- Presiden Prabowo Subianto dikritik karena kunjungan luar negerinya dinilai belum memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Indonesia.
- Peneliti CELIOS menyatakan realisasi investasi asing tidak tumbuh signifikan dan justru kalah dibandingkan dominasi modal dalam negeri.
- Perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat pada awal 2026 dianggap merugikan serta memicu kenaikan harga energi bagi publik.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kesepakatan dengan Amerika Serikat pada awal tahun 2026 yang dinilai berat sebelah.
"Nah saat ini kita kemitraan dagangnya nggak jelas. Di tahun 2026 awal, di bulan tanggal 19 Februari, pemerintah itu menandatangani perjanjian resiprokal dengan Amerika Serikat. Yang mana perjanjian itu banyak sekali merugikan Indonesia," ujar Saleh.
Dampak dari kebijakan luar negeri dan pilihan blok politik ini mulai merembet ke sektor energi.
Masyarakat kelas menengah dan pekerja di pusat-pusat industri kini harus menanggung beban kenaikan biaya hidup akibat kebijakan yang dinilai kurang berpihak pada kepentingan domestik.
Kunjungan luar negeri yang masif dianggap gagal memitigasi dampak konflik global terhadap harga komoditas energi di dalam negeri.
"Artinya tidak ada dampak real yang konkret yang bisa dirasakan oleh masyarakat dari berbagai diplomasi kita hari ini. Dari sisi investasi asing itu tidak naik atau tidak tumbuh, kemudian kebutuhan domestik juga tidak baik, dan keberpihakan Prabowo terhadap blok tertentu itu berimbas pada naiknya harga minyak BBM bahan bakar kita hari ini," katanya.
Kritik ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi strategi diplomasi internasionalnya.
Saleh menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk perjalanan luar negeri harus bisa dipertanggungjawabkan melalui manfaat yang terukur bagi kesejahteraan masyarakat luas, bukan sekadar seremoni di karpet merah internasional.
"Tapi kan kunjungan diplomasi internasional itu harus berbanding lurus dengan capaian. Nah capaian investasi luar negeri kita kan turun, bahkan kemudian kita juga menerima imbas dari kenaikan harga minyak global. Jadi itu tidak bisa merepresentasikan kondisi faktual yang ada di lapangan," ujarnya lagi.
Baca Juga: 'Saya Memang Tukang Lapor!' Firdaus Oiwobo Polisikan Tyo Eks Ketua BEM UGM Usai Kritik Prabowo
Publik kini menanti langkah konkret pemerintah untuk membuktikan bahwa rentetan kunjungan ke berbagai negara tersebut bukan sekadar upaya membangun citra di panggung dunia.
Tanpa hasil yang bisa dirasakan di kantong masyarakat, narasi kemajuan ekonomi melalui diplomasi akan kehilangan legitimasinya di mata publik.
"Kalau masyarakat tidak bisa menikmati hal itu secara konkret, maka itu bisa disebut hanya semboyan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
'Saya Memang Tukang Lapor!' Firdaus Oiwobo Polisikan Tyo Eks Ketua BEM UGM Usai Kritik Prabowo
-
'Suara Indonesia Penting!' Presiden Palestina Telepon Prabowo, Minta RI Terus Kawal Gaza
-
Prabowo Terima Utusan Qatar, Kerja Sama Investasi dan Pembangunan Jadi Fokus Pembahasan
-
Mana yang Turun Duluan? Banner Demo Mahasiswa di DPR Sindir Kenaikan BBM hingga Jabatan Prabowo
-
Bukan Gerakan Makar, Aliansi Cipayung: Cara Aparat Memperlakukan Kami Seolah Kami Melakukan Kudeta
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Aksi Copet di Tengah Zikir Monas: iPhone 13 Wartawan dan Dompet Jemaah Lenyap
-
Danantara Akui Banyak Masalah Luar Biasa Besar di BUMN, Janji Bereskan Utang Kereta Cepat
-
Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono
-
Danantara: Seluruh BUMN Properti Dalam Kondisi Tidak Baik, Akan Dikonsolidasikan
-
Kesukseskan Pemberantasan Judol Tak Hanya dari Turunnya Nominal Transaksi
-
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Kabupaten Biak Numfor
-
Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan 1 hingga 31 Agustus 2026 di Riau
-
Aston Villa Bungkam Indonesia All Stars 3-1 di GBK, Arkhan Kaka Cetak Gol Penghibur