- Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar menuai kritik atas pidatonya pada Munas dan Konbes NU di Bangkalan.
- Penulis HRM Khailur R Abdullah Sahlawy menyoroti absennya penyebutan sumber rujukan dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.
- Kritik juga mencakup klaim adanya kesalahan pelafalan, harakat, serta tata bahasa Arab dalam pidato berdurasi 16 menit tersebut.
Suara.com - Pidato berbahasa Arab yang disampaikan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Miftachul Akhyar, pada penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Bangkalan menuai kritik dari seorang penulis yang mengaku menyimak siaran langsung melalui kanal NU Online, HRM Khailur R Abdullah Sahlawy.
Dalam tulisannya, penulis mengaku menelaah isi pidato tersebut karena memiliki latar belakang pendidikan di MAN Program Keagamaan (MAN-PK) serta pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Denanyar.
Penulis menyatakan bahwa sebagian materi pidato, termasuk kutipan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri yang dipimpin secara adil, diduga berasal dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.
Menurutnya, selama penyampaian pidato berdurasi sekitar 16 menit 25 detik, tidak terdapat penyebutan sumber maupun nama kitab yang menjadi rujukan.
Berdasarkan pengamatannya, penulis mempertanyakan praktik tersebut dan menilai penyebutan sumber seharusnya dilakukan ketika mengutip karya ilmiah atau kitab.
Selain menyoroti aspek sumber rujukan, penulis juga mengkritisi pelafalan bahasa Arab dalam pidato tersebut.
Ia mengklaim menemukan sejumlah kekeliruan, yang terdiri atas kesalahan penyebutan angka, harakat, dan lafal.
Salah satu yang disoroti ialah penyebutan tahun 1448 Hijriah pada menit 2:01:47. Menurut penulis, susunan bilangan yang diucapkan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab sehingga menghasilkan makna yang berbeda dari tahun yang dimaksud.
Penulis juga menyebut terdapat empat kesalahan harakat, antara lain pada frasa badzlul wus'i, penggunaan kata wa mallakahum, bentuk jamak azimmat, penggunaan kata jaizan, serta bentuk kata aninha.
Menurutnya, bentuk-bentuk tersebut lebih sesuai dengan kaidah nahwu dan sharaf dibandingkan pelafalan yang disampaikan dalam pidato.
Baca Juga: Prabowo Sebut NU Ada di Mana-mana: Kabinet Merah Putih Banyak NU, Tak Pernah Kalah
Selain itu, ia mengklaim menemukan dua kesalahan lafal, yakni pada frasa yang menurutnya seharusnya berbunyi li hifzhil 'ibad dan al-umur al-sirriyyah, setelah mencocokkannya dengan teks dalam kitab Nasihatul Muluk.
Di akhir tulisannya, penulis berpendapat bahwa kekeliruan-kekeliruan tersebut tidak semestinya terjadi dalam pidato seorang Rais Aam PBNU, terlebih apabila materi yang dibacakan berasal dari naskah yang telah disiapkan.
Hingga tulisan tersebut beredar, belum terdapat tanggapan resmi dari Kiai Miftachul Akhyar maupun PBNU terkait kritik yang disampaikan penulis.
Versi ini telah diubah dari opini menjadi berita yang berimbang, memisahkan fakta, klaim, dan pendapat, serta menghindari penyajian tuduhan sebagai fakta.
Jika berita ini akan diterbitkan di media massa, sebaiknya juga dilengkapi dengan konfirmasi atau tanggapan dari pihak PBNU maupun Kiai Miftachul Akhyar agar memenuhi prinsip cover both sides dalam jurnalistik.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali