Suara.com - Wilayah pinggiran kota atau suburban saat ini menjadi pilihan banyak masyarakat perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 60,7 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan. Namun, meningkatnya harga lahan dan hunian di pusat kota mendorong banyak orang mencari tempat tinggal yang lebih terjangkau di wilayah pinggiran.
Di satu sisi, kawasan suburban menawarkan hunian yang lebih luas dengan harga relatif lebih rendah. Namun di sisi lain, pola permukiman ini ternyata menyimpan dampak lingkungan yang tidak kecil.
Desain kawasan suburban berkontribusi pada emisi
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability berjudul “Neighbourhood Design and the Environmental and Social Costs of Suburbanization” menunjukkan bahwa dampak lingkungan kawasan suburban tidak hanya dipengaruhi oleh jarak ke pusat kota, tetapi juga oleh desain kawasan itu sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh asisten profesor perencanaan kota dan ilmu data di Yale School of the Environment, Arianna Salazar-Miranda, menganalisis lebih dari 60.000 lingkungan permukiman di Amerika Serikat.
Studi ini berfokus pada konsep Garden City Design (GCD), yaitu model perencanaan kawasan suburban yang banyak berkembang setelah Perang Dunia II. Ciri utamanya adalah jalan berkelok, banyak jalan buntu, serta jaringan jalan yang tidak saling terhubung secara langsung.
Menurut Arianna, selama ini perhatian terhadap dampak suburbanisasi lebih banyak tertuju pada jarak ke pusat kota. Padahal, desain lingkungan juga memiliki kontribusi besar terhadap dampak sosial dan lingkungan.
“Saat ini, pembicaraan hampir seluruhnya tentang jarak ke pusat kota, dan itu penting, tetapi bagian penting dan yang sering diabaikan dari biaya tersebut berasal dari bagaimana lingkungan perumahan dirancang. Jalan-jalan yang berkelok-kelok dan jalan buntu mengubah perjalanan singkat dan langsung untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, menjalankan tugas, dan rekreasi menjadi perjalanan yang lebih panjang,” ujarnya.
Emisi lebih tinggi dan dampak sosial
Baca Juga: KRL hingga Whoosh Jadi Andalan KAI Tekan Emisi Karbon
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan dengan tingkat GCD yang tinggi menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih besar, tingkat isolasi sosial lebih tinggi, serta gaya hidup yang lebih sedentari atau minim aktivitas fisik.
Temuan lain menyebutkan bahwa desain kawasan tersebut dapat menambah sekitar 0,26 metrik ton emisi gas rumah kaca per orang per tahun.
Dengan demikian, persoalan suburbanisasi tidak hanya soal lokasi yang jauh dari pusat kota, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dirancang.
Peluang perbaikan desain kota
Arianna menilai dampak tersebut sebenarnya masih bisa dikurangi melalui perencanaan kota yang lebih baik. Kawasan pinggiran yang sudah ada maupun yang sedang dikembangkan dinilai memiliki peluang untuk dirancang ulang agar lebih ramah lingkungan dan mendukung mobilitas berkelanjutan.
“Kita dapat meningkatkan hasil di daerah pinggiran kota yang sudah ada dan untuk daerah pinggiran kota baru yang sedang dibangun saat ini. Kita tidak perlu mengulangi kesalahan desain abad ke-20,” katanya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat
-
Massa Aksi di Balai Kota Depok Tuntut Kelanjutan Program MBG: Demi Sejahterakan Petani dan Nelayan
-
Arahan Prabowo ke Bahlil: Pastikan Pemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa Tak Terulang
-
Perlawanan Terakhir Nadiem Makarim Jelang Putusan, Ini yang Akan Diungkap
-
Detik-detik Iran Batalkan Perundingan Gegara Trump Bikin Ulah, JD Vance Kena Getahnya
-
KPAI Sesalkan Pelibatan Siswa dalam Aksi Dukung MBG di Batam: Itu Eksploitasi dan Manipulasi Anak!
-
Prabowo ke Jawa Timur, Hadir Peresmian Jalan dan Penutupan Munas NU
-
Legislator PDIP Kritik Ekspansi Bioskop: Jangan Sampai Jadi Risiko Baru bagi Industri Film
-
Jokowi Siap Hadir Tunjukan Ijazah di Persidangan Roy Suryo dan dr Tifa
-
Jokowi Tak Ambil Pusing Soal Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa, Kuasa Hukum Sentil Dugaan Intervensi