- Gus Yahya mengklarifikasi video viral terkait Muhammadiyah yang merupakan otokritik bagi internal pengurus PBNU saat halaqah di Kediri.
- PBNU merumuskan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan untuk memperkuat standar integritas moral dan kapasitas keilmuan bagi para kiai di Indonesia.
- Sidang Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Jawa Timur sempat diwarnai kesalahpahaman teknis mengenai lokasi Muktamar.
Suara.com - Media sosial baru-baru ini dihangatkan oleh perbincangan mengenai potongan video Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Dalam cuplikan yang beredar luas tersebut, Gus Yahya tampak menepuk dada sembari menyebut nama organisasi Muhammadiyah, sehingga memicu berbagai spekulasi negatif yang mengesankan adanya gesekan antardua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Dokumentasi utuh yang disiarkan oleh TV NU dan iNews membuktikan bahwa pernyataan itu merupakan bagian dari pidato komprehensif Yahya dalam sebuah halaqah yang membahas rancangan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan.
Lewat forum tersebut, Yahya sebenarnya sedang melontarkan otokritik tajam yang ditujukan langsung kepada internal warga Nahdliyin agar fokus melakukan evaluasi diri.
“Sekarang ini yang penting kitanya ini bagaimana. Kita itu mikir bagaimana bisa saingan sama Muhammadiyah, bagaimana bisa pondok ini punya duit sendiri. Kitanya ini, kiai-kiai ini bagaimana dulu. Kalau ini belum beres, percuma semuanya,” ujar Yahya sebagaimana dikutip pada Kamis (25/6/2026).
Ungkapan menepuk dada tersebut sejatinya dipakai sebagai retorika untuk menyentak kesadaran internal. Yahya mengingatkan agar jajaran kiai dan pengurus NU tidak terjebak pada ambisi perlombaan kelembagaan, ekspansi finansial, maupun ego sektoral dengan organisasi lain, sementara aspek paling fundamental yakni penguatan kapasitas serta integritas keulamaan justru terpinggirkan.
Dalam pemaparannya, Yahya mengulas kembali sejarah bahwa NU didirikan sebagai jam'iyah (organisasi) yang ditopang oleh pilar para ulama.
Sehingga, kualitas spiritual dan moralitas figur ulama menjadi fondasi utama penentu arah gerak organisasi. Ia menceritakan bagaimana ketatnya para pendiri NU terdahulu, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dan Syaikhona Kholil Bangkalan, dalam mendefinisikan kriteria seorang ulama karena besarnya tanggung jawab keilmuan yang harus dipikul di hadapan umat.
Yahya juga mengingatkan kembali keputusan historis Bahtsul Masail ulama Nusantara di Makkah pada era 1940-an, yang secara tegas mengharamkan pemberian gelar kiai atau ulama kepada individu yang tidak memenuhi prasyarat keilmuan mutakhir.
Baca Juga: Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran
Menurutnya, penyematan status keagamaan yang tidak proporsional hanya akan melahirkan kemudaratan di tengah masyarakat.
Guna menjawab tantangan zaman dan mengaburnya persepsi publik terhadap figur keagamaan, PBNU tengah merumuskan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan.
Dokumen ini dirancang untuk mencakup standar baku kepakaran ilmu, kedalaman rohani, integritas moral, serta tanggung jawab sosial-kebangsaan yang melekat pada diri seorang ulama.
Yahya juga menyoroti fenomena menurunnya partisipasi aktif para ulama di dalam dinamika keorganisasian struktural NU saat ini, termasuk ketidakmerataan sebaran pemikir keagamaan di wilayah luar Pulau Jawa.
Ia pun mengkritik sikap 'tawadu semu' dari pihak-pihak yang secara lisan enggan dipanggil kiai, namun di sisi lain tetap menikmati fasilitas, penghormatan, dan pengaruh sosial yang melekat pada status kepemimpinan agama tersebut.
Penyebaran video yang dipotong tersebut viral berdekatan dengan momentum pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.
Berita Terkait
-
Bukan Copet, Transjakarta Ungkap Fakta Penumpang Ngamuk di Koridor 5 yang Viral
-
Bukan Menolak Lirboyo, Ini Sebenarnya yang Terjadi Saat Munas di Ploso
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat
-
Prabowo ke Jawa Timur, Hadir Peresmian Jalan dan Penutupan Munas NU
-
Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Kapolri Jadi Anggota Tapak Suci, Dinilai Sebagai Langkah Perkuat Pemerintahan Prabowo-Gibran
-
6 Tahun Penantian Jakmania Berakhir! Persija Bakal Jamu Persib di GBK, Catat Tanggalnya
-
Karhutla Meluas 10 Hektare di Kobar, Asap Mulai Dekati Bandara Pangkalan Bun
-
Cara Dapat Cashback Tiket Whoosh Pakai BRImo
-
Polisi Dalami Sosok Febrio Adiono di Kasus Kematian Sutrimo
-
Karhutla Sumsel Tembus 909 Kejadian, Indikasi Luas Terdampak 664,87 Hektare
-
Lokasi Koperasi Desa Merah Putih Dinilai Aneh, Wamenkop Farida Farichah Ungkap Alasannya
-
Ekonom Bongkar Kesalahan Fatal Pemerintah, Bikin Ekonomi RI Sulit 'Saingi' Vietnam
-
Ulasan Salat in Secret: Kisah Keberanian Anak Muslim yang Menginspirasi
-
Jejak Kemerdekaan Indonesia Dibedah di Belanda, Sejarawan Kupas Luka 1945-1949