- Migrant Watch mendesak pemerintah mengusut tuntas kematian sekitar 600 pekerja migran asal NTT selama periode tahun 2019 hingga 2024.
- Ditemukan kejanggalan berupa bekas sayatan pada jenazah yang bertentangan dengan penjelasan medis resmi terkait penyebab kematian para pekerja migran.
- Koalisi masyarakat sipil menuntut pembentukan satgas nasional guna melakukan investigasi komprehensif terhadap dugaan perdagangan orang dan praktik perdagangan organ tubuh.
Suara.com - Koalisi masyarakat sipil Migrant Watch mendesak pemerintah mengusut tuntas kematian ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal di luar negeri. Mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan, termasuk dugaan praktik perdagangan organ tubuh.
Dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2026), Ketua Tim Kajian Migrant Watch Triana Dewi Seroja mengungkapkan, sekitar 600 PMI asal NTT meninggal dunia sepanjang periode 2019 hingga 2024.
"Dari 2019 sampai 2024, itu sekitar ada 600 orang dari NTT itu yang meninggal dunia," ujar Triana.
Triana mengkritik penjelasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) yang disebut menyimpulkan penyebab kematian para PMI hanya karena dehidrasi atau kurang minum air putih tanpa didukung hasil autopsi.
Menurutnya, kesimpulan tersebut tidak dapat dijadikan dasar apabila tidak disertai pemeriksaan medis yang menyeluruh.
"Jawabannya beliau karena kekurangan minum air putih. Jadi polanya itu sering minum kopi dan minuman stamina. Saya tanya apakah perlu dilakukan otopsi? Kalau tidak pernah jangan membuat kesimpulan, tapi ini harus diselidiki, ini harus ditelusuri apa penyebabnya meninggal," tegasnya.
Senada dengan Triana, tokoh kemanusiaan asal Indonesia Timur, Jose Sarmento, mengaku menemukan sejumlah kejanggalan pada kondisi jenazah PMI yang dipulangkan ke Tanah Air.
Ia menyebut beberapa jenazah memiliki bekas sayatan dan jahitan yang dinilai tidak selaras dengan keterangan medis yang diterima keluarga.
"Bukan cuman kembali kantong jenazah, tetapi sering kali di dalam itu tubuh jenazah itu sudah ada bekas sayatan dan jahitan. Mungkin bisa kita simpulkan organ tubuhnya dijual. Tapi tidak ada pemeriksaan lebih lanjut," kata Jose.
Baca Juga: Kebakaran Kebon Kosong Kemayoran: 250 Rumah Hangus, Ratusan Warga Kini Mengungsi di Tenda Darurat
Meski demikian, Jose tidak menyampaikan bukti yang mengonfirmasi dugaan tersebut. Ia menilai dugaan itu perlu diusut melalui penyelidikan yang komprehensif.
Ia juga mempertanyakan adanya bekas sayatan pada jenazah apabila penyebab kematian disebut akibat serangan jantung atau penyakit ginjal.
"Kalau alasan kematiannya ini sakit karena serangan jantung atau sakit karena ginjal, terus kenapa ada sayatan dalam tubuh jenazah itu?" ujarnya.
Direktur Migrant Watch, Asmil Tan, menilai tingginya angka kematian PMI asal NTT merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama bagi pekerja migran di sektor informal di Malaysia Timur.
"Setiap tahun ada 100 lebih kantong mayat, atau peti jenazah dikirim ke NTT. Artinya, ini sudah sangat miris. Malah ditemukan mereka itu korban perdagangan organ tubuh," katanya.
Pernyataan tersebut merupakan dugaan yang disampaikan Migrant Watch dan belum dibuktikan melalui proses hukum.
Atas berbagai temuan tersebut, Migrant Watch mendesak pemerintah pusat membentuk satuan tugas (Satgas) nasional lintas kementerian untuk mengusut penyebab kematian para PMI secara menyeluruh, termasuk menelusuri kemungkinan adanya tindak pidana perdagangan orang maupun perdagangan organ tubuh apabila ditemukan bukti yang cukup.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Demo Mahasiswa Kepung DPR Hari Ini, Protes BBM Naik hingga MBG: Skripsi Saja Ada Direvisi!
-
BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Promo Spesial Puma Speedcat Ballet dengan Bonus Gift Card
-
KPK Lelang Barang Rampasan Koruptor, iPhone XS Rp 231 Ribu Laku Rp 34 Juta
-
AMMSI Dukung MBG Ditiadakan Saat Libur Sekolah, Tegaskan Tolak Praktik 'Jual Beli Titik' Dapur Liar
-
Ribuan Mahasiswa Geruduk DPR Demo Harga BBM, Jalan Gatot Subroto Ditutup
-
Tersangka Kasus Korupsi Haji Asrul Aziz Ajukan Penangguhan Penahanan
-
Aksi di DPR, PB HMI MPO Angkat Patung Jelangkung dan Serukan 'Pembebasan Nasional'
-
Bukan Urusan Politik, Mensesneg Bongkar Isi Pertemuan Didit Hediprasetyo dan Jokowi
-
LPDB Koperasi Perkuat Ekosistem Koperasi, KKMP Sampangan dan KUD Usaha Mina Jadi Contoh Usaha Produk
-
WFH dari Hambalang, Prabowo Bahas Naturalisasi hingga Masa Depan Timnas Indonesia