- Presiden ke-7 RI Jokowi melakukan ritual adat menginjak kepala kerbau saat melakukan kunjungan kerja di Provinsi Lampung.
- Aksi tersebut memicu perdebatan politik antara PDIP dan PSI terkait makna simbolis prosesi adat masyarakat Lampung tersebut.
- PSI mengkritik PDIP karena dianggap merendahkan budaya, sementara PDIP membantah adanya maksud politis dalam menanggapi ritual tersebut.
Suara.com - Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh potongan video yang memperlihatkan Presiden ke-7 RI, Jokowi, menjalani prosesi adat mesol kibau atau menginjak kepala kerbau dalam kunjungannya ke Provinsi Lampung.
Dalam momen yang menjadi viral tersebut, Jokowi tampak menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah, sebagai bagian dari ritual penyambutan atau penghormatan adat setempat.
Namun, apa yang seharusnya menjadi apresiasi terhadap kekayaan budaya nusantara, justru bergeser menjadi arena konflik politik baru antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Publik, melalui media-media sosial mengartikan prosesi Jokowi menginjak kepala kerbau itu bermakna politis terhadap partai lamanya, yakni PDIP.
PDIP melalui Andreas Hugo Pareira tampak santai menanggapi kegaduhan ini. Andreas mengaku memang tidak mendalami secara detail makna filosofis dari ritual di Lampung tersebut.
Namun, ia merasa heran mengapa prosesi itu dikaitkan sebagai simbol penghinaan terhadap partainya.
"Saya tak memahami adat istiadat Lampung. Terutama dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau," kata Andreas.
Bagi Andreas, jika ada pihak-pihak yang mencoba memaknai aksi Jokowi menginjak kepala kerbau sebagai cara untuk merendahkan PDIP, maka hal tersebut dianggapnya sebagai salah sasaran.
Ia menegaskan secara visual dan filosofis, lambang PDIP sangat berbeda dengan hewan yang digunakan dalam ritual tersebut.
Baca Juga: Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
"Ha...ha...ha... Maaf ya, lambang PDIP itu bukan kepala kerbau, tapi banteng moncong putih. Jadi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh si penginjak dimaknai simbolisasi menghina PDIP ya ha...ha...ha..." kata Andreas Pereira, Senin (29/6/2026).
Menanggapi hal itu, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, melontarkan kritik pedas. Ia menilai sikap PDIP yang menertawakan ritual tersebut, bukan sekadar kritik politik biasa, melainkan bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai luhur adat istiadat masyarakat Lampung.
"Saya kira itu menghina adat budaya. Itu kan prosesi adat budaya Lampung. Mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapi secara bijak," kata Ketua DPP PSI Bestari Baru, Senin (29/6/2026).
Bestari menegaskan, kehadiran Jokowi dalam prosesi tersebut merupakan bentuk penghormatan dari para pemangku adat Lampung.
Menurutnya, ritual menginjak kepala kerbau adalah sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh kerajaan-kerajaan adat di Lampung sebagai simbol penghormatan tertinggi kepada tamu agung atau pemimpin.
Lebih lanjut, Bestari juga menyentil pernyataan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira yang sebelumnya sempat mempertanyakan kapasitas dan kualitas Jokowi pasca-jabatan presiden.
Berita Terkait
-
Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
-
Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel
-
Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini
-
Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi
-
Ditanya Bro Ron Masih Kuat atau Tidak di Lampung, Jawaban Singkat Jokowi Bikin Heran
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali
-
Demi Jam Terbang, Persib Bandung Resmi Pinjamkan Henhen Herdiana ke PSM Makassar
-
Bejad, Oknum Guru Ngaji di Kota Serang Asusila Gadis Berusia 9 Tahun