News / Nasional
Senin, 29 Juni 2026 | 20:41 WIB
Gunung Merapi adalah salah satu gunung paling terkenal di Indonesia dan terkenal sebagai gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, dengan ketinggian mencapai 2.930 meter. (Pexels)
Baca 10 detik
  • Balai TNGM menegaskan pendakian Gunung Merapi tetap ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan demi alasan keselamatan masyarakat.
  • Penutupan dilakukan karena status aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga sejak tahun 2020.
  • Masyarakat diimbau tidak terpengaruh ajakan pendakian di media sosial karena area tersebut rawan awan panas dan guguran.

Suara.com - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menegaskan bahwa pendakian Gunung Merapi hingga saat ini masih ditutup sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul maraknya konten di media sosial yang bermuat ajakan masyarakat untuk kembali mendaki gunung api tersebut.

Kepala Balai TNGM, T. Heri Wibowo, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan untuk mematuhi rekomendasi dari instansi yang berwenang sekaligus mengutamakan keselamatan masyarakat.

"Pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," kata Heri dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Heri menjelaskan, kegiatan pendakian Gunung Merapi sudah tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 lalu setelah status aktivitas gunung meningkat dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).

Selanjutnya, pada 5 November 2020, status Merapi kembali dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini masih berlaku berdasarkan rekomendasi yang tertuang tadi Surat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nomor:523/45/BGV.KG/2020.

"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," ujarnya.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19-25 Juni 2026 yang diterbitkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan karakter erupsi efusif.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Baca Juga: Balai TNGM Catat 60 Pendaki Ilegal Gunung Merapi dalam Setahun, Haus Validasi-FOMO Jadi Pemicu

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya dan tenggara meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km dari puncak, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

"Radius 3 Km dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk," ujarnya.

Balai TNGM juga mengingatkan bahwa jalur pendakian melalui New Selo menuju puncak berada dalam area yang berisiko tinggi.

Jalur tersebut meliputi pintu gerbang, Pos I, Pos II hingga Pasar Bubrah yang dinilai membahayakan keselamatan pendaki apabila tetap diakses selama status Siaga masih berlaku.

Meski demikian, TNGM menyampaikan masih terdapat sejumlah jalur wisata alam berupa soft trekking yang berada di kawasan aman.

Salah satunya Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang yang lokasinya berada sekitar 3,3 kilometer dari Pos IV atau pos terakhir jalur pendakian.

"Masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG," tandasnya.

Melalui siaran pers tersebut, Kepala Balai TNGM mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh ajakan maupun informasi di media sosial yang mengesankan jalur pendakian telah dibuka.

Load More