jajaran pimpinan BGN saat ini menghadapi pekerjaan berat dalam melakukan pembenahan.

"Gua sedih, gua sedih sesedih-sedihnya. Saking sedihnya gua ini kalau ada pilihan gua enggak mau jadi kepala BGN. Capek banget Bro. Ini udah kami ini bukan sekarang ini bukan from zero, from minus 10 mungkin 20 atau berapa," pungkas Nanik.

Reporter: Dinda Pramesti K

Load More