News / Nasional
Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB
Koalisi masyarakat sipil Migrant Watch mendesak pemerintah mengusut tuntas kematian ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal di luar negeri. (Suara.com/Tiara Rosana)
Baca 10 detik
  • Migrant Watch mendesak pemerintah mengusut tuntas kematian sekitar 600 pekerja migran asal NTT selama periode tahun 2019 hingga 2024.
  • Ditemukan kejanggalan berupa bekas sayatan pada jenazah yang bertentangan dengan penjelasan medis resmi terkait penyebab kematian para pekerja migran.
  • Koalisi masyarakat sipil menuntut pembentukan satgas nasional guna melakukan investigasi komprehensif terhadap dugaan perdagangan orang dan praktik perdagangan organ tubuh.

Suara.com - Koalisi masyarakat sipil Migrant Watch mendesak pemerintah mengusut tuntas kematian ratusan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal di luar negeri. Mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan, termasuk dugaan praktik perdagangan organ tubuh.

Dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2026), Ketua Tim Kajian Migrant Watch Triana Dewi Seroja mengungkapkan, sekitar 600 PMI asal NTT meninggal dunia sepanjang periode 2019 hingga 2024.

"Dari 2019 sampai 2024, itu sekitar ada 600 orang dari NTT itu yang meninggal dunia," ujar Triana.

Triana mengkritik penjelasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) yang disebut menyimpulkan penyebab kematian para PMI hanya karena dehidrasi atau kurang minum air putih tanpa didukung hasil autopsi.

Menurutnya, kesimpulan tersebut tidak dapat dijadikan dasar apabila tidak disertai pemeriksaan medis yang menyeluruh.

"Jawabannya beliau karena kekurangan minum air putih. Jadi polanya itu sering minum kopi dan minuman stamina. Saya tanya apakah perlu dilakukan otopsi? Kalau tidak pernah jangan membuat kesimpulan, tapi ini harus diselidiki, ini harus ditelusuri apa penyebabnya meninggal," tegasnya.

Senada dengan Triana, tokoh kemanusiaan asal Indonesia Timur, Jose Sarmento, mengaku menemukan sejumlah kejanggalan pada kondisi jenazah PMI yang dipulangkan ke Tanah Air.

Ia menyebut beberapa jenazah memiliki bekas sayatan dan jahitan yang dinilai tidak selaras dengan keterangan medis yang diterima keluarga.

"Bukan cuman kembali kantong jenazah, tetapi sering kali di dalam itu tubuh jenazah itu sudah ada bekas sayatan dan jahitan. Mungkin bisa kita simpulkan organ tubuhnya dijual. Tapi tidak ada pemeriksaan lebih lanjut," kata Jose.

Baca Juga: Kebakaran Kebon Kosong Kemayoran: 250 Rumah Hangus, Ratusan Warga Kini Mengungsi di Tenda Darurat

Meski demikian, Jose tidak menyampaikan bukti yang mengonfirmasi dugaan tersebut. Ia menilai dugaan itu perlu diusut melalui penyelidikan yang komprehensif.

Ia juga mempertanyakan adanya bekas sayatan pada jenazah apabila penyebab kematian disebut akibat serangan jantung atau penyakit ginjal.

"Kalau alasan kematiannya ini sakit karena serangan jantung atau sakit karena ginjal, terus kenapa ada sayatan dalam tubuh jenazah itu?" ujarnya.

Direktur Migrant Watch, Asmil Tan, menilai tingginya angka kematian PMI asal NTT merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama bagi pekerja migran di sektor informal di Malaysia Timur.

"Setiap tahun ada 100 lebih kantong mayat, atau peti jenazah dikirim ke NTT. Artinya, ini sudah sangat miris. Malah ditemukan mereka itu korban perdagangan organ tubuh," katanya.

Pernyataan tersebut merupakan dugaan yang disampaikan Migrant Watch dan belum dibuktikan melalui proses hukum.

Atas berbagai temuan tersebut, Migrant Watch mendesak pemerintah pusat membentuk satuan tugas (Satgas) nasional lintas kementerian untuk mengusut penyebab kematian para PMI secara menyeluruh, termasuk menelusuri kemungkinan adanya tindak pidana perdagangan orang maupun perdagangan organ tubuh apabila ditemukan bukti yang cukup.

Load More