News / Internasional
Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:47 WIB
India terjebak dalam ketergantungan akut terhadap program bantuan tunai atau BLT demi menyelamatkan jutaan warga miskin dari kelaparan. (BBC)
Baca 10 detik
  • Anggaran bantuan tunai India melonjak hingga Rp473 triliun dan memicu defisit anggaran parah.

  • Skema bantuan bulanan menguras dana belanja modal yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

  • Ketergantungan bantuan tunai menghambat penciptaan lapangan kerja jangka panjang bagi masyarakat miskin.

Investasi skala kecil ini memangkas ongkos transportasi serta membuka keran pendapatan baru bagi keluarganya sehari-hari.

Langkah inovatif ini menghadapi tantangan besar jika diterapkan dalam skala nasional karena risiko penyalahgunaan dana yang cukup tinggi.

Anggaran negara juga akan terbebani berat jika seluruh pembayaran langsung dicairkan dalam satu tahun fiskal tunggal.

Dr. Vidya Mahambare, profesor ekonomi dari Great Lakes Institute Chennai, memperingatkan bahwa fokus utama pemerintah harus tetap pada penciptaan lapangan kerja.

"Uang tunai dapat meredam konsumsi, tetapi tidak dapat menggantikan pekerjaan. Dan begitu keluarga menjadi bergantung pada transfer, sangat sulit untuk menariknya kembali," tegas Vidya Mahambare kepada BBC.

Program bantuan tunai langsung di India awalnya dirancang sebagai instrumen perlindungan sosial bagi kelompok perempuan dan petani miskin. Krisis konsumsi domestik serta tingginya angka pengangguran usia muda memaksa pemerintah memperluas cakupan program ini secara masif.

Ekspansi jaring pengaman sosial yang tidak terkontrol kini membebani ruang fiskal negara bagian dengan utang komersial yang mengkhawatirkan.

Pemerintah India dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga popularitas politik lewat subsidi atau mendanai infrastruktur pertumbuhan masa depan.

Baca Juga: Sinopsis Main Vaapas Aaunga, Film India Terbaru Diljit Dosanjh dan Sharvari

Load More