News / Nasional
Sabtu, 27 Juni 2026 | 15:05 WIB
HRM. Khallilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur
Baca 10 detik
  • Gus Lilur menyatakan kondisi internal PBNU saat ini sedang mengalami perpecahan hebat akibat konflik di antara para elit.
  • Polarisasi terjadi antara Kubu Sultan dan Kubu Kramat yang melibatkan para pemegang jabatan strategis di tingkat pusat.
  • Ketegangan berkelanjutan ini memicu kekhawatiran warga nahdliyin menjelang Muktamar ke-35 demi mengembalikan stabilitas organisasi yang pernah dicapai sebelumnya.

Suara.com - Kondisi internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menjadi sorotan bagi warga nahdliyin. Pertengkaran disebut terus berlangsung di tubuh organisasi Islam terbesar di dunia ini memicu keprihatinan mendalam.

Salah satu warga NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026) mengungkapkan, banyak warga NU yang menggambarkan situasi saat ini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan, bahkan disebut sebagai ambyar sampai "mudyar", sebuah istilah yang menggambarkan kondisi berantakan dan sulit dipersatukan kembali.

Menurut dia, dinamika konflik ini memunculkan polarisasi yang membagi elit PBNU ke dalam dua kelompok besar.

Pertama adalah "Kubu Sultan", yang diidentifikasi terdiri dari Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Bendahara Umum PBNU H Gudfan Arif Ghofur.

Di sisi berseberangan, muncul "Kubu Kramat" yang diisi oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.

"Ironi besar muncul karena konflik ini melibatkan para pemegang jabatan strategis yang secara organisatoris seharusnya saling bersinergi," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Katib Aam semestinya berjalan selaras dengan Rais Aam, sementara Ketua Umum idealnya bekerja harmonis dengan Sekjen.

Namun, realitas yang berkembang justru menunjukkan pertengkaran berkepanjangan yang kerap menjadi konsumsi publik, meskipun Islah Lirboyo sempat memberikan harapan akan berakhirnya ketegangan.

Rekam Jejak Konflik dari Tingkat Cabang

Baca Juga: Viral Ketua PBNU Singgung Muhammadiyah dan Marwah Kiai NU, Ini Faktanya

Penelusuran sejarah organisasi menunjukkan bahwa ketegangan di lingkungan NU seringkali melibatkan figur KH Miftahul Akhyar.

Gus Lilur menuturkan, karier struktural beliau dimulai saat menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya periode 2000–2005. Kala itu, ia berpasangan dengan KH Asep Saifuddin Chalim sebagai Ketua Tanfidziyah.

KH Asep dikenal sebagai sosok memiliki pengaruh yang besar sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang memiliki jaringan pendidikan luas di Jawa Timur.

Hubungan antara KH Asep dan KH Miftahul Akhyar di Surabaya dilaporkan tidak selalu harmonis karena perbedaan pandangan dalam mengelola organisasi.

Sebagai solusi untuk menjaga kondusivitas di tingkat cabang, KH Miftahul Akhyar kemudian didorong untuk menempati posisi yang lebih tinggi di tingkat provinsi sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.

Di tingkat wilayah, KH Miftahul Akhyar mendampingi KH Mutawakkil Alallah, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, yang menjabat Ketua PWNU Jawa Timur periode 2007–2018.

Load More