- Dua peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia tahun 2026 meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran di Balikpapan dan Baturaja.
- Penyebab kematian kedua korban dipastikan akibat serangan panas atau heat stroke serta henti jantung saat menjalani pelatihan.
- Kementerian Pertahanan berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar pengawasan medis dan prosedur seleksi guna mencegah insiden serupa terulang.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan administratif, Kemhan bersama TNI memastikan bahwa pihak keluarga korban mendapatkan pendampingan yang semestinya.
“Kemenhan maupun TNI sudah memberikan pendampingan kepada keluarga. Kami pastikan proses pelaksanaan sesuai prosedur," kata dia.
Evaluasi Menyeluruh
Kematian dua peserta ini memicu sorotan publik mengenai standar keamanan dan pengawasan medis dalam latihan fisik intensitas tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Kemhan menyatakan komitmennya untuk melakukan audit dan evaluasi mendalam terhadap seluruh ekosistem program SPPI.
Evaluasi ini mencakup aspek seleksi kesehatan awal, pengawasan medis selama latihan berlangsung, hingga efektivitas sistem pelaporan darurat di lapangan.
Kemhan berupaya memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan, mengingat besarnya skala program ini.
Program SPPI sendiri merupakan proyek ambisius pemerintah yang melibatkan puluhan ribu pemuda.
Tercatat, sebanyak 30.000 calon pengelola KDMP dan 5.476 calon pengelola KNMP mengikuti program ini.
Baca Juga: Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer
Pelatihan ini dirancang sebagai kombinasi antara Latsarmil Komponen Cadangan (Komcad) dan pelatihan manajerial profesional.
Berita Terkait
-
Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer
-
Pelatihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Merah Putih, Apa Urgensinya?
-
Pembangunan PLTS Koperasi Pertama di Indonesia Capai 80 Persen
-
Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara
-
Kopdes Merah Putih: Niat Mulia Memutus Rantai Tengkulak atau Proyek Ambisius yang Terburu-buru?
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Jakarta Menuju 500 Tahun, Pemprov Genjot Transportasi, Pendidikan, dan Penataan Permukiman
-
Indonesia Punya Potensi PLTS Besar, tapi Kenapa Baru Sedikit yang Terpakai?
-
JC Ditolak Kejagung, Kubu Sony Sonjaya Tetap Ancam Bongkar 'Dosa' Pejabat di Kasus MBG
-
Militerisasi Masuk Sektor Agraria, Konflik Lahan Naik 300 Persen pada 2025
-
Bukan Atas Nama Cinta, MUI Tegaskan Penganiaya YTR di Bandung Tak Boleh Lolos dari Hukuman Berat
-
Waduk di Dunia Diam-Diam Kehilangan Kapasitas Air: Sedimentasi Jadi Ancaman yang Sering Terabaikan
-
BEM UBK Ngaku Terima Uang, PSI Bela Gibran: Tak Mungkin Mas Wapres Main-main dengan Mahasiswa
-
Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?
-
Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas
-
Kritik Pedas Mobilisasi Siswa Batam Demi Program MBG: Menyesatkan dan Tak Mendidik