News / Nasional
Senin, 29 Juni 2026 | 15:02 WIB
Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer. (Suara.com/Syahda)
Baca 10 detik
  • Program Latsarmil SPPI di bawah Kemenhan bertujuan membentuk karakter manajer koperasi dengan menanamkan disiplin, kepemimpinan, serta profesionalisme bagi peserta.
  • Sebanyak lima peserta program SPPI meninggal dunia di berbagai lokasi pelatihan setelah sebelumnya mengalami gangguan kesehatan selama kegiatan.
  • Kematian beruntun peserta memicu desakan dari DPR dan berbagai pihak agar metode pelatihan fisik tersebut segera dievaluasi total.

Suara.com - Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang diproyeksikan menjadi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi sorotan setelah lima pesertanya meninggal dunia.

Korban terbaru adalah Nola Dya Sari, peserta dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Seperti empat peserta sebelumnya, Nola sempat mengeluhkan gangguan kesehatan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan publik. Apa sebenarnya program SPPI? Mengapa calon pengelola koperasi harus mengikuti latihan dasar kemiliteran? Dan bagaimana kronologi meninggalnya para peserta?

Apa Itu SPPI?

SPPI atau Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia merupakan program yang berada di bawah Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Program ini dirancang untuk menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui pembekalan kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta pembentukan karakter.

KDMP merupakan program pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi di desa, sedangkan KNMP memiliki fokus serupa di sektor kelautan dan perikanan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Mengapa Harus Mengikuti Latihan Dasar Militer?

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa latihan bela negara merupakan bagian dari pembentukan karakter peserta SPPI.

Baca Juga: Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan

Menurutnya, pelatihan tersebut bertujuan menanamkan disiplin, integritas, kepemimpinan, profesionalisme, semangat gotong royong, nasionalisme, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat.

"Kami kembali menegaskan bahwa latihan bela negara manajerial merupakan tahapan pembentukan karakter program SPPI yang bertujuan menanamkan disiplin, integritas, kepemimpinan, semangat gotong royong, profesionalisme, nasionalisme, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat," ujar Ketut.

Ia menegaskan, latihan di lingkungan militer bukan dimaksudkan untuk membentuk prajurit.

"Program ini bukan dimaksudkan untuk membentuk prajurit, melainkan membentuk calon pengelola Koperasi Desa, Kelurahan Merah Putih, dan Kampung Nelayan Merah Putih yang memiliki karakter kuat, berintegritas, disiplin, mampu bekerja sama, dan siap melaksanakan tugas pengabdian."

Senada, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan latihan dasar kemiliteran hanya menjadi salah satu tahapan pendidikan.

Menurutnya, peserta tetap akan memperoleh pelatihan kompetensi manajerial sesuai tugas yang akan diemban.

"Lho itu (manajerial) kan bagian dari proses pelatihannya kan. Nanti kan kalau mengenai kompetensinya tetap ada juga pelatihan," kata Prasetyo.

Infografis Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer. (Suara.com)

Kronologi Lima Peserta Meninggal

Meski dirancang sebagai pembentukan karakter, pelaksanaan Latsarmil justru diwarnai meninggalnya lima peserta dalam waktu berdekatan.

Berdasarkan penjelasan Kementerian Pertahanan, seluruh korban sempat mengalami gangguan kesehatan sebelum meninggal.

1. Yonanda Muhammad Taufik

Peserta dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja ini mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan pada 17 Juni 2026.

Setelah berjalan kaki bersama peserta lain, ia mengalami kondisi darurat dan dirujuk ke RS dr. Noesmir Baturaja.

Dokter menyatakan korban meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.

2. Anisya Musyarofah

Peserta dari Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan ini mengeluhkan sesak napas dan mual saat mengikuti pembelajaran pada 18 Juni 2026.

Meski telah mendapat perawatan intensif di rumah sakit, korban meninggal akibat heat stroke.

3. Novia Ramadani Sitorus

Peserta dari Satdik Pusbahasa Kodiklat TNI AU datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan demam, batuk berdahak, dan sesak napas.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan korban menderita tuberkulosis (TBC) paru aktif.

Novia meninggal dunia pada 23 Juni 2026.

4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan

Peserta dari Yonparako 465 Halim Perdanakusuma sempat mengeluhkan sesak napas dan tubuh lemas.

Meski kondisinya sempat stabil, ia kembali mengalami penurunan kesehatan dan meninggal akibat pneumonia disertai komplikasi medis.

5. Nola Dya Sari

Korban terakhir mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas tanpa keluhan kesehatan.

Namun pada sore hari, ia mengalami sesak napas dan demam sebelum dirujuk ke dua rumah sakit di Singkawang.

Korban akhirnya meninggal setelah mengalami henti jantung.

Kritik terhadap Latihan Dasar Militer

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai pelatihan militer bagi calon manajer koperasi sejak awal merupakan kebijakan yang keliru.

Menurutnya, tugas calon pengelola koperasi lebih membutuhkan kemampuan manajemen usaha daripada latihan fisik bergaya militer.

"Yang diperlukan adalah pelatihan keterampilan manajemen usaha dan komunikasi yang dialogis, bukan pelatihan militer yang berbasis kekuatan fisik dan komunikasi monologis."

Usman juga mengingatkan bahwa militerisasi ruang sipil berpotensi menghidupkan kembali praktik dwifungsi militer.

"Mewajibkan latihan militer bagi 35 ribu warga sipil calon pengelola koperasi adalah sebuah kekeliruan fatal yang harus segera dihentikan," katanya.

Menurutnya, sistem koperasi justru dibangun berdasarkan prinsip demokrasi, bukan garis komando seperti dalam organisasi militer.

Psikolog Forensik Minta Investigasi Mendalam

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai rangkaian kematian tersebut perlu diusut secara menyeluruh.

Ia menyebut terdapat tiga kemungkinan penyebab kematian, yakni kematian alami, kecelakaan, atau akibat perbuatan orang lain (homicide).

"Kematian akibat perbuatan diri sendiri (suicide) boleh dikesampingkan. Tersisa tiga: kematian alami, kematian akibat kecelakaan, atau kematian akibat perbuatan orang lain."

Menurut Reza, kecil kemungkinan kematian beruntun dalam populasi yang sama seluruhnya merupakan kematian alami.

Ia meminta investigasi dilakukan terhadap setiap korban secara individual.

Jika ditemukan unsur homicide, kata dia, perkara harus ditingkatkan ke tahap penyidikan pidana.

"Perkiraan saya, dalam situasi latihan sedemikian rupa, mens rea tertinggi adalah recklessness (kecerobohan) atau sebatas negligence (kelalaian)," ujar Reza.

Infografis Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer. (Suara.com)

DPR Minta Skema Pelatihan Dievaluasi

Sejumlah anggota DPR juga meminta pemerintah mengevaluasi Latsarmil bagi peserta SPPI.

Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menilai materi pelatihan tidak sejalan dengan tugas calon manajer koperasi.

Menurutnya, peserta seharusnya lebih banyak dibekali kemampuan manajemen, kewirausahaan, dan akuntansi dibanding latihan fisik berisiko tinggi.

"Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka," ujar Hasanuddin.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah mengusulkan agar peserta wajib menjalani pemeriksaan kesehatan independen sebelum mengikuti kegiatan fisik.

Menurutnya, pembentukan karakter tetap penting, tetapi keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelatihan.
 

Load More