-
Pemerintah Brasil memperpanjang subsidi diesel lebih lama dibanding bensin guna mencegah guncangan harga pasar.
-
Menteri Bruno Moretti memastikan pemotongan anggaran belanja akan diambil jika target fiskal negara terancam.
-
Pemerintahan Presiden Lula da Silva masih membekukan anggaran belanja demi meredam besarnya tekanan pengeluaran wajib.
Suara.com - Pemerintah Brasil memutuskan untuk menahan pencabutan subsidi bahan bakar diesel lebih lama ketimbang bensin.
Langkah hati-hati ini diambil guna menghindarkan pasar domestik dari guncangan harga yang ekstrem dan ancaman kelangkaan pasokan.
Menteri Perencanaan dan Anggaran Brasil, Bruno Moretti, menegaskan bahwa strategi ini merupakan respons adaptif terhadap dinamika ekonomi global.
Penurunan harga minyak mentah dunia belakangan ini dinilai belum sepenuhnya aman untuk diserap langsung oleh konsumen dalam negeri.
Menurut Moretti, pengurangan subsidi secara perlahan sangat krusial bagi keseimbangan neraca keuangan negara yang sedang ditargetkan.
Biaya penunjang kebijakan ini akan ditutupi oleh penerimaan minyak luar biasa yang segera disetorkan ke kas negara.
Pendekatan bertahap ini sengaja dirancang untuk memberikan ruang bernapas bagi para pelaku industri transportasi dan logistik.
Moretti menyatakan bahwa kepastian pasokan menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan dalam proses transisi energi ini.
"Pasar diesel memiliki prediktabilitas yang diperlukan untuk beroperasi dan memasok masyarakat," kata Moretti dalam wawancara khusus dikutip dari Reuters, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Flashback 1998: Norwegia Pernah Tumbangkan Brasil, Bakal Terulang di Piala Dunia 2026?
Di sisi lain, kebijakan berbeda diterapkan pada bahan bakar bensin yang subsidinya akan segera dihilangkan total.
Insentif sebesar 0.44 real Brasil per liter untuk bensin bakal dihapus dalam hitungan hari ke depan.
Moretti menjelaskan bahwa pencabutan subsidi bensin sengaja dirancang dalam garis waktu yang jauh lebih pendek.
Kontras dengan bensin, subsidi diesel yang mencapai 1.12 real per liter membutuhkan penanganan yang jauh lebih sensitif.
Pemerintah khawatir jika pemotongan dilakukan tergesa-gesa, lonjakan harga yang sangat tajam tidak akan terhindarkan.
Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dunia pasca-kesepakatan damai AS-Iran yang belum sepenuhnya dirasakan konsumen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!
-
Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Menhut Raja Juli Soal Pertemuan dengan Bupati Kuansing: Amplop Dikembalikan, Tak Ada Pelepasan Hutan
-
Ibu Hamil Tewas Tertembak di Papua, DPR Minta Diusut Transparan
-
Said Didu Blak-blakan: Sebut Safari Politik Jokowi Disokong Oligarki hingga Para Koruptor
-
Buntut Kasus dr Icha, Kemenkes Izinkan Nakes Stop Layanan Jika Terintimidasi
-
Tapir Disembelih dan Dikonsumsi di Mesuji, Pegiat Sebut Edukasi Konservasi Masih Mandek
-
Riset: Hutan Mungkin Tak Lagi Menyerap Karbon Sebanyak yang Kita Perkirakan, Mengapa?
-
Nasib Pedagang Buah Kramat Jati: Niat Cari Nafkah Malah Dimaki Perwira Polisi Gegara 'Ngeyel'