- Ketimpangan upah buruh dengan standar kebutuhan hidup layak di Jakarta memicu penyusutan drastis jumlah kelas menengah.
- Jelang HUT ke-499 Jakarta, warga merasa semakin sulit menabung, memiliki rumah, dan terbebani oleh jam kerja.
- Cita-cita untuk hidup "cukup" kini bergeser dari standar awal menjadi tujuan akhir yang sulit diraih.
Suara.com - Menjelang ulang tahunnya yang ke-499, Jakarta tengah bersolek. Spanduk perayaan terpasang di berbagai sudut kota.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusung tema "Bergerak Menuju Era Baru Jakarta" dengan slogan besar: Menuju 5 Abad Jakarta. Sebuah logo dengan efek lorong waktu diperkenalkan sebagai simbol perjalanan menuju usia setengah milenium.
Jakarta bersiap merayakan sejarah panjangnya.
Namun bagi Rizal, perayaan itu terasa jauh dari kehidupan sehari-harinya.
Ia tidak meminta banyak. Bukan rumah mewah, bukan mobil baru, apalagi liburan ke luar negeri. Rizal hanya ingin bisa menjalani akhir bulan tanpa rasa cemas. Tidur nyenyak tanpa harus menghitung ulang sisa uang di rekening sebelum gajian berikutnya tiba.
“Rasanya kok makin susah, bukan makin enak,” katanya saat berbincang dengan Suara.com.
Di atas kertas, penghasilannya masih masuk kategori kelas menengah. Namun setiap memasuki pertengahan bulan, kegelisahan mulai datang.
Bukan karena gaya hidup berlebihan. Melainkan karena kebutuhan hidup yang terus merangkak naik, sementara ruang untuk bernapas semakin sempit.
Kota Global
Baca Juga: Jakarta 'Bersih-bersih' Parkir Liar: 456 Pelanggaran Ditindak, 11 Jukir Liar Diciduk
Pada 22 Juni 2026 nanti, Jakarta genap berusia 499 tahun. Kota ini telah melewati masa kolonial, revolusi, reformasi, hingga kini bersiap memasuki babak baru setelah tak lagi menyandang status ibu kota negara.
Narasi yang dibangun pemerintah adalah tentang transformasi menuju kota global yang modern dan berkelanjutan.
Tetapi di balik narasi besar itu, tersimpan kenyataan yang jauh lebih rumit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah buruh per Februari 2026 berada di angka Rp5,23 juta per bulan. Sementara kebutuhan hidup layak di Jakarta diperkirakan mencapai Rp14,88 juta per bulan.
Selisih yang menganga itu menjadi gambaran betapa banyak warga yang harus terus berlari hanya untuk tetap berada di tempat yang sama.
Mereka bekerja, menerima gaji setiap bulan, tetapi semakin sulit merasa aman secara finansial.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Qadari Bantah Pemerintah Tone Deaf di Tengah Tekanan Ekonomi: Kritik Masyarakat Didengar
-
RS Pondok Indah Beroperasi Tanpa SLF Aktif Sejak 2024: Sedang Proses Perpanjangan
-
Pecah Kongsi? Donald Trump Ultimatum Benjamin Netanyahu: Bibi, Kamu Harus Hati-hati
-
BPJS Kesehatan Beri Kepastian Jaminan Kesehatan Para Petugas SPPG
-
Bupati Muara Enim Edison Tiba di KPK Usai Terjaring OTT
-
Qadari Bocorkan Jurus Main Saham Saat IHSG Bergejolak: Cuan 40 Persen Langsung Out
-
Donald Trump Pede Akan Umumkan Kemenangan Mutlak Perang dengan Iran
-
DPR Bersiap Sahkan RUU Polri Hari Ini, Keputusan Final Ditentukan di Paripurna
-
Jual Mobil Demi Keliling Dunia, Pesepeda Wanita Iran Ini Ungkap Rahasia Bahagia Lewat 'Slow Life'
-
Ayatollah Mojtaba Khamenei: Rezim Zionis Goyang, Tunggu Beberapa Hari Lagi Berakhir