- Jakarta merayakan hari ulang tahun ke-499 pada 22 Juni 2026 dengan rangkaian festival kolosal bertema era baru.
- Pemprov Jakarta menyediakan akses gratis ke berbagai tempat wisata serta transportasi umum bagi masyarakat luas.
- Perayaan ini menuai kritik karena dianggap mengabaikan ketimpangan ekonomi dan hak warga marginal di Jakarta.
Bagi jutaan warga Jakarta, gempita ulang tahun kota sering kali terasa seperti kebisingan yang berjarak. Kehidupan sehari-hari yang mencekik membuat perayaan ini kalah penting dibanding urusan dapur.
"Kadang malah baru keingetnya kalau udah pembukaan PRJ, jadinya tahu kalau bentar lagi HUT," ungkap Esti, warga asli Betawi yang masih bertahan di tengah kepungan beton Jakarta.
Angka-angka ekonomi bercerita dengan jujur tentang ketimpangan ini. Data BPS per Februari 2026 mencatat rata-rata upah buruh berada di angka Rp5,23 juta per bulan.
Padahal, kebutuhan hidup layak di Jakarta telah meroket hingga Rp14,88 juta. Selisih yang menganga ini memaksa banyak warga untuk terus berlari kencang hanya agar tidak tenggelam, bukan untuk merayakan pesta.
Bagi pedagang kaki lima (PKL), HUT Jakarta bahkan bisa mendatangkan kecemasan.
Demi "estetika kota global," penertiban sering kali dilakukan dengan dalih mempercantik jalanan. Belum lagi luka lama warga di Kampung Bayam, Akuarium, hingga Tongkol yang masih berjuang demi pengakuan legal atas tanah mereka. Tanpa kepastian tempat tinggal, kata "inklusif" dalam tema ulang tahun kota terasa seperti janji manis yang hampa.
Betawi: Lebih dari Sekadar Etalase dan Ondel-ondel
Di panggung-panggung resmi, budaya Betawi selalu menjadi jualan utama. Lenong tampil memikat, ondel-ondel melenggang jenaka, dan musik tanjidor menyemarakkan suasana. Namun, kemeriahan visual ini justru menyisakan keresahan bagi sebagian komunitas Betawi.
Ondel-ondel, yang dulu merupakan figur ritual sakral penolak bala, kini lebih sering terlihat kumal di pinggir jalan, dijadikan alat mengamen. Ini adalah potret paling muram dari komodifikasi budaya: makna sakral yang dilucuti demi sesuap nasi.
Baca Juga: Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser
Widyanta menilai kebudayaan Betawi kini cenderung hanya menjadi "kosmetik" untuk memenuhi citra kota.
Meskipun pemerintah telah membangun Setu Babakan sebagai benteng pertahanan budaya, upaya tersebut sering dikritik karena bersifat superfisial—sebuah "etalase" yang cantik namun gagal menyentuh akar persoalan ekonomi warganya.
"Inklusivitas sejati tidak dirayakan lewat festivalisasi pertunjukan seni atau panggung musik setahun sekali, melainkan lewat kebijakan tata ruang, redistribusi ekonomi yang adil, dan pengakuan nyata atas hak hidup warga kelas bawah di atas tanah Jakarta setiap harinya," tegas Widyanta.
Persoalan ini kian pelik karena masalah ruang.
Gentrifikasi perlahan tapi pasti telah mengusir banyak warga Betawi ke pinggiran kota. Mereka adalah pemilik budaya yang dirayakan, namun bukan lagi penghuni kota tempat budaya itu dipentaskan.
"Ulang tahun Jakarta, tapi anak-anak Betawinya udah banyak yang hilang," keluh Nares, warga Betawi yang kini terlempar ke perbatasan Jakarta dan Tangerang Selatan akibat penggusuran di masa kecilnya.
Ketika Panggung Dibongkar
Setiap pesta pasti usai.
Lampu-lampu sorot akan dipadamkan, panggung megah akan dibongkar, dan ondel-ondel akan kembali disimpan di gudang. Esok harinya, Jakarta akan kembali menjadi dirinya yang asli: kota yang berdenyut keras, penuh kontradiksi, dan masih berutang janji pada mereka yang termarginalkan.
Satu tahun lagi, Jakarta akan menyentuh angka 500. Tekanan untuk tampil sempurna di mata dunia akan semakin besar. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah buruh harian, pemulung, PKL, dan seniman Betawi akan ikut merayakan, atau kembali menjadi penonton di balik pagar?
Gubernur Pramono Anung memang telah berikrar bahwa misi membawa Jakarta ke panggung dunia harus tetap mempertimbangkan nilai luhur pemilik rumah. Budaya Betawi dicanangkan sebagai ruh utama tata kelola, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.
Tapi bagi warga yang setiap hari bergelut dengan debu jalanan, retorika itu baru akan berarti jika keadilan benar-benar mendarat di depan pintu rumah mereka.
Sebelum itu terjadi, pesta ulang tahun Jakarta mungkin hanyalah gemerlap yang bersinar untuk mereka yang ada di puncak, sementara yang di bawah tetap meraba dalam bayang-bayang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung