News / Internasional
Kamis, 18 Juni 2026 | 13:07 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (x.com)
Baca 10 detik
  • Serangan drone jarak jauh Ukraina kembali menghantam dan membakar kilang minyak utama di Moskow.

  • Operasi militer Kyiv sengaja menargetkan infrastruktur energi untuk melumpuhkan sumber pendapatan perang Rusia.

  • KTT G7 merespons eskalasi dengan memperkuat sistem pertahanan udara guna mendukung penuh Ukraina.

Langkah sistematis Kyiv ini langsung memukul sektor paling sensitif karena sepertiga pendapatan anggaran negara Rusia bergantung pada minyak. Di tengah sanksi ketat Uni Eropa dan Washington, hilangnya kapasitas produksi lokal akan mempercepat kelumpuhan ekonomi.

Dampak nyata dari sabotase udara ini sudah mulai dirasakan di wilayah Krimea yang dicaplok Rusia sejak 2014 lalu. Kelangkaan bahan bakar dan pembatasan bensin terpaksa diberlakukan setelah jalur pasokan darat lumpuh total akibat serangan Ukraina.

Serangan masif ini juga terjadi bertepatan dengan momentum krusial saat para pemimpin dunia berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi G7. Di sela-sela pertemuan di Prancis tersebut, diplomasi intensif terus digalang oleh pihak Ukraina.

Zelensky secara khusus melakukan pembicaraan dengan Donald Trump guna membahas masa depan dukungan militer global bagi negaranya. Setelah pertemuan, Zelensky menyatakan bahwa komitmen penguatan sistem pertahanan udara Ukraina telah disepakati oleh seluruh anggota.

Sebelumnya, Trump sempat mendesak Rusia untuk segera mengambil langkah damai demi menghentikan konflik yang telah memasuki tahun kelima. Trump menyoroti besarnya jumlah korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak selama perang berlangsung.

“Rusia telah kehilangan banyak sekali orang, dan begitu juga Ukraina,” kata Trump.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menutup KTT dengan menegaskan bahwa para pemimpin dunia kini sadar Rusia tidak berniat damai. Situasi ini memicu perubahan besar dalam arah kebijakan dan pendekatan strategis Amerika Serikat terhadap konflik tersebut.

Load More