-
Presiden Donald Trump menandatangani memorandum AS-Iran di lokasi bersejarah Istana Versailles, Prancis.
-
Lokasi tersebut merupakan tempat Woodrow Wilson mendiktekan Perjanjian Versailles yang memicu bangkitnya Adolf Hitler.
-
Kegagalan traktat tersebut berujung pada penolakan Kongres dan stroke fatal yang melumpuhkan Wilson.
Suara.com - Istana Versailles kembali menjadi saksi bisu keputusan geopolitik krusial Amerika Serikat yang berpotensi mengubah lanskap perdamaian dunia. Presiden Donald Trump resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) terbaru antara AS dan Iran di lokasi yang sarat memori kelam tersebut.
Pemilihan tempat ini memicu sorotan tajam para sejarawan global karena nilai historisnya yang kontroversial. Lokasi ini merupakan titik awal runtuhnya karier politik salah satu mantan Presiden AS terdahulu.
Dikutip dari CNN Internasional, langkah diplomasi ini secara tidak langsung menguak luka lama kegagalan traktat masa lalu di tanah Prancis. Sejarah mencatat tempat tersebut sebagai tempat lahirnya bibit radikalisme yang memicu Perang Dunia II.
Hampir 107 tahun berselang, memori kolektif dunia kembali ditarik pada peristiwa tanggal 28 Juni 1919. Kala itu, Presiden AS Woodrow Wilson menandatangani Perjanjian Versailles untuk menyudahi Perang Dunia I.
Kesepakatan sepihak itu didukung penuh oleh sekutu utama Washington, yakni Inggris dan Prancis. Di atas kertas, perjanjian tersebut menghentikan konfrontasi bersenjata empat tahun melawan Jerman.
Namun, cetak biru perdamaian tersebut sudah cacat sejak dalam proses perumusan awalnya. Alih-alih membuka ruang negosiasi yang adil, pasal-pasal perjanjian justru didiktekan secara paksa kepada Jerman.
Berlin dipaksa menerima tanggung jawab tunggal sebagai pemicu utama meletusnya perang besar tersebut. Konsekuensi logisnya, Jerman kehilangan wilayah kekuasaan seluas lebih dari 26.000 mil persegi.
Sanksi finansial juga mencekik dengan kewajiban membayar ganti rugi perang hingga hampir 5 miliar dolar. Seluruh koloni Jerman di luar negeri disita, dibarengi pembatasan ketat terhadap jumlah personel militer mereka.
Utusan resmi Jerman sempat melayangkan protes keras terhadap ketidakadilan pasal-pasal yang disodorkan sekutu. Mereka terpaksa menandatangani dokumen tersebut karena berada di bawah ancaman invasi militer dalam sepekan.
Baca Juga: Unik, Perjanjian Damai AS - Iran Dibuat dengan 2 Bahasa Ini
Rasa terhina warga Jerman inilah yang kemudian dimanfaatkan Adolf Hitler untuk mendulang simpati publik. Begitu meraih kekuasaan tertinggi, Hitler merobek kesepakatan Versailles dan membangun kembali kekuatan militer Jerman.
Di panggung domestik Amerika Serikat, warisan terbesar Wilson berupa pembentukan Liga Bangsa-Bangsa justru ditentang keras. Kongres dan masyarakat khawatir keterlibatan itu akan menyeret militer AS ke perang asing lainnya.
Voting ratifikasi di tingkat parlemen berujung kegagalan total sebanyak dua kali pada tahun 1919 dan 1920. Penolakan ini mematikan legitimasi Perjanjian Versailles di mata hukum domestik Amerika Serikat.
Washington akhirnya memilih jalan memutar dengan menandatangani perjanjian damai terpisah dengan Jerman pada tahun 1921. Penolakan publik ini menjadi pukulan telak bagi sisa masa jabatan Wilson.
Wilson sempat melakukan kampanye maraton lintas negara bagian demi menyelamatkan muka dan meratifikasi traktat tersebut. Perjalanan darat melebihi 10.000 mil selama musim panas 1919 itu menguras seluruh energi fisiknya.
Tepat pada 2 Oktober, Presiden Wilson terserang stroke parah yang membuatnya lumpuh secara total. Kondisi medis ini membuatnya tidak lagi mampu menjalankan roda pemerintahan secara efektif hingga akhir masa jabatannya.
Ketegangan geopolitik modern antara AS dan Iran kini memasuki babak baru lewat penandatanganan nota kesepahaman di Prancis. Langkah Presiden Donald Trump memilih Istana Versailles memicu perdebatan mengenai analogi historis penundukan negara lain.
Banyak pihak khawatir pendekatan sepihak tanpa negosiasi setara dapat mengulang kesalahan fatal abad ke-20. Publik global kini menanti apakah MoU ini membawa perdamaian nyata atau justru menyemai konflik baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Polisi Amankan 69 Orang di Eks Hotel Sultan, Sebut Massa yang Dimobilisasi
-
Negara Tegaskan Hak atas Lahan Eks Hotel Sultan: Kami Punya Akta yang Asli
-
HW Group Menang Gugatan Hak Cipta, Tuntutan Rp 4,9 Miliar Ari Bias Ditolak Pengadilan
-
Kemensos Salurkan Bantuan Isian Rumah hingga Jaminan Hidup bagi Korban Bencana di Sumatra
-
Aparat Jebol Pertahanan Massa Hotel Sultan, Provokator Diamankan dan Tamu Dievakuasi
-
Iran Keluarkan Ancaman Kalau Donald Trump Bohong dengan Perjanjian Damai
-
BTN dan Rumah123 Perkuat Ekosistem Properti Digital, Permudah Akses KPR dan Hunian
-
Memanas, Proses Pengosongan Lahan Hotel Sultan Diwarnai Aksi Lempar Batu
-
Bicara Rokok Murah untuk Warga Miskin Anggota DPR PAN Kena Semprot Forum Konsumen
-
Negara Rebut Paksa Lahan GBK dari Swasta, Minta 15 Bangunan Dikosongkan Serentak