-
Serangan drone Iran di Selat Hormuz menghentikan evakuasi ribuan pelaut oleh PBB.
-
Insiden ini merusak kesepakatan damai AS-Iran dan memicu kenaikan harga minyak mentah global.
-
AS menolak keras pungutan biaya kapal yang diterapkan Iran di jalur perairan internasional.
Suara.com - Serangan drone teranyar menghantam sebuah kapal kargo di Selat Hormuz dan seketika mengacaukan jalur pelayaran global. Isu keamanan kemanusiaan pun mencuat karena insiden ini langsung menghentikan proses evakuasi ribuan pelaut yang terjebak di sana.
Langkah sepihak ini memicu ketegangan geopolitik baru yang sangat krusial. Peristiwa tersebut merusak stabilitas yang baru saja diupayakan melalui kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran seminggu lalu.
Dunia internasional kini mempertanyakan komitmen perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut. Ketidakpastian ini langsung direspons negatif oleh pasar global dengan kenaikan harga minyak mentah.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah PBB terpaksa mengambil keputusan berat akibat situasi yang tidak kondusif. Mereka membekukan sementara operasi penyelamatan yang sedang berjalan demi keselamatan kru kapal.
Rencana awal IMO adalah menyelamatkan ratusan kapal serta lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak sejak perang pecah akhir Februari. Namun, agresi terbaru ini merusak seluruh lini rencana matang yang baru berjalan beberapa hari.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, memberikan pernyataan resmi yang tegas mengenai prioritas keselamatan di lapangan.
“Saya selalu menegaskan kembali bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi hal yang utama,” ujar Dominguez, dikutip dari CNN Internasional, Jumat (26/6/2026).
“Oleh karena itu, untuk memastikan pendekatan yang terkoordinasi dan keselamatan navigasi, rencana evakuasi akan dihentikan sementara sampai diperoleh kejelasan lebih lanjut,” tambahnya.
Dominguez memaparkan bahwa kapal yang menjadi sasaran tembak sebenarnya bergerak di luar kerangka evakuasi resmi IMO. Namun, realitas di lapangan membuktikan bahwa risiko tinggi mengintai siapa saja yang melintasi kawasan itu tanpa pandang bulu.
Baca Juga: Iran dan Mesir Lawan Agenda LGBTQ di Piala Dunia 2026, Presiden FIFA Bilang Begini
Sebelumnya, lalu lintas komersial di Selat Hormuz sempat menunjukkan tren positif pasca-kesepakatan diplomatik Washington dan Teheran. Data pemantauan maritim mencatat ada sekitar 70 pelayaran komersial dalam sehari yang mayoritas memilih jalur aman menyisir pantai Oman.
Akan tetapi, stabilitas semu itu runtuh ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran mengeluarkan peringatan keras kepada publik. Mereka menegaskan kontrol penuh atas wilayah perairan tersebut dan menuntut kepatuhan dari seluruh kapal asing.
Lembaga Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk oleh Teheran bahkan menyatakan tidak ada jaminan keselamatan bagi pelanggar batas.
“Konsekuensi perjalanan di rute yang tidak sah akan menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal,” tulis lembaga tersebut melalui akun resmi X mereka.
Di sisi lain, kesepakatan 14 poin yang diinisiasi AS sebenarnya memberikan relaksasi ekonomi berupa pencabutan blokade pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Selat Hormuz seharusnya dibuka bebas tanpa pungutan biaya selama 60 hari ke depan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menentang keras upaya penarikan retribusi atau sekadar pengalihan istilah tarif oleh pihak Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Peserta KDMP Meninggal saat Latsarmil, Mensesneg: Baru Hari Kedua, Belum Berat, Diduga Riwayat Sakit
-
Mekanisme Keberatan Jadi Instrumen Perlindungan Dalam Sengketa Merek dan Hak Cipta
-
Negara Asia, Eropa Hingga Arab Berbondong-bondong Kirim Bantuan ke Venezuela, Ini Daftarnya
-
Firdaus Oiwobo Sudah Diperiksa! Polisi Dalami Kasus Penghinaan Tiyo Ardianto ke Presiden Prabowo
-
Prabowo Pantau Kasus 3 Peserta SPPI Tewas saat Latsarmil, Pemerintah Siapkan Evaluasi
-
Cegah Badai PHK Akibat Harga Gas, Dasco Pastikan Pemerintah Berpihak pada Buruh
-
Dulu Dicibir Kini Dipuji, Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen di Survei Kompas
-
Detik-detik Gempa Venezuela Mengguncang Pesawat di Bandara Simon Bolivar
-
Pendanaan MBG Dinilai Langgar Konstitusi, BEM UI Ajukan Amicus Curiae ke MK
-
BPKH Buka Rekrutmen Terbuka 2026: Sediakan 9 Posisi Strategis, Cek Syaratnya di Sini