News / Nasional
Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:06 WIB
Connie Rahakundini. (Instagram/connierahakundinibakrie)
Baca 10 detik
  • Connie Rahakundini Bakrie menilai perhatian publik terhadap mega proyek IKN kini meredup akibat pengalihan fokus ke Program Makan Bergizi Gratis.
  • Ia mendesak transparansi pemerintah terkait penggunaan anggaran negara ratusan triliun rupiah yang dialokasikan untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara tersebut.
  • Connie mengkritik tata kelola proyek besar tanpa pertanggungjawaban jelas yang dinilai berisiko menghancurkan stabilitas serta kredibilitas pengelolaan keuangan negara.

Suara.com - Pengamat militer dan akademisi, Connie Rahakundini Bakrie, menilai perhatian publik terhadap proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai meredup setelah pemerintah menggencarkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Connie, besarnya perhatian terhadap MBG membuat publik seolah melupakan berbagai pertanyaan mengenai penggunaan anggaran IKN yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.

Hal itu ia sampaikan saat berbincang dalam sebuah podcast di kanal YouTube Refly Harun yang membahas berbagai isu nasional, mulai dari geopolitik hingga tata kelola pemerintahan.

Connie mengaku prihatin dengan pola pembangunan yang menurutnya cenderung berorientasi pada proyek jangka pendek tanpa disertai pertanggungjawaban yang jelas kepada publik.

"Sedihnya saya di Indonesia, ya kan, itu kok makin kayak nggak ada ya. Pokoknya contohnya program-program itu pendek, cepat, kalau bisa dana komandonya di depan, ya kan, kemudian begitu udah untung ya sudah, selesai," kata Connie, dikutip Sabtu (13/6/2026).

Ia kemudian menyinggung proyek IKN yang dinilai kini jarang menjadi perbincangan publik karena perhatian masyarakat tersedot ke program MBG.

"Saya nggak ngerti nih, kayak IKN, ya kan, orang sekarang soalnya lupa sama IKN karena kalah sama MBG satu triliun satu hari," ujarnya.

Menurut Connie, publik seharusnya tetap mengawasi proyek IKN karena dana yang telah dikucurkan sangat besar dan berasal dari uang negara.

"Tapi jangan lupa IKN itu udah berapa ratus triliun. Itu uang siapa? Dananya sudah ke mana saja? Kok nggak ada pertanggungjawaban?" katanya.

Baca Juga: MBG Watch Curiga Narasi Selamatkan Aset Motor Listrik Hanya Tutupi Proyek Bermasalah

Connie membandingkan proyek IKN dengan kasus Hambalang yang sempat menjadi sorotan nasional pada era pemerintahan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Foto udara suasana dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (14/8/2025). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/bar]

Menurutnya, nilai proyek Hambalang jauh lebih kecil dibandingkan anggaran yang telah digelontorkan untuk pembangunan IKN.

"Kita dulu Hambalang saja Pak SBY bikin kita ramai, itu Hambalang segede apa dibandingin IKN?" ujar Connie.

Connie menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan sensitivitas publik terhadap penggunaan anggaran negara dalam jumlah besar. Padahal, menurutnya, setiap proyek strategis harus disertai transparansi dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

"Loh, kok sekarang kita kayak mengulangi lebih gede lagi? Jadi kok ini dibiasakan," katanya.

Lebih lanjut, Connie mengingatkan bahwa persoalan tata kelola negara tidak harus menunggu ancaman dari luar negeri untuk menjadi masalah serius.

Ia justru melihat risiko terbesar berasal dari cara negara mengelola proyek-proyek besar tanpa pengawasan yang memadai.

"Kita nggak perlu nunggu Perang Dunia Ketiganya, nggak usah. Kita udah bubar duluan, hancur duluan pasti. Karena koboi gitu, cara-cara kita mengelola negara tuh sangat koboi," pungkas Connie.

Reporter: Dinda Pramesti K

Load More