-
Donald Trump mengklaim memorandum kesepahaman dengan Iran merupakan bentuk penyerahan tanpa syarat dari musuh.
-
Kebijakan luar negeri tersebut memicu keraguan besar dan kritik tajam dari internal Senat Republik.
-
Trump menegaskan kekuasaan eksekutif presiden tidak memiliki batasan setelah kemenangan total secara militer.
Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan bahwa memorandum kesepahaman terbaru dengan Iran merupakan bentuk penyerahan tanpa syarat dari negara tersebut. Kesepakatan ini sekaligus diklaim menjadi bukti nyata betapa luasnya otoritas absolut yang dimiliki oleh seorang presiden Amerika Serikat.
Langkah diplomasi sepihak ini langsung memicu pergolakan politik internal yang sangat sengit di Washington. Sejumlah politisi senior dari partai pendukung Trump mulai mempertanyakan arah kebijakan luar negeri yang diambil oleh Gedung Putih.
Sikap percaya diri Trump terlihat jelas saat dirinya memaparkan kekuatan angkatan bersenjata Amerika Serikat yang berada di bawah komandonya. Pemimpin bertenaga tersebut merasa berada di atas angin dalam menentukan arah konflik geopolitik ini.
“Kita memiliki militer paling kuat di dunia, sejauh ini,” ujar Trump kepada Marc Caputo dari Axios dalam sebuah rekaman wawancara, dikutip CNN Internasional, Jumat (19/6/2026).
Jurnalis tersebut kemudian menyela pernyataan sang presiden dengan mengingatkan kembali janji kampanye awal terkait penyelesaian konflik komprehensif tersebut. Caputo menilai isi draf memorandum luar negeri yang disepakati saat ini sangat jauh dari ekspektasi publik.
“Nah, ini sebenarnya mungkin adalah penyerahan tanpa syarat,” jawab Trump membela hasil kesepakatannya.
Mendengar respons tersebut, Caputo kembali mengejar kepastian dari argumen sepihak yang dilontarkan oleh sang presiden.
“Masa?” desak Caputo sebelum Trump akhirnya menjawab: “Saya kira begitu.”
Pernyataan kontroversial ini muncul tepat setelah diplomasi formal Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang krusial. Kedua negara resmi menandatangani memorandum untuk memulai masa negosiasi damai selama 60 hari ke depan.
Baca Juga: Donald Trump: Kalau Iran Tak Bersikap Baik, Amerika Akan Jatuhkan Bom di Atas Kepala Mereka
Kabar mengenai detail kesepakatan rahasia tersebut langsung mengejutkan para petinggi politik di Capitol Hill. Berdasarkan laporan internal, beberapa anggota dewan bahkan memilih bungkam karena terlalu syok melihat konsesi yang diberikan.
Kini, faksi kuat di dalam tubuh Senat Republik secara terbuka meragukan efektivitas poin-poin yang dirundingkan oleh Trump. Mereka mendesak agar pemerintah segera merombak total strategi diplomasi yang sedang berjalan saat ini.
Gelombang penolakan paling keras justru datang dari para politisi senior yang sudah tidak memiliki beban pemilu legislatif berikutnya. Mereka tanpa ragu melayangkan kritik tajam terhadap produk hukum yang dinilai merugikan posisi domestik.
Senator Bill Cassidy dari Louisiana mengkritik tajam hasil diplomasi tersebut dengan sebuah kalimat yang sangat menohok.
“Iran menjadi lebih kuat, kita menjadi lebih lemah.”
Di sisi lain, publik menanti penayangan lengkap wawancara eksklusif yang dijadwalkan mengudara pada hari Jumat waktu setempat. Fokus utama pembahasan mengarah pada pemahaman Trump mengenai batasan konstitusional lembaga eksekutif pascakonflik teranyar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis