Suara.com - Diagnosis penyakit perlemakan hati (fatty liver) sering kali memicu kecemasan ganda bagi penderitanya. Selain proses pemulihan yang memakan waktu, bayang-bayang biaya pengobatan tinggi juga menjadi beban pikiran.
Tantangan kesehatan itu dirasakan langsung oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Angga Saputra (30). Warga Kampung Polri Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini bahkan harus menjalani masa pemulihan intensif selama dua bulan.
Saat ditemui pada Selasa (26/5/2026), Angga membagikan cerita mengenai awal mula penanganan medis yang dijalaninya. Penyakit yang dideritanya harus dirujuk dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih spesifik.
"Awalnya saya datang berobat ke Puskesmas Cilandak terlebih dahulu. Namun kondisi saya ternyata membutuhkan penanganan medis yang jauh lebih spesifik. Akhirnya saya langsung dirujuk ke RSUD Pasar Minggu dengan alur yang sangat rapi. Petugas di sana juga memandu seluruh proses rujukan saya dengan sangat baik," ujar Angga.
Selama masa perawatan, Angga rutin menjalani kontrol berkala di rumah sakit. Tim medis kemudian mengarahkannya untuk menjalani puasa secara teratur dan menjaga pola makan sehari-hari demi mengembalikan fungsi hatinya secara normal.
"Saya merasa sangat tenang selama menjalani proses penyembuhan ini. Seluruh biaya pengobatan saya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Ditambah lagi, sikap para tenaga medis di rumah sakit sangat ramah kepada pasien. Pelayanan yang baik ini benar-benar membuat beban saya berkurang," ungkap Angga.
Kewajiban menjalani kontrol rutin selama dua bulan tentu menguras energi. Namun, masalah efisiensi waktu itu dapat teratasi berkat fitur Antrean Online pada Aplikasi Mobile JKN yang dimanfaatkan Angga saat berobat.
Fitur ini membantu memangkas waktu tunggu di fasilitas kesehatan sehingga proses pelayanan menjadi lebih praktis.
"Fitur Antrean Online itu betul-betul mengubah cara kita saat berobat. Proses pelayanannya sangat memudahkan para peserta di faskes. Sistem digital ini juga sangat menghemat waktu kerja saya sebagai PNS. Saya tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengantre lama," ujarnya.
Baca Juga: Iuran BPJS Gak Jadi Naik, Pemerintah Guyur Rp20 Triliun Demi Tambal Defisit
Angga mengaku telah merasakan langsung manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam dan membuatnya tidak ragu membagikan pandangan positif mengenai BPJS Kesehatan.
Menurut Angga, keberadaan BPJS Kesehatan telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat karena memberikan perlindungan saat menghadapi risiko kesehatan.
"Bagi saya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan BPJS Kesehatan adalah bermanfaat. Program ini hadir sebagai bantalan perlindungan yang sangat nyata bagi masyarakat. Keberadaannya memastikan warga menengah ke bawah tidak perlu cemas memikirkan biaya saat jatuh sakit. Semua orang kini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesembuhan," tegasnya.
Di akhir perbincangan, Angga berharap sistem pelayanan kesehatan berbasis digital dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, pengembangan layanan secara berkala penting untuk meningkatkan kenyamanan peserta.
"Semoga ke depan sistem pelayanan kesehatan ini bisa jauh lebih baik lagi. Saya juga berharap para pemangku kebijakan dapat meninjau kembali nominal iuran berkala. Jika memungkinkan, tarifnya bisa disesuaikan agar menjadi lebih murah bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini tentu akan sangat membantu meringankan beban finansial masyarakat," pungkas Angga.***
Berita Terkait
-
Iuran BPJS Gak Jadi Naik, Pemerintah Guyur Rp20 Triliun Demi Tambal Defisit
-
BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun Per Bulan, Terancam Gagal Bayar
-
BPJS Kesehatan Beri Kepastian Jaminan Kesehatan Para Petugas SPPG
-
Aturan Baru BPJS Kesehatan untuk Pasien Kontrol Per Juni 2026, Simak agar Tak Ditolak!
-
Tio Pakusadewo Dirawat di RS Pakai BPJS Kelas 3, Dewi Irawan Inisiatif Buka Donasi
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak
-
Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026