News / Nasional
Minggu, 07 Juni 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi Selendang Mayang Bu Widya Bintaro.[Suara.com/ Ai]
Baca 10 detik
  • Bu Widya, warga Bintaro, tetap memproduksi Selendang Mayang demi menjaga warisan resep keluarga dari kepunahan di Jakarta.
  • Minuman tradisional ini kini semakin sulit ditemukan karena perubahan tren selera masyarakat dan minimnya generasi penerus.
  • Produksi Selendang Mayang dilakukan dalam jumlah terbatas untuk menjaga kualitas rasa di tengah tantangan ekonomi dan modernisasi.

Suara.com - Di saat Jakarta terus berlari mengejar masa depan, Bu Widya memilih bertahan menjaga masa lalu.

Siang itu, perempuan paruh baya tersebut berdiri di teras rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Di hadapannya, loyang berisi Selendang Mayang yang baru selesai dibuat.

Tangannya lincah memotong lembaran kenyal berwarna merah, putih, dan hijau, lalu menyusunnya ke dalam gelas sebelum menyiramkan santan dan gula merah.

Tak ada antrean pembeli yang menunggu. Tak ada pula keramaian seperti yang lazim ditemui di gerai-gerai minuman kekinian yang kini menjamur di Jakarta.

Yang ada hanyalah Bu Widya dan sebuah resep lama yang masih ia pertahankan, ketika semakin sedikit orang yang mencarinya.

"Saya juga kadang kalau ada satu atau dua orang yang minta, kepengin, tetep saya buatin. Kadang kasihan soalnya," katanya sambil tersenyum saat berbincang dengan Suara.com.

Ucapan itu terdengar ringan.

Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang tidak sederhana. Salah satu kuliner khas Betawi itu kini bertahan berkat kesetiaan segelintir orang yang belum rela melupakannya.

Jakarta tahun ini akan menginjak usia 499 tahun.

Baca Juga: Rekomendasi Akhir Pekan di Jakarta: Dari Indofest hingga Pameran Keris Nasional

Kota ini terus berubah. Gedung-gedung baru berdiri hampir setiap saat. Jalur transportasi semakin panjang. Kedai kopi dan minuman kekinian tumbuh di mana-mana, menawarkan rasa-rasa baru yang cepat menjadi tren lalu memenuhi media sosial.

Di tengah perubahan itu, Selendang Mayang seperti berjalan dalam waktu yang berbeda. Ia tetap sama seperti puluhan tahun lalu.

Selendang Mayang Bu Widya di Bintaro, Jakarta Selatan. [Suara.com/Adiyoga]

Dari Hajatan ke Kenangan

Bagi banyak orang Betawi, Selendang Mayang bukan sekadar minuman. Ia adalah bagian dari masa kecil.

Dulu, minuman ini mudah ditemukan di hajatan, pesta pernikahan, pasar malam, hingga berbagai perayaan keluarga. Kehadirannya hampir selalu menjadi penanda keramaian.

Namanya pun terdengar puitis.

Load More