News / Nasional
Senin, 29 Juni 2026 | 14:04 WIB
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran di berbagai satuan TNI Indonesia.
  • Fraksi PDI Perjuangan DPR RI mendesak pemerintah menghentikan pelatihan tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan seluruh peserta.
  • Komnas HAM didorong segera melakukan investigasi independen serta pemantauan atas insiden yang mengancam hak asasi manusia dalam program tersebut.

Kelima peserta tersebut meninggal dunia saat mengikuti sesi Latihan Bela Negara atau Latsarmil.

Kepala BPSDM Pertahanan Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menegaskan bahwa sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta telah melalui tahapan seleksi kesehatan.

Meliputi tes laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, hingga kesehatan jiwa.

"Kelima peserta tersebut memiliki karakteristik dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan," ujar Ketut dalam konferensi pers di kantor Kemhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Berikut daftar lengkap dan kronologi singkat meninggalnya lima peserta tersebut:

1. Yonanda Muhammad Taufiq (Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja)

Pada 17 Juni 2026, almarhum mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan dengan berjalan kaki. Pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan almarhum mengalami penurunan kesadaran. Ia sempat dibawa ke Pos Kesehatan Satdik dan dirujuk ke RS dr. Noesmir Baturaja, namun pukul 18.30 WIB dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis cardiac arrest (henti jantung).

2. Anisa Muyassaroh (Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman)

Pada 18 Juni 2026, almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai mual. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter satuan, ia dirujuk ke RST dr. Hardjanto Balikpapan. Namun, kondisi terus memburuk dan pada pukul 19.00 WITA, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia akibat heat stroke

Baca Juga: Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa

3. Novia Rahmadhani Sihotang (Satdik Pusbahasa Kodiklatau)

Pada 22 Juni 2026, almarhumah mengeluhkan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Keesokan harinya ia dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan almarhumah menderita TB paru aktif. Pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia akibat Tuberkulosis (TB).

4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (Satdik Yon PARAKO 465)

Pada 25 Juni 2026, almarhum mengeluh sesak napas dan lemas. Kondisinya sempat membaik namun kembali menurun pada pukul 18.00 WIB. Almarhum dirujuk ke IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa dan menjalani perawatan ICU. Namun, pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, almarhum meninggal dunia akibat pneumonia dengan komplikasi medis.

5. Nola Dya Sari (Satdik C Kalimantan)

Pada 26 Juni 2026, almarhumah mengeluh sesak napas dan badan terasa panas. Ia dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Saat penanganan medis, almarhumah mengalami henti jantung dan tidak dapat diselamatkan. Pukul 21.03 WIB, almarhumah dinyatakan meninggal dunia.

Load More