- Kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan mayoritas pasien terdiagnosis saat memasuki stadium lanjut.
- Lemahnya upaya skrining serta keterbatasan akses fasilitas dan pengobatan inovatif menghambat optimalisasi hasil terapi bagi pasien.
- Peningkatan edukasi risiko, deteksi dini melalui LDCT, dan pemerataan akses terapi sangat krusial menekan angka kematian.
Persoalan akses obat inovatif juga menjadi perhatian BPJS Watch. Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, menilai kebijakan kesehatan perlu lebih berorientasi pada kebutuhan pasien, bukan hanya mempertimbangkan besarnya anggaran.
Menurutnya, investasi pada obat-obatan modern justru dapat meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus menekan biaya kesehatan dalam jangka panjang karena penyakit dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat.
"Kebijakan kesehatan seharusnya menempatkan manusia sebagai fokus utama. Dengan akses terhadap obat dan teknologi kesehatan yang lebih modern, penyakit bisa ditangani lebih dini sehingga kebutuhan pembiayaan pada stadium lanjut juga dapat ditekan," katanya.
Prof. Laksmi menambahkan bahwa ketepatan waktu pemberian terapi juga sangat menentukan hasil pengobatan.
Pada stadium awal, pasien masih memiliki peluang sembuh melalui tindakan pembedahan.
Sebaliknya, jika kanker sudah memasuki stadium lanjut, tujuan terapi umumnya berubah menjadi memperpanjang harapan hidup dan menjaga kualitas hidup pasien.
Karena itu, upaya menekan angka kematian akibat kanker paru tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan.
Edukasi mengenai faktor risiko, penerapan gaya hidup sehat, pengendalian polusi udara, perlindungan dari paparan zat berbahaya di lingkungan kerja, hingga penguatan regulasi pengendalian tembakau perlu berjalan secara bersamaan.
Di saat yang sama, pelaksanaan skrining bagi kelompok berisiko tinggi dan pemerataan akses terhadap terapi kanker terbaru juga menjadi pekerjaan rumah yang perlu dipercepat.
Baca Juga: Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
Dengan diagnosis yang lebih dini dan pilihan pengobatan yang semakin luas, peluang pasien untuk hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang lebih baik pun dapat meningkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9