News / Metropolitan
Minggu, 14 Juni 2026 | 20:30 WIB
Donald Trump (Instagram/@realdonaldtrump)
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan ditandatangani pada hari Minggu waktu setempat.
  • Pakistan berperan sebagai mediator dalam perundingan yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz serta mengelola isu senjata nuklir Iran.
  • Pemerintah Iran membantah kepastian penandatanganan tersebut dan menegaskan dokumen yang dibahas hanya berfungsi sebagai kerangka kerja negosiasi lanjutan.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan ditandatangani pada Minggu waktu setempat. Ia bahkan mengeklaim Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk semua pihak setelah penandatanganan tersebut.

"Kesepakatan tersebut dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz akan dibuka untuk semua pihak," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Selain itu, Trump menyebut Iran kini tidak lagi menginginkan senjata nuklir dan mengisyaratkan adanya kerja sama antara kedua negara terkait penanganan uranium yang telah diperkaya.

Menurut Trump, kesepakatan tersebut berpotensi membuka babak baru hubungan Washington dan Teheran setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan.

Dia melanjutkan, penandatanganan kesepakatan itu akan membuat hubungan AS dengan Iran "berbeda dan lebih baik", tetapi memperingatkan bahwa AS memiliki alternatif terburuk, kecuali jika prosesnya berjalan "dengan cepat, mudah, dan lancar".

Pernyataan serupa juga datang dari Mohammad Ishaq Dar. Menteri Luar Negeri Pakistan itu mengatakan upacara penandatanganan perjanjian secara elektronik dijadwalkan berlangsung pada Minggu.

Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa AS dan Iran telah menyetujui kerangka perjanjian damai dan diperkirakan akan segera meresmikannya. Pakistan diketahui berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi kedua negara.

Namun di tengah optimisme tersebut, pemerintah Iran memberikan sinyal yang lebih hati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah adanya kepastian bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS akan ditandatangani pada Minggu.

Baghaei menyebut masih terdapat "keraguan pihak lain" yang membuat proses tersebut belum dapat dipastikan terlaksana sesuai jadwal.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Tidak Aman? Viral Foto Sniper Mengintai dari Ketinggian

Ia juga menegaskan bahwa dokumen yang sedang dibahas nantinya hanya akan menjadi kerangka kerja untuk melanjutkan negosiasi, bukan kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh persoalan antara kedua negara.

Baghaei juga menekankan bahwa setiap MoU potensial antara Iran dan AS "hanya akan berfungsi sebagai kerangka kerja untuk melanjutkan pembicaraan" dan tidak boleh dianggap sebagai "kesepakatan akhir."

Menurut sejumlah laporan media pemerintah Iran, pembahasan mengenai isu nuklir diperkirakan masih akan berlanjut selama 60 hari ke depan, sehingga proses menuju kesepakatan komprehensif masih membutuhkan tahapan lanjutan.

Load More