News / Nasional
Rabu, 17 Juni 2026 | 21:04 WIB
Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Angga Saputra, menceritakan pengalamannya menjalani pengobatan penyakit perlemakan hati (fatty liver) dengan dukungan layanan BPJS Kesehatan. (Dok. BPJS Kesehatan)

Suara.com - Diagnosis penyakit perlemakan hati (fatty liver) sering kali memicu kecemasan ganda bagi penderitanya. Selain proses pemulihan yang memakan waktu, bayang-bayang biaya pengobatan tinggi juga menjadi beban pikiran.

Tantangan kesehatan itu dirasakan langsung oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Angga Saputra (30). Warga Kampung Polri Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini bahkan harus menjalani masa pemulihan intensif selama dua bulan.

Saat ditemui pada Selasa (26/5/2026), Angga membagikan cerita mengenai awal mula penanganan medis yang dijalaninya. Penyakit yang dideritanya harus dirujuk dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih spesifik.

"Awalnya saya datang berobat ke Puskesmas Cilandak terlebih dahulu. Namun kondisi saya ternyata membutuhkan penanganan medis yang jauh lebih spesifik. Akhirnya saya langsung dirujuk ke RSUD Pasar Minggu dengan alur yang sangat rapi. Petugas di sana juga memandu seluruh proses rujukan saya dengan sangat baik," ujar Angga.

Selama masa perawatan, Angga rutin menjalani kontrol berkala di rumah sakit. Tim medis kemudian mengarahkannya untuk menjalani puasa secara teratur dan menjaga pola makan sehari-hari demi mengembalikan fungsi hatinya secara normal.

"Saya merasa sangat tenang selama menjalani proses penyembuhan ini. Seluruh biaya pengobatan saya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Ditambah lagi, sikap para tenaga medis di rumah sakit sangat ramah kepada pasien. Pelayanan yang baik ini benar-benar membuat beban saya berkurang," ungkap Angga.

Kewajiban menjalani kontrol rutin selama dua bulan tentu menguras energi. Namun, masalah efisiensi waktu itu dapat teratasi berkat fitur Antrean Online pada Aplikasi Mobile JKN yang dimanfaatkan Angga saat berobat.

Fitur ini membantu memangkas waktu tunggu di fasilitas kesehatan sehingga proses pelayanan menjadi lebih praktis.

"Fitur Antrean Online itu betul-betul mengubah cara kita saat berobat. Proses pelayanannya sangat memudahkan para peserta di faskes. Sistem digital ini juga sangat menghemat waktu kerja saya sebagai PNS. Saya tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengantre lama," ujarnya.

Baca Juga: Iuran BPJS Gak Jadi Naik, Pemerintah Guyur Rp20 Triliun Demi Tambal Defisit

Angga mengaku telah merasakan langsung manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam dan membuatnya tidak ragu membagikan pandangan positif mengenai BPJS Kesehatan.

Menurut Angga, keberadaan BPJS Kesehatan telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat karena memberikan perlindungan saat menghadapi risiko kesehatan.

"Bagi saya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan BPJS Kesehatan adalah bermanfaat. Program ini hadir sebagai bantalan perlindungan yang sangat nyata bagi masyarakat. Keberadaannya memastikan warga menengah ke bawah tidak perlu cemas memikirkan biaya saat jatuh sakit. Semua orang kini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesembuhan," tegasnya.

Di akhir perbincangan, Angga berharap sistem pelayanan kesehatan berbasis digital dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, pengembangan layanan secara berkala penting untuk meningkatkan kenyamanan peserta.

"Semoga ke depan sistem pelayanan kesehatan ini bisa jauh lebih baik lagi. Saya juga berharap para pemangku kebijakan dapat meninjau kembali nominal iuran berkala. Jika memungkinkan, tarifnya bisa disesuaikan agar menjadi lebih murah bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini tentu akan sangat membantu meringankan beban finansial masyarakat," pungkas Angga.***

Load More