- Connie Rahakundini Bakrie menilai perhatian publik terhadap mega proyek IKN kini meredup akibat pengalihan fokus ke Program Makan Bergizi Gratis.
- Ia mendesak transparansi pemerintah terkait penggunaan anggaran negara ratusan triliun rupiah yang dialokasikan untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara tersebut.
- Connie mengkritik tata kelola proyek besar tanpa pertanggungjawaban jelas yang dinilai berisiko menghancurkan stabilitas serta kredibilitas pengelolaan keuangan negara.
Suara.com - Pengamat militer dan akademisi, Connie Rahakundini Bakrie, menilai perhatian publik terhadap proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai meredup setelah pemerintah menggencarkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Connie, besarnya perhatian terhadap MBG membuat publik seolah melupakan berbagai pertanyaan mengenai penggunaan anggaran IKN yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.
Hal itu ia sampaikan saat berbincang dalam sebuah podcast di kanal YouTube Refly Harun yang membahas berbagai isu nasional, mulai dari geopolitik hingga tata kelola pemerintahan.
Connie mengaku prihatin dengan pola pembangunan yang menurutnya cenderung berorientasi pada proyek jangka pendek tanpa disertai pertanggungjawaban yang jelas kepada publik.
"Sedihnya saya di Indonesia, ya kan, itu kok makin kayak nggak ada ya. Pokoknya contohnya program-program itu pendek, cepat, kalau bisa dana komandonya di depan, ya kan, kemudian begitu udah untung ya sudah, selesai," kata Connie, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Ia kemudian menyinggung proyek IKN yang dinilai kini jarang menjadi perbincangan publik karena perhatian masyarakat tersedot ke program MBG.
"Saya nggak ngerti nih, kayak IKN, ya kan, orang sekarang soalnya lupa sama IKN karena kalah sama MBG satu triliun satu hari," ujarnya.
Menurut Connie, publik seharusnya tetap mengawasi proyek IKN karena dana yang telah dikucurkan sangat besar dan berasal dari uang negara.
"Tapi jangan lupa IKN itu udah berapa ratus triliun. Itu uang siapa? Dananya sudah ke mana saja? Kok nggak ada pertanggungjawaban?" katanya.
Baca Juga: MBG Watch Curiga Narasi Selamatkan Aset Motor Listrik Hanya Tutupi Proyek Bermasalah
Connie membandingkan proyek IKN dengan kasus Hambalang yang sempat menjadi sorotan nasional pada era pemerintahan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurutnya, nilai proyek Hambalang jauh lebih kecil dibandingkan anggaran yang telah digelontorkan untuk pembangunan IKN.
"Kita dulu Hambalang saja Pak SBY bikin kita ramai, itu Hambalang segede apa dibandingin IKN?" ujar Connie.
Connie menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan sensitivitas publik terhadap penggunaan anggaran negara dalam jumlah besar. Padahal, menurutnya, setiap proyek strategis harus disertai transparansi dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
"Loh, kok sekarang kita kayak mengulangi lebih gede lagi? Jadi kok ini dibiasakan," katanya.
Lebih lanjut, Connie mengingatkan bahwa persoalan tata kelola negara tidak harus menunggu ancaman dari luar negeri untuk menjadi masalah serius.
Ia justru melihat risiko terbesar berasal dari cara negara mengelola proyek-proyek besar tanpa pengawasan yang memadai.
"Kita nggak perlu nunggu Perang Dunia Ketiganya, nggak usah. Kita udah bubar duluan, hancur duluan pasti. Karena koboi gitu, cara-cara kita mengelola negara tuh sangat koboi," pungkas Connie.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah
-
Andrew Mulyono Bos Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka Kelima Korupsi MBG, Ini Perannya
-
Negara Boncos Rp1 Triliun per Bulan, DPR Desak MBG Disetop Sementara
-
MBG Watch Curiga Narasi Selamatkan Aset Motor Listrik Hanya Tutupi Proyek Bermasalah
-
Jupnas Gizi Pertanyakan Kontradiksi Data Program MBG, Padahal Dulu Pamer Capaian
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim
-
Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih
-
Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon
-
Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam
-
Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?
-
Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas
-
Presiden Prabowo Diminta Segera Evaluasi Kinerja Mendag, Ada Apa?
-
Abdul Wahid Menunggu Vonis, Berharap Putusan Benar-benar Adil
-
Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air