- Komisi X DPR RI mendukung kebijakan Badan Gizi Nasional melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan program MBG.
- Pemanfaatan kantin sekolah di wilayah 3T dinilai sebagai solusi logistik paling realistis dibandingkan membangun dapur baru yang tidak efisien.
- Pemerintah diharapkan segera memperbaiki tata kelola program agar pelibatan masyarakat lokal memberikan dampak ekonomi nyata dan tepat sasaran.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengungkap bahwa gagasan melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya bukan hal baru.
Menurutnya, Komisi X telah mendorong skema tersebut sejak awal pembahasan program, terutama untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pernyataan itu disampaikan merespons keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) yang memilih memanfaatkan kantin sekolah dibanding membangun dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru di sejumlah daerah 3T.
Lalu menegaskan, Komisi X sejak awal menilai pelibatan unit yang sudah tersedia di lingkungan sekolah merupakan solusi paling realistis, sekaligus dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
"Karena prinsipnya MBG juga untuk meningkatkan ekonomi di seputaran sekolah sebagai penerima manfaat," ujar Lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Ia bahkan menyebut arahan tersebut telah disampaikan Komisi X sejak awal kepada pemerintah, termasuk saat berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
"Kami sejak awal mengarahkan seperti itu, terutama di daerah 3T. Tidak mungkin daerah 3T, misalnya di Kepulauan Aru, dapurnya ada di Ambon. Jarak dan logistiknya tidak memungkinkan. Maka, manajemen yang paling pas memang melibatkan unit terdekat," katanya.
Meski mendukung penuh keberlanjutan program MBG, Lalu mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada perluasan cakupan program.
Menurutnya, tata kelola dan manajemen pelaksanaan juga harus segera dibenahi agar persoalan yang muncul selama ini tidak terulang.
Baca Juga: Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif
"Silakan teman-teman di BGN merumuskan, tentunya bersama Komisi IX, untuk mencari formula manajemen yang paling bagus saat ini, berkaca dari kejadian-kejadian (evaluasi) yang sebelumnya terjadi," tegasnya.
Lalu berharap skema yang memanfaatkan fasilitas sekolah dan melibatkan masyarakat lokal dapat membuat program MBG lebih efektif, tepat sasaran, sekaligus memberi dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar.
Fokus Wilayah 3T
Sebelumnya, Kepala BGN Nanik S Dayeng menyatakan pihaknya tidak akan membangun dapur baru di seluruh wilayah 3T.
Alasannya, jumlah penerima manfaat di sejumlah daerah relatif kecil sehingga pembangunan dapur dinilai tidak efisien.
"Kita intinya tidak harus membangun dapur baru, itu prinsipnya. Kita bisa menggunakan dapur-dapur misalnya kantin sekolah," kata Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Menurut Nanik, terdapat wilayah 3T yang hanya memiliki puluhan hingga ratusan penerima manfaat program MBG.
"Karena 3T ini cuma ada yang isinya 200 orang, 81 orang, 47 orang di wilayah-wilayah itu. Jadi tidak mungkin kita membangun dapur-dapur baru," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga