-
Iran menyiapkan rencana balasan militer jika Amerika Serikat melanggar kesepakatan damai terbaru.
-
Donald Trump mengklaim nota kesepahaman tersebut sebagai bentuk penyerahan diri Iran tanpa syarat.
-
Internal Partai Republik mengkritik tajam diplomasi Trump yang dinilai justru memperkuat posisi Iran.
Fase krusial ini dirancang sebagai jembatan menuju kesepakatan akhir demi menghentikan konfrontasi bersenjata secara permanen.
Namun, di dalam negeri AS sendiri, kesepakatan yang dibawa Trump justru memicu keretakan politik yang mendalam di Capitol Hill.
Sejumlah senator dari Partai Republik mulai meragukan efektivitas dari hasil negosiasi yang dipimpin oleh presiden mereka.
Bahkan, kelompok senator yang tidak menghadapi beban pemilu legislatif berikutnya secara terbuka mengkritik strategi diplomasi tersebut.
Sentimen negatif ini memperlihatkan adanya kekhawatiran bahwa AS justru berada dalam posisi yang dirugikan.
Senator Bill Cassidy dari Louisiana dengan tajam meringkas situasi tersebut.
"Iran ditinggalkan dalam posisi lebih kuat, kita ditinggalkan dalam posisi lebih lemah," kritik Cassidy.
Saat ditanya mengenai pelajaran kekuasaan yang ia dapatkan dari konflik ini, Trump memberikan jawaban yang mengejutkan publik.
"Tidak ada batasan," cetus Trump ringkas.
Baca Juga: Kiper Tanjung Verde Bahagia Sang Ibu Akhirnya Dapat Visa AS, Bisa Saksikan Langsung Piala Dunia
Ia merasa kekuatan militer Amerika Serikat telah memenangkan pertempuran sepenuhnya di medan laga.
"Tidak, tidak ada. Saya belum mempelajari pelajaran itu. Saya tahu ada batasan, tapi Anda tahu tidak ada batasan. Kita mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer," tegas Trump.
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus berada dalam siklus ketegangan tinggi yang melibatkan konfrontasi militer dan sanksi ekonomi.
Nota kesepahaman (MOU) terbaru ini awalnya diharapkan menjadi jalan keluar untuk meredam perang yang telah menguras energi kedua belah pihak.
Namun, perbedaan interpretasi antara klaim kemenangan sepihak Washington dan ketegasan sikap Teheran kini mengancam masa depan gencatan senjata tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Pemprov Jabar Tingkatkan Akses Pekerja Informal terhadap BPJS Ketenagakerjaan
-
KPK Dalami Dugaan Illegal Gain Rp 27,8 Miliar Maktour di Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Mahasiswa Trisakti hingga Tani Merdeka Gelar Demo Hari Ini, 4.263 Polisi Berjaga di 5 Titik Jakpus
-
Kemenag Sudah Cairkan Insentif Tahap II untuk Guru PAI Non ASN dan Non Sertifikasi
-
Dugaan Mark Up Proyek MBG, Kejagung Amankan 17.600 Unit Motor Listrik dan Segel Dua Gudang
-
Program Mangrove NHM di Kao Berhasil Pulihkan Kawasan Pesisir dan Tingkatkan Ketahanan Lingkungan
-
Dua Sekolah Rakyat Permanen di Pasuruan Siap Gelar Open House pada Juli
-
Jakarta Janjikan Kawasan Pedestrian Modern Bebas Genangan di Rasuna Said
-
Tentara Israel Tewas Terbunuh di Ledakan Dahsyat di Lebanon, Belasan Lain Luka Parah
-
Efek Domino Pertamax: Biaya Pangan Meroket, Keuntungan Agribisnis Amblas Digilas Logistik