News / Nasional
Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:42 WIB
Anggota Komisi I dari Fraksi PDIP TB Hasanuddin. [Suara.com/Dea]
Baca 10 detik
  • TB Hasanuddin meminta pemerintah mengevaluasi Latsarmil bagi peserta Program SPPI karena menyebabkan lima orang peserta meninggal dunia.
  • Kurikulum Latsarmil dinilai tidak relevan dengan tugas calon manajer koperasi yang seharusnya fokus pada aspek manajerial profesional.
  • Pemerintah didesak segera mengganti metode pelatihan fisik berisiko tinggi dengan pembinaan yang lebih relevan dan aman.

Suara.com - Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin, meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Program ini ditujukan bagi para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ia menegaskan bahwa pelatihan manajemen koperasi memang sangat penting dan harus dilanjutkan. Namun, ia menyoroti pendekatan militer yang diterapkan dalam proses pendidikan tersebut karena telah memakan korban jiwa.

Pernyataan ini muncul menyusul kabar duka meninggalnya salah satu peserta, Nola Dya Sari, saat menjalani Latsarmil. Berdasarkan data Kementerian Pertahanan, ia merupakan korban kelima dalam Program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

TB Hasanuddin menilai terdapat ketidaksesuaian antara materi pelatihan dengan output yang diharapkan. Menurutnya, tugas utama calon manajer KDKMP adalah mengelola koperasi secara profesional, memperkuat tata kelola usaha, dan memberdayakan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, kurikulum seharusnya lebih menitikberatkan pada aspek manajerial, kewirausahaan, dan akuntansi, bukan latihan fisik yang berisiko tinggi.

"Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka," tegas TB Hasanuddin kepada wartawan, Sabtu (27/6/2026).

Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta, pada Rabu (17/6/2026). ANTARA/HO-Humas TNI AU

Politikus senior ini berharap tragedi yang menelan lima nyawa tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki desain pelatihan SPPI.

Ia menekankan bahwa tujuan membangun sumber daya manusia (SDM) unggul tidak boleh dicapai dengan cara yang mengorbankan keselamatan para peserta.

Baca Juga: 5 Peserta SPPI Tewas, Kemhan Evaluasi Total Program Latsarmil

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menyampaikan duka cita mendalam atas bertambahnya jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Dengan adanya laporan terbaru, total peserta yang wafat kini berjumlah lima orang.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, dalam keterangan resminya menyampaikan bela sungkawa kepada seluruh keluarga korban Program SPPI calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

"Pertama-tama, atas nama Kementerian Pertahanan, panitia seleksi nasional, dan seluruh penyelenggara program SPPI, kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program yang sedang mengikuti latihan. Kami menyampaikan bela sungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga almarhum dan almarhumah," ujar Mayjen Ketut Gede dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Peserta kelima yang dilaporkan meninggal dunia adalah almarhumah Nola Dya Sari, yang tergabung dalam satuan pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan.

Load More